Perjalanan Tiga Sutradara Asia

Leila S. Chudori

Jurnalis.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Film omnibus Journey

    Film omnibus Journey

    Mereka berdua menyusuri sebuah jalan panjang menuju timur, ke sebuah pelabuhan. Di dalam mobil kecil itu yang disetir sang ibu dan puteri remajanya mereka tampak sulit berkomunikasi. Sang ibu (Jin Cheng) terus menerus berceloteh lebih kepada dirinya sendiri. Tentang anggota keluarganya, tentang sang Ayah, tentang segalanya sementara si gadis (Zhe Gong) dengan bibir mencotot dan kedua bola mata yang mendelik tak tahan mendengarkan ocehan ibunya. Sesekali si gadis menjawab ibunya dengan nada judes.

    Si Ibu yang mencoba sabar dan membalasnya dengan ocehan berikutnya. Terus begitu hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bermalam di sebuah penginapan terdekat. Untuk sejenak, ada sebuah jeda dari keriuhan itu karena malam turun.

    Namun muncul pertengkaran lain. Perlahan penonton mulai memahami bahwa sang anak merasa direpotkan oleh pesan ayah almarhum: menyebarkan abu di laut. Sang Ibu menjawab jika dia yang meninggal, anaknya boleh menyebar abu di mana saja. Seketika keriuhan ribut-ribut Ibu dan anak itu redup. Suasana berubah sunyi.

    Pada akhir menit ke 30, di atas perahu, di bawah matahari, sang Ibu dan si gadis menebar abu orang yang mereka sayangi dalam diam. Ini bukan saja adegan terindah setelah perjalanan yang berisik oleh pertengkaran, tetapi juga karena sinar matahari yang menjilat kulit mereka tampak seperti kehangatan yang terasa antara keluarga itu. Tanpa kata-kata. Hanya sang ibu, anak, cahaya matahari yang menyinari abu jenazah sang ayah yang kini sudah menyatu dengan air laut.

    Inilah segmen pembukaan Journey, sebuah proyek film Asian Three-Fold Mirror 2018. Film yang ditayangkan secara khusus inimenyajikan karya tiga sutradara Asia yang masing-masing menampilkan film pendek dengan tema perjalanan. Pembukaan tadi, berjudul The Sea adalah karya sutradara Tiongkok Degena Yun yang juga sekaligus menulis skenario film ini. Sedangkan segmen kedua berjudul Hekishu dipercayakan kepada sutradara Jepang Daishi Matsunaga. Segmen berjudul Variabel No.3 adalah arahan sutradara Indonesia Edwin yang skenarionya ditulis oleh Prima Rusdi.

    Ini adalah proyek omnibus kedua yang diproduksi The Japan Foundation Asia Center dan Tokyo International Film Festival setelah sebelumnya mereka sudah memproduksi omnibus berjudul Reflections.

    Pada proyek Omnibus kedua ini, benang merah yang mengikat tiga film pendek ini adalah tema perjalanan dan aktor Nicholas Saputra yang tampil dalam semua segmen.

    Jika di dalam film The Sea Nicholas tampil sekelebat sebagai seseorang yang nyaris tertabrak Ibu dan anak yang tengah bertengkar di dalam mobil, di film kedua film Hekishu, sosok Nicholas Saputra muncul seperti seorang pengelana yang juga berkelabatan penuh misteri. Mengambil setting di Yangoon, Myanmar, film ini berkisah tentang Suzuki, seorang pengusaha muda Jepang (Hiroki Hasegawa) yang tengah bertugas memimpin proyek pengembangan rel kereta api. Suatu hari di sebuah pasar tradisional, pandangannya terpaku pada seorang perempuan mungil Su Su (Nandar Myat Aung). Sembari memesan longyi yang kemudian dijahitkan Su Su, perlahan-lahan Suzuki mulai mengenal Su su. Mereka berbincang tentang pekerjaan masing-masing. Dari seseorang yang merasa ikut menjadi bagian yang membangun infrastruktur, Suzuki lantas merenung tentang profesinya dan tujuan hidupnya. Ucapan sederhana Su su yang mengatakan dia tak merasa membutuhkan kereta api yang berjalan lebih cepat itu sungguh mengganggunya. Suzuki ikut berkenalan dengan keluarga Su Su yang bukan hanya hidup pas-pasan, tetapi mereka bahkan ‘merangkul’ kemiskinan mereka dengan humor. Misalnya peristiwa padamnya listrik –yang tampaknya cukup sering terjadi—dihadapi dengan lucu: mereka menyayikan lagu Selamat Ulang Tahun. Bagian ini menjadi sebuah komentar sosial yang menarik karena disampaikan melalui sikap manis seorang gadis sederhana dan sangat mudah untuk mewakili persoalan kelas di Indonesia.

