Dari Cuaron untuk Libo

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Roma. netflix.com

    Roma. netflix.com

    Di setiap masa kecil, di sebuah rumah selalu ada ibu dan ada ibu.

    Ada ibu yang melahirkan dan menyusui, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan pada anak-anaknya, tetapi sang ibu juga  harus menghadapi ketidaksetiaan suami atau ego lelaki yang ingin tahu beres. Sedangkan ‘ibu’ yang satunya, yang kelak menjadi substitusi, adalah dia yang  membangunkan anak-anak, memasak dan makanan, mencuci baju, mengerok tahi anjing di lantai garasi, menyeterika, yang mematikan lampu pada malam hari, tidur untuk kemudian bangun lagi dan mulai bekerja ketika matahari masih tidur.

    “Ibu” yang satu ini, dalam hidup sutradara Alfonso Cuarón disebutnya Libo kependekan dari Liboria Rodríguez. Film Roma yang nyaris sempurna, jika tak boleh menganggap sebuah karya sebegitu sempurna, memang didedikasikan kepada perempuan yang sehari-hari mengurus Cuaròn sebagaimana film Roma memperlihatkan sosok Cleo (Yalitza Aparicio) yang sehari-hari berfungsi sebagai ‘ibu substitusi’ bagi anak-anak Sofia (Marina de Tavira) dan Antonio (Fernando Grediaga).

    Tentu, tentu saja Sofia adalah seorang ibu kelas menengah-atas yang mencoba berfungsi sebisanya, bersuami seorang dokter dengan rumah besar di kawasan Colonia Roma. Tetapi dengan suami yang nyaris absen, yang  sibuk merancang kebohongan karena menyimpan pacar, Sofia  tak bisa konsentrasi memperhatikan keempat anaknya.

    Adalah Cleo, juga rekan Cleo, Adela (Nancy García) yang menjadi tiang dan fondasi rumah itu. Keempat anak menjadi sangat dekat pada Cleo dan menganggap Cleo bagian dari keluarganya. Hingga ketika Cleo hamil oleh kekasihnya, Fermin (Jorge Antonio Guerrero), adalah keluarga Sofia yang melindungi dan merawatnya sementara si pacar sialan itu sibuk latihan martial art dan tak mau peduli dengan kehamilan Cleo.

    Pada dasarnya, Cuarón berkisah tentang permasalahan di dalam sebuah keluarga kelas menengah-atas Meksiko di tahun 1970-an tanpa plot yang ketat. Semuanya seolah-olah berjalan ‘begitu saja’ ketika kita menyaksikan keseharian Cleo dari pagi sampai pagi lagi. Tetapi dengan subtil, Cuaròn menggambarkan betapa disfungsionalnya keluarga sang majikan; betapa Sofia yang baik hati itu tak bisa menyetir dan memarkir mobil dalam keadaan mabuk karena hatinya yang rusuh digedor persoalan perkawinannya.

    Bahkan peristiwa demonstrasi mahasiswa direkonstruksi dengan luar biasa dan digambarkan dari sudut pandang mereka yang sedang berbelanja furniture yang menyaksikan dari jendela besar toko. Demonstrasi yang belakangan dikenal sebagai

    Corpus Christi Massacre karena sekitar 120 orang tewas dihajar pasukan elite Los Halcones itu menunjukkan kekacauan sosial dan politik Meksiko saat itu. Cuaròn sengaja memilih pandangan dari sisi mereka yang berada di dalam ruang kaca, karena ia ingin menunjukkan mereka yang hidup dalam bubble, atau gelembung yang tertutup  dan nyaman. Gelembung itu ‘pecah’ ketika anggota Los Halcones menerobos masuk toko dengan senjata di tangan dan justru berakibat fatal pada seorang kelas bawah seperti Cleo.

    Berkali-kali Cuaròn memaparkan perbedaan kelas itu. Misalnya adegan pesta di hacienda keluarga besar Cuaròn  yang memperlihatkan mereka yang asyik latihan menggunakan senjata dan berpesta, sementara Cleo dan kawan-kawannya mengurus kamar dan pakaian. Tetapi secara halus Cuaròn juga mengungkapkan betapa kepolosan dan ketidaktahuan membuat Cleo tak pernah bisa keluar dari perangkap kelasnya. Cleo mungkin selamanya akan hidup di rumah Sofia dan keluarganya yang sangat tergantung padanya, sembari dia juga tak akan paham identitas Fermin dan kawan-kawannya dan apa tujuan mereka berlatih bela diri.

    Cleo, seperti banyak warga di negara berkembang, adalah satu contoh sosok yang tak akan pernah bisa menjadi bagian dari orang-orang yang diladeninya. Dia serumah dan hidup bersama keluarga itu, dan bahkan dianggap bagian dari mereka, tapi pada saat yang bersamaan dia tak akan pernah menjadi bagian dari Kawasan Roma. Premis yang  menyedihkan ini mungkin tertutup oleh keindahan sinematografi yang juga ditangani oleh sang sutradara.

    Tetapi bukan hanya persoalan kelas saja yang menjadikan film ini penting. Cuaròn tetap mengangkat hal-hal yang pribadi dengan sangat menyentuh. Ketika sang Ibu mengajak anak-anaknya ke pantai, ia membuat pengumuman bahwa Ayah mereka akan pergi  meninggalkan mereka. Alasan ibunya mengajak anak-anaknya ke pantai agar Ayahnya bisa  mengepak baju dan barang-barangnya. Belum pernah ada adegan tentang perpecahan keluarga yang memilukan seperti itu. Semua terpana dan tak bisa berkata apa-apa. Akhirnya si sulung kemudian menangis terisak-isak.

    Para peggemar film di Indonesia mengenal karya-karya Cuaròn sebelumnya seperti Y Tu Mama Tambien (2001), Children of Men(2006), Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004) dan Gravity (2013).  Tapi harus diakui, Roma adalah masterpiece sutradara Meksiko ini.

    Meraup 10 nominasi, termasuk Film, Sutradara, Aktris dan juga Film Asing Terbaik, Roma langsung menjadi film klasik yang akan terus menerus menjadi pembicaraan para penonton karena Cuaròn berhasil berbicara tentang banyak hal: tentang perbedaan kelas, tentang perpecahan sebuah perkawinan, tentang anak-anak, tentang lelaki yang meninggalkan perempuan, tentang perempuan yang gelagapan ditinggal lelaki dan lantas mencoba kuat, tentang…….kita.

    ROMA

    Sutradara: Alfonso Cuarón

    Skenario: Alfonso Cuarón

    Pemain: Yalitza Aparicio, Marina de Tavira, Diego Cortina Autrey, Carlos Peralta

    Produksi: Esperanto Filmoj dan Participant Media


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.