Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Demokrasi Kita Tidak Mati

image-profil

image-gnews
WNI di Malaysia mencelupkan jarinya ke dalam tinta usai menggunakan hak suaranya di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu, 14 April 2019. ANTARA/Rafiuddin Abdul Rahman
WNI di Malaysia mencelupkan jarinya ke dalam tinta usai menggunakan hak suaranya di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu, 14 April 2019. ANTARA/Rafiuddin Abdul Rahman
Iklan

M. Alfan Alfian
Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional

Menjelang pemilihan umum serentak 17 April 2019, saya merasakan lonjakan antusiasme masyarakat berpemilu di luar negeri begitu mengagumkan. Di Malaysia, kertas-kertas suara ditemukan telah tercoblos di sebuah ruko. Masalah ini terus diselidiki dan tak mempengaruhi proses pemilu. Di dalam negeri, antusiasme juga begitu tinggi. Ini semua potret demokrasi optimistis.

Di tengah suasana demikian, saya terngiang fenomena demokrasi pesimistis pada pengalaman Amerika Serikat setelah terpilihnya Donald Trump dan Inggris pasca-Brexit. Saya baca kembali Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, How Democracies Dies (2018), dan David Runciman, How Democracy Ends (2018). Di Amerika, demokrasi terluka ketika semangat konstitusinya yang inklusif tengah terbajak sehingga, bagi Levitsky dan Ziblatt, demokrasinya harus diselamatkan. Di sisi lain, Runciman membayangkan, ketika benturan manusia dan kecerdasan mesin semakin tak terelakkan dalam praktik politik ke depan, kebaikan-kebaikan demokratis harus tetap menjadi referensi.

Levitsky dan Ziblatt maupun Runciman sesungguhnya tak bermaksud membuat pendukung demokrasi pesimistis. Namun ada pekerjaan besar yang sangat menantang ketika demokrasi harus diselamatkan dari ancaman alamiahnya pada era digital, yakni munculnya tendensi neo-fasis dan variannya. Demokrasi harus dicegah agar tidak merosot ke kondisi yang didominasi sentimen eksklusif-primordial. Demokrasi tetap harus inklusif dan berwarna, kendati kontestasi populer tidak serta-merta mampu menjawabnya karena ia tetap memberi tempat bagi hadirnya politisasi identitas. Kecenderungan demikian bahkan bisa hadir di negara-negara maju.

Merujuk refleksi Levitsky dan Ziblatt maupun Runciman, kita justru optimistis terhadap demokrasi kita yang tidak mati dan belum berakhir. Di Indonesia, proses pemilu serentak berlangsung untuk pertama kali dalam sejarah. Tahun 2019 merupakan pertaruhan demokrasi yang disambut gegap gempita. Kemajuan teknologi informasi nyaris membuat semua rakyat berpartisipasi secara ekspresif dalam politik. Apalagi ketika pola kontestasi pemilihan presiden 2019 mengulangi 2014, ketika dua kandidat bertarung ulang. Jokowi kembali melawan Prabowo dengan calon wakil presiden masing-masing yang berbeda. Formasi partai pendukung berubah, kendati cenderung serupa.

Melalui peranti teknologi informasi yang canggih, benturan politik lazim terjadi secara terbuka dalam masyarakat. Suasana rusak ketika hoaks, ujaran kebencian, dan sejenisnya turut mengemuka. Dalam proses literasi digital yang masih terbatas, banyak yang terjebak dalam situasi konflik "menyakitkan" karena terbawa perasaan. Penajaman konflik mengemuka ketika elite aktif mendinamisasi. Ikhtiar penegakan hukum terhadap ujaran kebencian memang segera meninggalkan pelajaran penting di tengah nuansa kontestasi politik yang tajam. Secara umum, dapat dicatat, meskipun selama ini "kekerasan-kekerasan verbal" marak di media sosial, di ranah nyata, kontestasi berjalan nirkekerasan fisik yang meluas.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tidak adanya kekerasan fisik yang meluas dalam dinamika demokrasi semakin menunjukkan indikator keberhasilannya. Selama dalam bingkai nirkekerasan, dinamika apa pun lazim saja dalam demokrasi. Dinamika justru mampu mendorong maraknya partisipasi segenap lapisan masyarakat yang bersemangat pemilu. Otomatis pula mereka semakin berkepentingan terhadap pemilu yang berjalan damai, jujur, adil, dan demokratis.

Semangat saling serang di media sosial dan ekspresi kampanye yang saling jorjoran secara masif sebagai unjuk kekuatan sesungguhnya menyisakan pula semangat saling menjaga keberhasilan pemilu. Setelah konsistensi berdemokrasi ditunjukkan melalui debat-debat antarkandidat yang disimak luas masyarakat, hadir kepentingan kolektif bahwa tidak ada yang boleh mencurangi pemilu. Masyarakat juga semakin waspada untuk tak mudah diadu domba hoaks.

Di tengah iklim ejek-mengejek di media sosial, di dunia nyata terasa semangat persatuan "cebong" dan "kampret" menggelora. Ini modal penting bagi normalisasi pasca-pemilu. Yang utama, pemilu harus diselamatkan dari kegagalannya. Politik harus berjalan normal kembali pasca-pemilu. Di ranah elite dan kelembagaan, niscaya cepat tertata ulang konstelasinya dalam bingkai sistem pemerintahan presidensial. Namun masalah dampak residu konflik di level menengah dan bawah tetap tanggung jawab utama mereka. Pihak petahana kelak tetap harus mendapat kritik proporsional dari "kelompok pengimbang".

Perbaikan demokrasi terjadi sejak Pemilu 1999 hingga dewasa ini setelah terbenam hampir setengah abad sejak pemilu demokratis 1955. Dalam tinjuan perilaku pemilih, merujuk Saiful Mujani, R. William Liddle, dan Kuskridho Ambardi dalam Kaum Demokrat Kritis, Analisis Perilaku Pemilih Indonesia Sejak Demokratisasi (2019), pemilih Indonesia semakin berpengalaman sebagai warga negara kritis. Mereka percaya pada demokrasi sebagai bentuk ideal, namun tetap sangat kritis menilai jalannya demokrasi. Dalam pemilu kali ini, semua optimistis sukses seraya menjaga demokrasi agar tidak mati dan berakhir di Indonesia.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

7 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

21 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

22 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

22 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

23 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

29 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

47 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

57 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024