    Film terakhir karya Edwin berjudul “Variabel No.3” justru film yang mungkin kurang bisa bertaut dengan penonton (Indonesia). Edwin yang sejak beberapa tahun terakhir sudah melahirkan beberapa film yang cukup ‘naratif’ dan secara garis mengikuti pakem film mainstream, kini kembali lagi masuk ke “halaman rumah” arthouse, sebuah zona nyaman bagi sutradara yang pernah mengarahkan film “Babi Buta” (2008) dan “Poscard from the Zoo” (2012). Segmen ini berkisah tentang hubungan sepasang suami isteri Edi (Oka Antara) dan Sekar (Agni Prathista) yang tengah menetap di Tokyo. Dalam sebuah perjalanan dan bermaksud bermalam di sebuah penginapan. Di dalam perjalanan menuju penginapan itulah terjadi serangkaian peristiwa ganjil, misalnya bertemu dengan Kenji (Nicholas Saputra) yang berwajah serupa dengan bekas pacar Sekar yang bernama Jati. Peristiwa ganjil berikutnya adalah Kenji yang mereka temui di perjalanan ternyata tuan rumah penginapan yang mereka sewa. Dan puncak keanehan berikut adalah serangkaian adegan seks ketiga tokoh kita yang berlangsung setelah ‘diskusi’ penting yang membuhulkan betapa pentingnya, atau betapa menariknya “variabel no.3” dalam sebuah hubungan.

    Marilah kita singkirkan diskusi serangkaian adegan seks (sebutannya “threesome”) itu dulu, karena yang sebetulnya ingin dijelajahi adalah hubungan antara Edi dan Sekar. Problem mendasar Edi dan Sekar, seperti halnya problem perkawinan umumnya sebetulnya perlu didalami –meski Edwin kali ini lebih suka penonton membaca dari bahasa visual belaka. Gerak tubuh dan bahasa antara suami isteri itu berhasil menimbulkan rasa bahwa adanya ketegangan di antara mereka. Sebetulnya akan lebih menarik jika penjelajahan hubungan Edi dan Sekar lebih diperdalam daripada menyaksikan bermenit-menit adegan Sekar pipis di toilet (sebuah adegan yang tampaknya menjadi adegan favorit Edwin, yang juga tampil dalam film Edwin yang lain. Padahal jika adegan itu tak ada, dunia tak akan guncang).

    Bahwa kemudian variabel no 3 diartikan sebagai sebuah ‘journey’ atau perjalanan menyentuh erotisme masing-masing, sebetulnya satu hal yang ingin disampaikan oleh sang sutradara. Ada begitu banyak hal dalam seksualitas yang tak pernah bisa terungkapkan, hingga hubungan konvensional antara dua orang akhirnya sering melibatkan kebohongan. Perjalanan ‘mengulik’ erotisisme kemudian membangkitkan gairah sesungguhnya yang selama ini terpendam. Edwin menamakannya ‘kebenaran yang dapat menyebabkan serangkaian perubahan yang menyakitkan”.

    Kita tak pernah tahu apa bagaimana kelanjutan hubungan Edi dan Sekar setelah perjalanan itu. Edwin memang menunjukkan dengan perayaan mereka bertiga menenggak minuman. Di dalam hati masing-masing, kita tak akan pernah tahu.

    Untuk durasi 82 menit mengikuti perjalanan pikiran tiga sutradara ini mungkin bukan sesuatu yang sesuatu yang mudah dan sama sekali tak mengandung keriaan. Tetapi konon tujuan bukan hal yang terpenting, melainkan proses perjalanan itu yang akan memperkaya kita. Ini memang bukan kisah ini tentang moleknya Myanmar, Jepang atau Cina, tetapi tentang bagaimana jiwa tokoh-tokohnya menjadi manusia biasa.

    JOURNEY

    The Sea (Tiongkok)

    Sutradara/Skenario: Degena Yun

    Pemain: Jin Chen, Zhe gong, Tu Men, Nicholas Saputra

    Hekishu (Jepang)

    Sutradara/Skenario : Daishi Matsunaga

    Pemain: Hiroki Hasegawa, Nandar Myat Aung, Nicholas Saputra

    Variable No 3 (Indonesia)

    Sutradara: Edwin

    Skenario: Prima Rusdi

    Pemain: Agni Pratistha, Oka Antara, Nicholas Saputra


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.