Komedi Politik Tentang Orang Terkuat di Amerika

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cuplikan film Vice. imdb.com

    Cuplikan film Vice. imdb.com

    Siapakah orang terkuat di Amerika yang sesungguhnya?

    Benarkah Presiden AS adalah “the most powerful person in the free world” seperti yang sering mereka kumandangkan?

    Di masa Presiden George W.Bush, (2001-2009), ternyata orang yang terkuat di seantero AS –yang berarti di dunia – adalah Dick Cheney. Paling tidak itulah yang dinyatakan film Vice karya Adam McKay yang memperoleh delapan nominasi Academy Awards termasuk Film dan Sutradara Terbaik.

    Film ini dinarasikan dari seorang tokoh veteran fiktif yang pernah terjun ke perang Afganistan dan Irak. Pada tanggal 11 September dunia terguncang oleh penyerangan ke Twin Tower dan bagaimana reaksi Dick Cheney  (Christian Bale) sebagai wakil presiden AS saat itu.

    Kemudian kita dilempar ke tahun 1969 ketika Cheney muda –agak gembil karena senang makan –adalah seorang pegawai magang di Gedung Putih di masa pemerintahan Nixon. Pada saat itulah, Cheney muda memperhatikan siapa sesungguhnya yang mempengaruhi keputusan-keputusan penting Presiden AS: Menteri Luar Negeri Henry Kissinger. Perlahan-lahan, bersama Donald Rumsfeld (Steve Carell) yang saat itu menjabat  sebagai penasehat ekonomi Nixon, Cheney belajar bagaimana melakukan langkah-langkah bak bidak catur. Kapan dia maju, kapan diam di tempat; kapan berbicara atau kapan membiarkan situasi memburuk sendiri hingga sosoknya dibutuhkan.

    Yang membuat film ini mengasyikkan adalah karena sutradara Adam McKay memperlakukannya dengan santai dan penuh humor. Sosok Cheney ditampilkan seperti seorang badut politik yang mengerikan. Mungkin agak berlebihan ketika McKay memperlihatkan adegan Cheney bertanya pada Rumsfeld “what do we believe in?”, karena dalam kenyataan sungguhnya Cheney muda adalah penganut konservatif sejati dan sangat mengagumi Ronald Reagan. Sejak awal Cheney sudah sangat percaya bahwa apapun yang “tidak Amerika” harus dicurigai atau dimusuhi.

    Tetapi tampaknya McKay ingin relaks dan menggunakan lisensi kreatifnya dengan menunjukkan: daripada jengkel dan ikut sakit jantung seperti Cheney, sebaiknya kita menyaksikan tingkah Cheney dengan humor. Ada satu saat kita tak bisa tidak tertawa melihat dialog antara Cheney dan George Bush ketika Bush menawarkannya menjadi calon wakil presiden. Cheney berpura-pura emoh – karena toh dia sudah cukup kaya raya dengan perusahaan Halliburton—tetapi dia akhirnya menegosiasikan “asal soal pertahanan keamanan dan soal luar negeri di tangan saya, saya sih oke saja.” Dan Bush (diperankan dengan bagus oleh Sam Rockwell) langsung tertawa girang dan menyetujuinya. Bush jelas tak sadar atau tak peduli bahwa dua arena itu justru sangat penting dan strategis.

    Di antara adegan-adegan ini, McKay memberikan semacam ‘insert’ yang unik. Terkadang si veteran fiktif itu muncul sebagai narator atau komentator. Kali lain kita akan menyaksikan sebuah ‘adegan alternatif’ antara Cheney dan isterinya Lynne (Amy Adams) di tempat tidur saling berbincang dengan bahasa Shakespeare bak Macbeth dan sang isteri yang bicara soal tahta; lalu kadang-kadang muncul sosok Cheney yang seolah menabrak ‘dinding ke empat’ alias berkomunikasi dengan penonton, ikut menertawakan Bush yang mudah diperdaya.

    Bagian-bagian tergelap dari film –yang seharusnya merupakan komedi politik –ini adalah ketika pasca 11 September segala kebijakan keamanan dan luar negeri semua berpusat pada perintah Cheney, termasuk Guantanamo dan berbagai ‘kebebasan’ untuk menginterogasi. Cheney yang selalu diejek musuh politiknya sebagai seseorang yang ‘girang’ dengan Teknik water-boarding ini nyaris tak punya batas dalam menjalankan kekuasaannya meski dia sebetulnya ‘hanya’ seorang wakil presiden.

    Satu bagian yang cukup menyentuh sebetulnya justru ketika puteri Cheney mengaku dia gay dan Cheney menanggapi pengakuan itu dengan mengatakan “kami tetap mencintaimu”. Ini satu-satunya bagian di mana Cheney terlihat sebagai manusia dan ayah yang mencintai puterinya, meski belakangan toh dia mengkhianati kepercayaan itu ketika dia mendukung sikap politik puterinya yang lain.

    Christian Bale dan Amy Adams tampil luar biasa sebagai pasangan Republikan sejati. Sam Rockwell bagaikan bunglon yang tiba-tiba menjadi Bush, putera Bush senior yang tak pernah bermimpi menjadi presiden karena bukan dialah yang dijagokan bapaknya. Pada akhir film, Cheney kembali ‘menabrak’ layar dan berdialog dengan penonton bahwa dia sama sekali tak pernah menyesali segala tindakan dan keputusannya.

    Jelas McKay seperti ingin menekankan bahwa ini adalah sebuah biopik antihero; seseorang semacam Cheney seharusnya tak boleh lagi duduk di kursi kekuasaan Amerika. Seharusnya.

    VICE

    Sutradara: Adam McKay

    Skenario: Adam McKay

    Pemain: Christian Bale, Amy Adams, Steve Carell, Sam Rockwell, Tyler Perry, Allison Pill

    Produksi: Plan B Entertainment dan Gary Sanchez Productions


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Menang di Basis Nahdlatul Ulama di Jawa Tengah dan Timur

    Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang nota bene lumbung Nahdlatul Ulama, menjadi tempat Joko Widodo dan Ma'ruf Amin memanen suara dalam Pilpres 2019.