Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Capek

image-profil

image-gnews
Warga menggunakan hak politiknya ketika mengikuti Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilu 2019 di TPS 02, Pasar Baru, Jakarta, Sabtu 27 April 2019. Sebanyak 11 TPS di DKI Jakarta melaksanakan pemungutan suara ulang. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Warga menggunakan hak politiknya ketika mengikuti Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilu 2019 di TPS 02, Pasar Baru, Jakarta, Sabtu 27 April 2019. Sebanyak 11 TPS di DKI Jakarta melaksanakan pemungutan suara ulang. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Iklan

Reza Indragiri Amriel
Psikolog Forensik

Pemilihan umum adalah episode mutlak dalam berdemokrasi. Perhelatan itu dibingkai sebagai sesuatu yang penuh kesukacitaan. Simak saja lagu Pemilihan Umum karya Mochtar Embut: Pemilihan Umum telah memanggil kita. Seluruh rakyat menyambut gembira.

Pada 1953, lagu dengan judul serupa, yang diciptakan oleh komposer berbeda, juga memuat lirik bak cahaya berpendar-pendar. "Pemilihan Umum. Ke sana beramai. Marilah, marilah saudara-saudara," demikian gubahan Marius Ramis Dajoh, Ismail Marzuki, dan GWR Tjok Sinsu.

Tapi seberapa jauh orang menyangka bahwa hari pesta demokrasi ternyata menghadirkan tekanan batin dan teruk badan tersendiri? Itu terlihat setidaknya dalam dua pemandangan seusai pemilu serentak 17 April 2019.

Sebagaimana masyarakat Inggris yang mengalami peningkatan kecemasan sejak referendum Brexit, The American Psychological Association juga menemukan bahwa warga Amerika Serikat menderita lonjakan kecemasan sejak 2016/2017. Berkisar pada masa pemilihan presiden dan ketika Donald Trump gencar meluncurkan bom-bom verbalnya, dari situlah muncul istilah post-election stress disorder (PESD). Gejalanya antara lain perasaan khalayak luas bahwa masa depan mereka menjadi tak tentu arah, pupusnya rasa aman, keengganan untuk bersosialisasi, dan ketidakberdayaan.

Boleh jadi, seusai pemilu yang disusul polemik ihwal quick count, exit poll, dan real count, masyarakat Indonesia juga akan mengalami masalah yang sama. Saya pribadi, misalnya, walau bukan politikus, merasa betapa tenaga tergerus ledakan narasi yang deras berseliweran. Sisi kiri kepala, dari lubang tempat bertenggernya bola mata hingga tengkuk, juga sudah terasa nyut-nyutan. Nyeri.

PESD bertambah parah karena gelombang berita pemilihan presiden via media sosial dan aplikasi pesan semakin menggila. Begitulah yang terjadi di Indonesia, sebagaimana di Amerika. Buktinya, 40 persen warga dewasa Amerika menyatakan diskusi politik di media sosial membuat mereka stres. Dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan media sosial, kalangan pengguna media sosial juga mengakui bahwa pemilu membuat mereka lebih kalut.

Selain itu, anak-anak ternyata tak imun dari PESD, baik sebagai dampak langsung maupun tidak langsung pemilu. Contoh, terjadi lonjakan 35 persen pada anak-anak Inggris yang membutuhkan bantuan profesional akibat dihantui oleh isu-isu pasca-referendum.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apa boleh buat, angka final hasil pemilu yang resmi masih belum ketahuan. Tapi ketidakpercayaan antarwarga tampaknya sudah menjadi kepastian. Barangkali di situlah letak akar PESD.

Calon wakil presiden Sandiaga Salahudin Uno dikabarkan sakit karena kecapekan. Wajar sebenarnya. Kampanye di ribuan lokasi boleh jadi mengorbankan keteraturan tidur, pola makan, dan kebiasaan-kebiasaan positif lainnya. Tubuh pun akhirnya tidak lagi mau diajak berkompromi. Enough is enough. Jatuh sakitlah si empunya badan. Sandi yang sakit dengan wajahnya yang kuyu dan ketidakhadirannya dalam beberapa kesempatan itu langsung "digoreng". Isu yang diembus adalah perpecahan di kubu 02.

Sandi, yang ternyata juga bisa sakit, sebenarnya tidak berbeda dengan Hillary Clinton. Kontestan dari Partai Demokrat itu bahkan terkapar dan harus menjalani bed rest pada masa pemilihan Presiden Amerika 2016. Konsekuensinya runyam: Trump mempertanyakan ketahanan dan kelayakan Hillary, baik secara fisik maupun mental, untuk menduduki kursi presiden negara adidaya itu.

Kondisi lebih serius dialami oleh Franklin D. Roosevelt. Ketika Roosevelt sibuk berkampanye, dokternya, Admiral Ross McIntire, berkata kepada media bahwa Roosevelt dalam kondisi kesehatan yang prima dan tidak ada gangguan organ sama sekali. Faktanya, sebagai perokok kelas berat, FDR mengalami tekanan darah tinggi, atherosclerosis, penyakit jantung koroner, angina pectoris, dan gagal jantung kongestif.

Presiden Ronald Reagan juga memiliki masalah kesehatan serius yang ditutup-tutupi sedemikian rupa semasa berkuasa. Divonis mengidap Alzheimer pada 1994, Reagan sebenarnya telah memperlihatkan tanda-tanda yang nyata bertahun-tahun sebelumnya. Sekumpulan peneliti dari University of Arizona menangkap gelagat itu. Tapi, bagi sebuah negara yang tengah berseteru dengan Uni Soviet, tidak boleh ada kabar yang bocor tentang kondisi kesehatan Presiden Amerika Serikat yang sebenarnya.

Gangguan psikologis serius juga diderita oleh sejumlah pemimpin besar. Setelah Perdana Menteri Inggris Winston Churchill mangkat, dokter pribadinya, Charles Wilson, menyatakan bahwa kliennya mengidap depresi serius. Churchill mengatasi depresinya dengan menenggak wiski dan mengepulkan cerutu. Ia terkena serangan jantung, pneumonia, dan stroke berulang kali.

Di Tanah Air ada Bung Karno. Pada 1965, sempat terjadi kegemparan karena Bung Karno dikabarkan muntah-muntah dan jatuh pingsan beberapa kali. Soebandrio menyatakan Bung Karno sebatas masuk angin. Tapi tim dokter dari Cina menyatakan Pemimpin Besar Revolusi itu akan "lewat" jika terlambat ditangani.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

10 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

24 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

25 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

25 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

26 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

32 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

50 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

24 April 2024

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024