Perjalanan Dua Kawan ke Selatan Amerika

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Viggo Mortensen dan Mahershala Ali dalam film Green Book (2018)

    Viggo Mortensen dan Mahershala Ali dalam film Green Book (2018)

    Sebuah buku panduan bernama Buku Hijau, atau Green Book, di tahun 1960-an adalah pegangan mahapenting bagi para pengelana (berwarna) di AS. Mereka yang berhasrat berkelana melalui kota-kota di negara bagian ‘deep south' – selatan yang paling selatan, atau dengan kata lain kawasan yang penduduknya sangat rasis—maka Green Book akan memberi petunjuk motel atau penginapan mana yang ‘aman’ dari gangguan penduduk yang sudah siap menguliti ‘kaum kulit berwarna’.

    Buku panduan itu diterbitkan sejak tahun 1936 oleh seorang pekerja kantor pos Afro-Amerika bernama Vicor Hugo Green pada era diskriminasi ras adalah sesuatu yang yang legal. Green menerbitkan panduan tersebut agar mereka yang tengah melakukan perjalanan di area rasis itu bisa selamat dari hantaman atau serangan penduduk kulit putih.

    Syahdan Dr.Don Shirley (Mahershala Ali) adalah seorang pianis klasik yang memimpin The Don Shirley Trio yang merencanakan tur di kawasan Deep South Amerika di tahun-tahun kelam itu. Meski Don Shirley sejak kecil dikenal sebagai prodigi yang menempuh pendidikan musik klasik di Leningrad, warna kulit jauh ternyata lebih penting di dunia segregasi kawasan rasis Amerika. Akibatnya, Don merasa harus menyewa seorang supir yang bisa merangkap sebagai bodyguard yang bukan saja mengantar dia ke pelbagai kota besar maupun kecil, tetapi juga melindungi Don dari berbagai serangan. Adalah Tony Vallelonga (Viggo Mortensen) alias Tony Lip –disebut demikian karena mulutnya tak berhenti bercuap-cuap kibul—yang biasa menjadi bagian keamanan Copacobana tengah mencari pekerjaan, karena bar tempatnya bekerja tengah direnovasi. Maka kloplah.

    Yang tidak klop adalah Don dan Tony. Don seorang berpendidikan tinggi, berselera segala yang halus dan tertata, sementara Tony datang dari kelas pekerja yang biasa makan ayam goreng sembari menyetir sekaligus bebacot dengan aksen Italia yang kental. Bisa dibayangkan bagaimana dari kota ke kota sepanjang perjalanan mereka tak henti-hentinya berdebat, bersungut meski akan diakhiri salah satu dari mereka mencoba memahami lawan bicaranya. Don Shirley, setinggi apapun pendidikannya, meski disambut oleh applaus penonton saat Shirley di atas panggung, toh tetap saja dillarang menggunakan toilet yang sama dengan penonton kulit putih, atau makan di restoran mewah tempat dia pentas. Segalanya serba ironi. Dia dipuja sebagai seorang musikus jenius, tapi dia tetap seorang kulit berwarna yang tidak memperoleh keistimewaan apapun.

    Perlahan-lahan Tony Lip, yang digambarkan tumbuh di keluarga yang rasis mulai merasa Don Shirley sebagai kawan. Tony bukan sekedar membelanya jika Don dihina, dia bahkan menghajar polisi yang menahan Don Shirley karena Toni mulai percaya bahwa semua orang pada dasarnya sama dan berhak diperlakukan sejajar.

    Film ini mendapatkan berbagai penghargaan terutama untuk seni peran Mahershala Ali. Academy Awards memberikan lima nominasi termasuk untuk Film Terbaik, Aktor Terbaik (Viggo Mortensen) dan Mahershalla Ali (Aktor Pendukung Terbaik). Duo aktor ini memang yang menghidupkan seluruh drama perjalanan film yang penuh ironi sekaligus humor. Tetapi selain itu, sinematografi yang berhasil merangkum warna-warni pastel seperti menunjukkan sebuah kontras: ini kawasan yang penuh kecantikan sekaligus kekelaman. Di balik segala yang jingga dan merah muda, terselip kejahatan yang diselenggarakan antar manusia.

    Tetapi Peter Farelly (“Dumb and Dumber”, “There is Something About Mary”) tak akan membuat karyanya pucat dan depresif. Pada adegan-adegan perjalanan, kita akan melihat bagaimana Don Shirley akan bertingkah seperti tokoh Prof Higgins pada Eliza Doolitle. Don menegur Tony bahwa “dear dieja dengan d,e,a,r, bukan ‘deer’” atau ketika Don mengejek surat Tony kepada isterinya yang bunyinya mirip “surat permintaan tebusan dari para penculik”, Don menawarkan untuk membantu Tony menulis surat. Don lantas mendiktekan kalimatnya dan Tony menyalinnya dengan takzim. Surat berkalimat puitik itu membuat Dolores dan kawan-kawannya, para ibu jadi meleleh.

    Tentu saja membuat karya (novel atau film atau bentuk kesenian lain) yang terinspirasi dari tokoh dan kisah nyata sering melahirkan debat atau protes anggota keluarga atau kawan atau para ahli yang merasa “memiliki” cerita itu dan yang merasa lebih mengenal tokoh-tokoh yang digambarkan. Para saudara Don Shirley kurang menyambut film ini karena merasa kisah itu tidak akurat mengenai bapaknya. Sementara tim sineas, termasuk sutradara Farelly merasa kisah yang diperoleh dari Nick Valelongga, putera Tony Vallelonga adalah kisah yang sah. Para komentator ceriwis ini sering lupa, bahwa meski itu terinspirasi dari tokoh nyata, film ini tetap sebuah film cerita, bukan film dokumenter.

    Setelah film-filmnya yang selalu memilih jalan slapstick untuk komedi, kini Peter Farelly meloncat sangat jauh, dan itu patut dihargai. Film “Green Book”, meski berakhir dengan perasaan manis dan menyenangkan – dan juga klise—Farelly jelas ingin mengingatkan betapa jauh perjalanan AS untuk berada di posisinya saat ini.

    Film Green Book memang seperti sebuah film perjalanan yang personal, yang menceritakan bagaimana dua orang yang berkepribadian berlawanan bisa menjadi sahabat yang saling memahami . Namun sesungguhnya film ini tetap mengandung narasi besar sejarah yang melilit sejarah kedua tokoh dan semua kota-kota yang mereka lalui.

    Green Book

    Sutradara: Peter Farelly
    Skenario: Nick Vallelonga, Brian Hayes Currie, Peter Farrelly
    Pemain: Mahershala Ali, Viggo Mortensen, Linda Cardellini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.