Netral

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melakukan pengecekan kualitas surat suara Pilpres 2019 saat pencetakan surat suara di Jakarta, Minggu, 20 Januari 2019. ANTARA

    Petugas melakukan pengecekan kualitas surat suara Pilpres 2019 saat pencetakan surat suara di Jakarta, Minggu, 20 Januari 2019. ANTARA

    Putu Setia
    @mpujayaprema

    Sungguh senang hati saya mendapat kabar Romo Imam sudah kembali ke padepokannya. Sudah berbilang bulan Romo berada di Semenanjung Malaysia, saya tidak tahu apa yang dikerjakannya.

    "Selamat berada di Tanah Air kembali, Romo. Saya punya teman diskusi lagi," kata saya ketika kemarin ngopi di padepokannya. Romo enteng saja menjawab, "Karena lama kita tak ngobrol, saya harus tahu dulu, Sampeyan pendukung yang mana, 01 atau 02?"

    Saya kaget. "Saya tidak mendukung siapa-siapa, saya sudah tua tak kuat mendukung orang," saya menjawab serius. Lalu Romo tertawa: "Untuk ngobrol saat ini, kita harus tahu siapa yang didukung oleh lawan yang kita ajak ngobrol."

    Romo bercerita tentang pengalamannya mengobrol di atas pesawat dengan teman duduk di sebelahnya. Romo ditanya soal kasus Ahmad Dhani, yang kini ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Medaeng, Surabaya. "Saya bilang Ahmad Dhani tidak mendapat keadilan. Untuk kasus di Surabaya, tuntutannya ringan dan tak seharusnya ditahan. Dia ditahan untuk kasus di Jakarta, yang sebenarnya belum punya kekuatan hukum karena ia naik banding dan ketika disidang tidak ditahan. Langsung teman ngobrol saya bilang, "Bapak pendukung 02, sih."

    Romo minum sejenak, lalu melanjutkan. "Ketika saya istirahat di kantin bandara, ada berita di televisi, demo yang meminta Fadli Zon minta maaf karena puisinya melecehkan ulama. Teman duduk bertanya, apakah saya membela Fadli? Saya jawab tidak, Fadli sebaiknya minta maaf karena puisinya itu bisa ditafsirkan macam-macam sebagaimana puisi yang tidak dilandasi sastra. Puisi semacam itu di zaman Rendra digolongkan puisi pamflet. Eh, saya dituduh pendukung 01."

    Kini saya yang tertawa. "Romo kelamaan, sih, di Malaysia. Mungkin juga tak mengikuti situasi di negeri kita yang mulai lucu. Kampanye pemilu serentak ini memang paling aneh di dunia, saling sindir, saling mencari kesalahan, saling berbantah. Semakin tak jelas siapa penantang dan siapa yang petahana. Ini saya bacakan tulisan Syamsuddin Haris di Twitter: Kita rindu narasi kampanye yang sejuk, mendidik, dan mencerdaskan, yang memupuk rasa saling percaya, serta mengobarkan optimisme akan masa depan bangsa yang lebih baik. Bukan narasi permusuhan, kebencian, dan dendam."

    Romo menyela, "Syamsuddin itu intelektual dan peneliti, kan? Harus ditebak dulu dia alumni mana. Katanya alumni perguruan tinggi sampai alumni sekolah menengah sudah diperebutkan dan mulai dipecah-pecah dukung ini dan itu. Kenapa alumni sekolah dasar tidak ikut dikerahkan? Kok, seperti kembali ke Orde Baru?"

    "Wah, Romo gawat, nih," saya memotong. "Memang ada yang mau kembali ke Orde Baru? Siapa?" Romo tertawa. "Semuanya pasti tidak ada yang mengaku. Bahkan semuanya bisa menuding lawannyalah yang meniru Orde Baru, sehingga siapa yang duluan mengecam Orde Baru, kubu itu yang merasa tidak Orde Baru. Padahal cara-cara itu dipakai Orde Baru."

    "Saya tidak paham, bahasa Romo jelimet," kata saya. Kembali Romo tertawa. "Ya sudah, tak usah ngomongin kubu siapa yang mengarah ke Orde Baru. Istilah itu sama rumitnya dengan istilah hak asasi manusia. Terus kubu mana yang lebih memperhatikan hak asasi manusia? Yang ini menuduh si itu pelanggar hak asasi manusia, yang itu menuduh si ini malah menampung pelanggar hak asasi manusia. Podo-podo wae, sami mawon...."

    Ibu Imam datang membawa kue. "Cicip kue dulu, ya? Kalian berdua sepertinya sudah jelas. Tak puas dengan kedua kubu, lalu bersikap netral dan menyalahkan keduanya. Terus mau golput, kan?" Saya tersentak. "Ibu... saya tak berpikir begitu."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.