Saat Vatikan Melawan Kekerasan Seksual

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah orang berunjuk rasa pada saat pelaksaan konferensi penanganan krisis global pelecehan seksual anak di Vatikan, yang berlangsung empat hari sejak Kamis, 21 hingga Ahad, 24 Februari 2019 waktu setempat. EPA via ABC News

    Sejumlah orang berunjuk rasa pada saat pelaksaan konferensi penanganan krisis global pelecehan seksual anak di Vatikan, yang berlangsung empat hari sejak Kamis, 21 hingga Ahad, 24 Februari 2019 waktu setempat. EPA via ABC News

    Bagong Suyanto
    Guru Besar Sosiologi FISIP Universitas Airlangga

    Genderang perang melawan kekerasan seksual, terutama kejahatan pedofilia yang dilakukan para rohaniwan, telah ditabuh. Paus Fransiskus menutup pertemuan puncak mengenai perlindungan anak di Roma dengan menyerukan "pertempuran habis-habisan" melawan kekerasan seksual, yang disebutnya keji dan harus "dihapus dari muka bumi".

    Dalam forum yang diinisiasi oleh Paus sendiri itu, dia bersumpah bahwa gereja Katolik Roma tidak akan menutupi kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan gereja dan bersepakat menghukum pelaku dengan seadil-adilnya.

    Komitmen dan keterbukaan Paus Fransiskus untuk mengakui bahwa gereja tidak steril dari tindak kekerasan seksual sangat melegakan banyak pihak. Keterbukaan pemimpin tertinggi gereja Vatikan itu diharapkan akan melahirkan semangat baru membongkar aib yang selama ini terkesan ditutup-tutupi.

    Selama ini, tindak kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan gereja tampaknya tidak banyak diungkap, bahkan ada kesan cenderung ditutup-tutupi. Gereja Katolik di berbagai belahan dunia dilaporkan dengan sengaja menghancurkan dokumen-dokumen tentang pemimpin agama di lingkungan gereja Katolik yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak. Namun, ketika skandal seks di lingkungan gereja terjadi semakin masif, seperti yang terjadi di Australia, Cile, Jerman, dan Amerika Serikat, Paus pun akhirnya turun tangan langsung untuk menginisiasi langkah-langkah konkret menangani aib yang memalukan ini.

    Di lingkungan gereja, tindak kekerasan seksual yang terjadi dan cenderung didiamkan sekian lama itu tidak hanya menimpa anak-anak yang menjadi korban aksi pedofilia, tapi juga dialami sejumlah biarawati, yang juga menjadi korban pemerkosaan hingga hamil dan terpaksa menggugurkan kandungannya. Seperti kasus pemerkosaan incest, kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan gereja umumnya berlangsung dalam kurun waktu yang lama tanpa sempat terendus publik. Sikap tertutup gereja yang sengaja menyembunyikan aib ini membuat para pelaku kekerasan seksual tak jarang lolos dari sanksi hukum yang seharusnya mereka dapat.

    Berkat tekanan dari berbagai pihak, baik dari masyarakat maupun kesadaran pihak gereja sendiri, akhirnya kasus kekerasan seksual yang menjadi aib gereja itu diakui secara terbuka. Bahkan Paus sendiri akhirnya yang menyebutkan perlunya segera dilakukan tindakan untuk menangani kasus yang mempermalukan wibawa gereja ini.

    Laporan dari gereja di berbagai belahan dunia membuat Vatikan menyadari bahwa kasus kekerasan seksual bukan sekadar isapan jempol atau hanya bersifat kasuistis. Di samping itu, testimoni para penyintas yang menjadi korban tindak kekerasan yang dilakukan para rohaniwan makin memperkuat tekad Vatikan untuk membongkar hingga tuntas kasus yang memalukan itu.

    Banyak studi telah membuktikan bahwa kasus kekerasan seksual umumnya sulit dibongkar karena dua hal. Pertama, sikap korban yang memilih memendam penderitaannya karena tidak ingin dipermalukan untuk kedua atau ketiga kalinya jika peristiwa jahanam yang menimpanya diekspos di pengadilan dan menjadi bahan pemberitaan media massa. Daripada menghadapi tekanan selama pemeriksaan dan sidang, tidak sedikit anak dan perempuan yang menjadi korban pemerkosaan akhirnya memilih tidak melaporkan peristiwa yang mereka alami. Bahkan ada pula yang memilih berdamai dengan pelaku dengan bersedia dinikahi.

    Kedua, sosok pelaku yang dipersepsi publik sebagai sosok yang karismatik dan idealis, apalagi jika pelaku termasuk sosok rohaniwan yang dipercaya suci. Sosok-sosok yang disakralkan oleh masyarakat, seperti pendeta atau ulama, biasanya dipercaya publik tidak akan tega atau sengaja bertindak melakukan kekerasan seksual karena hal itu dilarang agama. Padahal, pada kenyataannya, pelaku kasus kekerasan seksual ternyata tidak sedikit merupakan sosok-sosok orang yang dihormati dan disakralkan oleh masyarakat.

    Dibanding jika pelakunya orang biasa, membongkar skandal tindak kekerasan seksual yang dilakukan orang-orang yang disakralkan sering kali jauh lebih sulit. Selain karena masyarakat sendiri yang tidak percaya terhadap adanya kemungkinan sosok yang mereka hormati melakukannya, lembaga keagamaan di balik sosok itu biasanya cenderung akan menutup-nutupi aib yang dapat merusak reputasi mereka.

    Memang, di satu sisi, berkat komitmen dan jiwa besar Paus Fransiskus, pengakuan terhadap kasus tindak kekerasan seksual yang menjadi aib di lingkungan gereja akan dapat diungkap untuk ditindaklanjuti. Namun, di sisi lain, di era keterbukaan informasi dan sikap masyarakat yang makin kritis, perlu pula disadari bahwa aib-aib seperti yang kini diakui Vatikan tidak mungkin terus dapat disembunyikan.

    Bau aib yang menumpuk tidak mungkin terus dapat disembunyikan. Hanya keterbukaan, jiwa besar, dan keadilanlah yang menjadi jaminan masyarakat di era pascamodern ini tidak kehilangan kepercayaan terhadap lembaga agama dan kesakralan sosok rohaniwan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.