Efek Bradley dalam Survei Pemilu

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman (kanan) memeriksa hasil cetak surat suara di PT. Temprina Media Grafika Jalan Raya Sumengko Km 30-31 Wringinanom Gresik, Jawa Timur, Minggu, 20 Januari 2019. Kunjungannya itu untuk menyaksikan secara langsung proses cetak perdana surat suara Pemilu 2019. ANTARA

    Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman (kanan) memeriksa hasil cetak surat suara di PT. Temprina Media Grafika Jalan Raya Sumengko Km 30-31 Wringinanom Gresik, Jawa Timur, Minggu, 20 Januari 2019. Kunjungannya itu untuk menyaksikan secara langsung proses cetak perdana surat suara Pemilu 2019. ANTARA

    Ikhsan Darmawan
    Dosen Departemen Ilmu Politik FISIP UI

    Istilah "efek Bradley" telah lama dikenal dalam studi pemilihan umum. Efek Bradley dapat didefinisikan sebagai kondisi saat hasil survei tidak akurat karena ada bias identitas sosial (persoalan ras) dan umumnya terjadi dalam pemilu yang berlangsung sengit (Solem, 2008).

    Efek Bradley terjadi ketika ada ketidakakuratan hasil survei karena pemilih yang menjadi responden, terutama yang berkulit putih, tidak jujur akan kemungkinan pilihannya karena khawatir dikritik berpikiran rasial (Aurelio, 2008). Hopkins (2008) meragukan efek Bradley itu benar-benar ada ketika dia menganalisis 180 kasus pemilihan gubernur dan anggota Senat Amerika Serikat dari 1989 sampai 2006.

    Riset-riset sebelumnya tentang efek Bradley didominasi oleh studi yang berusaha mengukur sejauh mana eksistensi efek itu dalam pemilu (Hopkins, 2008; Jeffries and Ransford, 1972; Stromberg, 2008; serta Stout and Kline, 2008). Adapun studi lain ingin melihat lebih detail sejarah "teori" efek Bradley (Payne, 2010).

    Studi tentang efek Bradley di Indonesia pernah dilakukan oleh Djayadi Hanan (2016), yang melihat adanya kemungkinan efek Bradley dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017. Artikel ini mengisi celah terbatasnya studi tentang efek Bradley dalam kasus pemilihan presiden di Indonesia.

    Artikel ini ingin melihat efek Bradley dari kacamata yang lebih luas (selanjutnya menggunakan istilah efek Bradley). Efek Bradley dalam artikel ini adalah ketidaksesuaian hasil survei dengan kenyataan sebenarnya karena ketidakjujuran responden survei yang disebabkan oleh dua faktor. Faktor pertama adalah pemilihan yang kompetitif. Faktor kedua adalah problem identitas sosial, seperti masalah pelabelan terhadap kandidat, yang juga berdampak terhadap pemilih. Dalam kondisi seperti sekarang, apakah efek Bradley dapat terjadi di Indonesia?

    Saya berpendapat bahwa efek Bradley dapat terjadi di sini. Saya akan menunjukkan indikasi pernah adanya efek Bradley di Indonesia sekaligus merefleksikan hal itu untuk pemilihan presiden pada April 2019.

    Dalam pemilihan kepala daerah Jakarta 2017 putaran kedua, sejumlah lembaga survei merilis hasil survei menjelang hari-H. Mereka menyimpulkan bahwa pada saat survei dilakukan, Anies Baswedan akan kalah atau unggul tipis, tapi ternyata Anies menang dengan selisih relatif signifikan. Hasil pemilihan putaran kedua adalah Anies meraih 57,96 persen suara, sementara Basuki Tjahaja Purnama meraih 42,04 persen.

    Charta Politika merilis hasil surveinya dan menyebutkan bahwa elektabilitas Anies adalah 44,8 persen atau lebih rendah daripada Basuki yang 47,3 persen (margin of error 3,5 persen). Empat lembaga survei lain, yaitu SMRC, LSI, Median, dan Indikator Politik Indonesia, menyebutkan elektabilitas Anies berada di kisaran 47,9 persen sampai 51,4 persen (rentang margin of error 4,2-3,8 persen).

    Menurut empat lembaga itu, Basuki memperoleh suara di rentang 42,7-47, 4 persen. Apa artinya? Bila dihitung dengan menambah atau mengurangi hasil yang mereka peroleh dengan margin of error, masih terdapat selisih yang cukup jauh (6-13 persen), terutama pada hasil yang diperoleh Anies. Saya meyakini bahwa selisih signifikan itu dapat dijelaskan oleh efek Bradley.

    Pemilihan kepala daerah DKI Jakarta pada awalnya diikuti tiga pasangan calon, dan pada putaran kedua diikuti dua pasangan calon. Kompetisi yang ketat itu juga diwarnai menghangatnya situasi masyarakat, terutama di media sosial, tentang pelabelan yang melekat pada kedua calon.

    Contohnya, Anies saat itu disebut-sebut oleh pendukung Basuki sebagai kandidat yang didukung kelompok Islam radikal. Adapun Basuki diberi label sosok yang keras dan sulit berbicara santun. Dalam situasi seperti itu, calon pemilih yang kebetulan menjadi responden survei sangat mungkin menjawab berbeda dengan pilihan dia sebenarnya pada hari-H karena khawatir akan dampak dari kejujurannya menjawab dilihat berbeda dengan pilihan yang "baik" menurut kondisi saat itu.

    Dalam konteks pemilu presiden 2019, terdapat dua prakondisi, yakni pemilihan diikuti oleh dua kandidat dan pelabelan terhadap keduanya. Berangkat dari situ, saya memperkirakan kemungkinan adanya efek Bradley dalam pemilihan nanti bukanlah hal yang mustahil. Maka semua pihak, baik masyarakat, tim sukses, maupun pasangan calon presiden-wakil presiden, perlu hati-hati dalam menyikapi hasil survei yang dirilis semua lembaga survei. Bisa jadi hasil survei itu tidak sejalan dengan kondisi aktual di masyarakat. Sebab, lembaga survei tidak bisa sepenuhnya menghilangkan adanya kemungkinan bias yang terjadi akibat kondisi yang ada saat ini sehingga menyebabkan para responden tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan secara jujur.

    Sebagai penutup, semua pihak perlu mengantisipasi kemungkinan terjadinya efek Bradley dalam pemilihan presiden 2019 karena adanya persaingan yang ketat dan pelabelan terhadap para kandidat presiden. Berhati-hati lebih baik daripada terkejut karena efek Bradley terjadi untuk kedua kalinya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.