Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Sang Khalif

image-profil

Oleh

image-gnews
Ilustrasi masjid. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh
Ilustrasi masjid. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh
Iklan

Di Najaf, sejarah dibangun dari kehilangan. Pada suatu hari di tahun 1982 saya bersembah yang asar di Masjid al-Imam Ali, masjid utama kota itu, di mana khalif ke-4 dimakamkan, dua hari setelah ia menanggung luka pedang seorang asasin. Duduk menatap mihrab, saya merasa masa silam lekat di aura ruang itu. Di bawah kubah besarnya yang berkilau emas, lewat gerbang-gerbangnya yang tinggi lebar, sebidang luas interior dihiasi mosaik warna biru kehijauan. Dan di ruang dalam, sebuah makam berteras persegi ditempati tiga pusara….

Apa yang kita alami ketika seorang khalif terbunuh?

Pada suatu pagi di hari ke-19 bulan Ramadan tahun 40 Hijriah atau 26 Januari 661, Ali bin Abu Thalib kemenakan dan menantu Rasulullah, pemimpin yang menghalangi ambisi Mu’awiyyah, Gubernur Suriah waktu itu jadi imam dalam salat subuh di Masjid Kota Kufah. Tiba-tiba seseorang melangkah dari saf di belakangnya dan menebaskan pedang beracun ke jidat pemimpin umat itu. Sang Khalif roboh. Segera ia dibawa ke rumah kediamannya, tapi usaha mengobatinya hanya menolongnya dua hari. Pada usia 62 tahun, Ali wafat sebagai khalif ke-3 yang tewas dibunuh. Jenazahnya diangkut dengan unta ke luar Kufah. Beberapa kilometer ke arah barat, Ali dimakamkan di sebuah tempat rahasia, yang kemudian jadi awal Kota Najaf.

Konflik kekerasan yang berkecamuk di kalangan muslimin waktu itu mengharuskan jenazah itu tak diketahui….

Seorang khalif wafat, tubuhnya dicederai, dan jenazahnya tak berbekas selama kurang-lebih satu abad. Kita tak tahu bagaimana umat Islam masa itu menerima itu. Tapi jelas bahwa terjadi sebuah retakan antara theologi dan politik: tiap kali seorang khalif dibunuh, kita tersadar bahwa ia hanya sosok simbolis dari sesuatu yang dibayangkan utuh, tapi sebenarnya tidak. “Ukhuwah” adalah sesuatu yang antah-berantah. Sosok umat tak pernah satu. Perpecahan antara Syiah dan Sunni hanyalah salah satu indikasi sebuah trauma berabad-abad.

Theologi pernah membentuk imajinasi tentang bangunan politik yang koheren. Sang khalif berada di pusatnya, menghubungkan dunia yang tampak dengan yang tak tampak, yang sekuler dan yang ilahi. Orang pun terpesona dan teperdaya sampai kemudian pusat stabilitas itu ditoreh, dihancurkan, seperti yang terjadi di Kufah di bulan Ramadan itu.

Hukum dan iman ternyata tak seperkasa yang semula diduga. Patokan-patokan guncang. Otoritas bukan sesuatu yang niscaya tak dibantah dan langgeng. Bahkan tubuh sang Khalif raib secara fisik dan simbolis.

Saat itu sebenarnya tampak, kekuasaan dan kekhalifahan pada dasarnya sebuah ruang yang terbuka. Betapapun kita menghormatinya, seseorang tak secara a priori berhak jadi pengisinya. Sang khalif, yang memegang dan menjalankan kekuasaan itu, tak lain tak bukan oknum yang fana, yang terbatas, yang bisa mencapai tempat itu berkat kekerasan, kepintaran, dan keberuntungan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Yang terakhir ini yang juga disebut sebagai “nasib” sering dianggap sebagai campur tangan langit, tapi sebenarnya tidak: nasib, yang selamanya teka-teki, lebih menunjukkan ketidakpastian. Ketika di abad ke-15 di Italia Machiavelli menyebutnya sebagai Fortuna, ia sebenarnya menegaskan sebuah wawasan modern tentang kekuasaan: sesuatu yang bisa datang dan pergi.

Wawasan modern yang seperti itu tentu saja tak tumbuh dengan mudah. Kekuasaan, antara kelihatan dan tidak, tak menghilang bersama raja yang dikuburkan tanpa nisan. Kekuasaan tetap seperti hantu yang membayangi kehidupan sosial, tapi ia tak diwakili siapa pun dan apa pun sekali dan selamanya. Ketika Raja Prancis dipancung lehernya di puncak Revolusi Prancis di abad ke-18, ada yang terungkap. Sementara di abad ke-12 di Inggris Raja Richard I memaklumkan moto Dieu et mon droit, “Tuhan dan hak aku” dan dengan demikian mengklaim sebuah wewenang yang pasti di Paris, ketika Louis XVI direnggutkan hidupnya dengan pisau guillotine, yang pasti tak ada lagi. Claude Lefort menyebut situasi itu sebagai “runtuhnya marka-marka kepastian”.

Tak ada lagi sosok yang dianggap pengejawantahan kesatuan masyarakat dan yang secara simbolis bertaut dengan Tuhan. “Demokrasi,” tulis Lefort, “mewisuda pengalaman tentang sebuah masyarakat yang tak terjangkau, tak terkendali, di mana rakyat akan dikatakan berdaulat… tapi dengan identitas yang terbuka untuk digugat, dengan identitas akan selamanya terpendam.”

Tak mudah hidup dalam kondisi seperti itu, memang. Orang sering cemas kepada demokrasi, dan ingin membuka diri bagi kediktatoran atau, seperti yang kini sering terdengar, menghendaki kekhalifatan kembali. Tapi zaman memang tak lagi menjamin kepastian dan stabilitas atau lebih berterus terang bahwa kepastian dan stabilitas hanya ilusi.

Sebenarnya di abad ke-7, di antara Bagdad dan Najaf, ilusi itu dipatahkan dengan pertumpahan darah. “Ia yang mempercayai dunia, dunia mengkhianatinya” seorang kenalan mengutipkan satu kalimat Ali bin Abu Thalib, mungkin sebuah petuah untuk berhati-hati.

Goenawan Mohamad

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

7 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

21 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

22 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

22 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

23 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

29 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

47 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

57 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024