Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Cemas

image-profil

Oleh

image-gnews
Sejumlah petugas melipat surat suara Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di Gudang Logistik KPU Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin, 11 Februari 2019. Jumlah petugas pelipatan 1.000 orang dari PPK, PPS serta KPPS. ANTARA
Sejumlah petugas melipat surat suara Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di Gudang Logistik KPU Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin, 11 Februari 2019. Jumlah petugas pelipatan 1.000 orang dari PPK, PPS serta KPPS. ANTARA
Iklan

Putu Setia
@mpujayaprema

Ada yang cemas dengan situasi yang terjadi saat ini gara-gara pemilihan presiden yang akan berlangsung bulan depan. Pemilihan umum sejatinya tak cuma memilih pasangan presiden dan wakil presiden, tapi juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Dewan Perwakilan Daerah. Namun pemilihan wakil rakyat ini tenggelam karena hiruk-pikuk pemilihan presiden yang calonnya cuma dua. Tidak ada calon alternatif. Tidak memilih alias golput bisa disebut bodoh oleh Romo Magnis Suseno, rohaniawan yang filsuf.

Kecemasan adanya perpecahan dalam masyarakat disebabkan calon presiden yang melakukan pertandingan ulang. Dalam tanding ulang ini, calon presiden hanya mengganti calon wakilnya. Jadi, pendukung fanatik mereka sudah ada sejak lima tahun lalu.

Para pencemas menyebut perpecahan ini sudah keterlaluan, bahkan tidak waras. Kebencian, caci maki, fitnah, dan saling menuduh bohong berhamburan setiap hari. Para budayawan yang terhimpun dalam Mufakat Budaya Indonesia, salah satu kelompok yang cemas, sampai perlu mengeluarkan pernyataan tentang dikhianatinya nilai-nilai kemanusiaan oleh kedua kubu yang bertarung. Mereka menyerukan untuk menghentikan praktik diskursif, ujaran dan tindakan yang berpotensi merusak serta membusukkan tata hubungan sosial kultural masyarakat Indonesia yang sudah susah payah dibangun leluhur kita bersama. Para budayawan ini meminta kontestasi politik tidak dijadikan ajang pertempuran di antara kekuatan yang semata-mata dihela nafsu meraih kekuasaan temporer.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apakah Anda ikut cemas? Mungkin iya jika Anda penonton televisi berita yang rajin, pembaca media cetak atau online yang setia, apalagi orang yang tak bisa lepas dari gadget untuk terhubung ke media sosial. Di situ memang awal tersajinya segala kecemasan akan rusaknya persatuan bangsa. Namun, kalau Anda sedikit saja mau cuek, misalnya memilih televisi yang isinya sinetron melulu, barangkali kecemasan itu berkurang. Apalagi bila di media sosial Anda hanya berteman dengan orang yang suka membuat status buah-buahan atau memuji anak-cucu, Anda sedikit selamat. Dengan segala dalihnya, media massa dan media sosial adalah sumber ampuh untuk menyebarkan perseteruan kedua kubu. Tentu dengan keberpihakan kepada salah satu kubu, baik diakui maupun tidak.

Kalau sedikit mau piknik ke perdesaan, mungkin juga tingkat kecemasan Anda berkurang tentang rontoknya persatuan bangsa. Perdesaan kita tenang karena para wong cilik sudah jenuh dengan pemilihan yang terlalu banyak sejak ada pemilihan kepala daerah. Masyarakat juga mulai cerdas, tak merasa perlu menjagokan tokohnya sampai ribut-ribut dengan tetangga. Selain itu, taraf hidup mulai membaik sehingga mereka tak tergiur oleh kaus gratis dengan cara ikut kampanye. Di perdesaan yang minoritas muslim keadaan lebih tenang lagi karena pemilihan presiden ini lebih banyak "urusan umat Islam". Sebanyak 80 persen lebih pemilih tetap adalah muslim.

Saya juga cemas. Namun saya mencemaskan orang-orang pintar yang menjadi provokator rusaknya persatuan kita. Mereka itu para elite politik yang kini memegang jabatan penting dan jadi selebritas. Ya, pimpinan DPR, tokoh-tokoh partai, juga banyak akademisi. Cobalah telisik, siapa yang suka mendungukan orang, siapa yang suka menuduh orang berbohong, dan siapa yang menyebarkan fitnah. Mereka orang pintar di dua kubu. Saya tak bisa membayangkan bagaimana kalau jagoannya kalah. Apa mereka legowo menerima? Nanti, apabila pemilu selesai dan permusuhan masih tetap ada, para elite inilah biang keroknya. Ironis. Padahal mereka kebanyakan digaji dengan uang rakyat.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

17 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

25 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

44 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

53 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


1 April 2024


Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

26 Maret 2024

Ilustrasi perang sosial media. / Arsip Tempo: 170917986196,9867262
Hibah untuk Keberlanjutan Media yang Melayani Kepentingan Publik

Tanggung jawab negara dalam memastikan jurnalisme yang berkualitas di Tanah Air perlu ditagih.


Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

12 Februari 2024

Penjabat Bupati Banyuasin Sidak Pusat Pelayanan Terpadu Citra Grand City

Hani Syopiar mengapresiasi tenaga kesehatan yang bertugas selama libur panjang.


Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

12 Februari 2024

Cuplikan film Dirty Vote. YouTube
Urgensi Kontranarasi dari Film Dokumenter "Sexy Killer" dan "Dirty Vote"

Layaknya "Sexy Killer", "Dirty Vote" layak diacungi jempol. Substansi yang dihadirkan membuka mata kita tentang kecurangan dan potensi-potensi kecurangan elektoral secara spesifik, yang boleh jadi terlewat oleh kesadaran umum kita.


PT Pegadaian Dukung Sertifikasi Halal bagi Pedangang Mie Bakso Yogyakarta

6 Februari 2024

PT Pegadaian Dukung Sertifikasi Halal bagi Pedangang Mie Bakso Yogyakarta

PT Pegadaian berkolaborasi dengan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) serta Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Ashfa Yogyakarta untuk memfasilitasi proses sertifikasi halal.


Bagaimana Bongbong Memenangkan Pilpres Filipina

5 Februari 2024

Ferdinand
Bagaimana Bongbong Memenangkan Pilpres Filipina

Kemenangan Bongbong, nama beken dari Ferdinand Marcos Jr. sering dikaitkan dengan penggunaan media sosial seperti Tiktok, Instagram dan Facebook secara masif, selain politik gimmick nir substansi berupa joget-joget yang diperagakan Bongbong.