Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Demi Keadilan Audrey

image-profil

Tempo.co

Editorial

image-gnews
Pada Selasa, 9 April 2019, Nikita Mirzani menunggah poster dengan tanda pagar #JusticeForAudrey di akun Instagram-nya. Akibat penganiayaan itu, AY menjalani perawatan intensif karena mengalami trauma fisik dan psikologis. instagram.com/nikitamirzanimawardi_17
Pada Selasa, 9 April 2019, Nikita Mirzani menunggah poster dengan tanda pagar #JusticeForAudrey di akun Instagram-nya. Akibat penganiayaan itu, AY menjalani perawatan intensif karena mengalami trauma fisik dan psikologis. instagram.com/nikitamirzanimawardi_17
Iklan

Apa yang terjadi di negeri ini sehingga para remaja begitu tega menyiksa sesama rekannya, bahkan ada yang sampai korbannya meninggal? Ini peringatan keras bagi pemerintah dan orang tua.

Audrey, pelajar sekolah menengah pertama (SMP) di Pontianak, Kalimantan Barat, menjadi korban penyiksaan yang mendapat sorotan publik. Gadis 14 tahun itu dijemput di rumahnya sebelum disiksa oleh 12 pelajar sekolah menengah atas (SMA) di dua tempat di kota itu, akhir Maret lalu. Hingga kini, Audrey masih dirawat di rumah sakit dan dukungan warganet mengalir untuknya melalui tagar #JusticeForAudrey di media sosial.

Ini jelas kasus pidana dan polisi harus mengusut tuntas kasus tersebut. Bahkan penyelidikan harus tetap berjalan meskipun ada perdamaian antara keluarga korban dan pelaku.

Kasus Audrey menambah panjang daftar penyiksaan remaja yang dilakukan oleh remaja. Sebelumnya, Maret lalu, seorang pelajar SMP dikeroyok dua remaja di Tangerang, Banten. Februari lalu, Robby Al-Halim, santri di Pondok Pesantren Modern Nurul Ikhlas, Tanah Datar, Sumatera Barat, dituduh mencuri kemudian disiksa hingga tewas oleh belasan santri temannya sendiri. Januari lalu, dua gadis SMP mengeroyok seorang remaja perempuan di Amurang, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, dan videonya tersebar di media sosial. September lalu, seorang pelajar SMP di Palembang, Sumatera Selatan, dikeroyok temannya hingga cedera karena dipukul dengan pecahan botol.

Para pelaku kekerasan di bawah usia 18 tahun dapat diadili sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Bila usianya di atas 14 tahun, mereka dapat dihukum dengan pelatihan kerja sampai penjara. Tapi cukupkah memenjarakan atau membina mereka?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Faktanya, jumlah kasus kekerasan dengan pelaku anak-anak itu tinggi. Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat, sepanjang 2018, kasus anak yang berhadapan dengan hukum sebanyak 1.434 dari total 4.885 kasus. Komisi mencatat kasus anak sebagai pelaku kekerasan fisik juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dari 46 kasus pada 2011 menjadi 112 pada 2017. Kekerasan ini termasuk penganiayaan, pengeroyokan, dan perkelahian.

Data Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia juga menunjukkan kenaikan jumlah anak yang ditahan. Anak yang berada di Lembaga Pembinaan Khusus Anak meningkat dari 2.319 orang pada 2016 menjadi 2.409 orang pada 2017. Adapun jumlah di Lembaga Penempatan Anak Sementara juga naik, dari 905 menjadi 1.084 pada periode yang sama.

Fenomena ini menunjukkan bahwa anak-anak tidak cuma rentan menjadi korban, tapi juga menjadi pelaku kekerasan. Kekerasan itu pun terjadi karena hal sepele, seperti cemburu, rebutan pacar, atau tersinggung karena komentar di media sosial. Tapi mengapa mereka sampai menyiksa temannya? Apakah generasi muda sekarang adalah generasi pemarah dan mudah tersinggung?

Komisi Perlindungan Anak dan polisi perlu mendekati berbagai kasus ini secara psikologis, bukan hukum semata. Akar masalahnya harus ditemukan. Benarkah mereka korban dari pola pengasuhan yang keliru dalam keluarga? Ataukah ada lingkungan sosial tertentu yang membuat mereka jadi demikian? Masalah mereka adalah masalah kita semua karena anak-anak itu tidak tumbuh di ruang hampa.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

14 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

22 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

41 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

50 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


1 April 2024


Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

26 Maret 2024

Ilustrasi perang sosial media. / Arsip Tempo: 170917986196,9867262
Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

Tanggung jawab negara dalam memastikan jurnalisme yang berkualitas di Tanah Air perlu ditagih.


Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

12 Februari 2024

Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

Hani Syopiar mengapresiasi tenaga kesehatan yang bertugas selama libur panjang.


Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

12 Februari 2024

Cuplikan film Dirty Vote. YouTube
Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

Layaknya "Sexy Killer", "Dirty Vote" layak diacungi jempol. Substansi yang dihadirkan membuka mata kita tentang kecurangan dan potensi-potensi kecurangan elektoral secara spesifik, yang boleh jadi terlewat oleh kesadaran umum kita.


PT Pegadaian Dukung Sertifikasi Halal bagi Pedangang Mie Bakso Yogyakarta

6 Februari 2024

PT Pegadaian Dukung Sertifikasi Halal bagi Pedangang Mie Bakso Yogyakarta

PT Pegadaian berkolaborasi dengan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) serta Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Ashfa Yogyakarta untuk memfasilitasi proses sertifikasi halal.


Bagaimana Bongbong Memenangkan Pilpres Filipina

5 Februari 2024

Ferdinand
Bagaimana Bongbong Memenangkan Pilpres Filipina

Kemenangan Bongbong, nama beken dari Ferdinand Marcos Jr. sering dikaitkan dengan penggunaan media sosial seperti Tiktok, Instagram dan Facebook secara masif, selain politik gimmick nir substansi berupa joget-joget yang diperagakan Bongbong.