Rivalitas Pasar Modal dan Kredit

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Friderica Widyasari Dewi saat memberikan pidato peluncuran C-BEST untuk peningkatan performa transaksi pembayaran di pasar modal, di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu, 8 Agustus 2018. TEMPO/Dias Prasongko

    Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Friderica Widyasari Dewi saat memberikan pidato peluncuran C-BEST untuk peningkatan performa transaksi pembayaran di pasar modal, di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu, 8 Agustus 2018. TEMPO/Dias Prasongko

    Haryo Kuncoro
    Direktur Riset Socio-Economic & Educational Business Institute Jakarta

    Menjelang tutup tahun, kontradiksi di sektor finansial tengah terjadi. Di satu sisi, penggalangan dana korporasi di lantai bursa melambat. Kendati jumlah perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) menyentuh 50 unit, yang merupakan rekor baru, nilai emisi yang dicatat terbilang kecil.

    Penghimpunan dana di pasar modal hingga November 2018 mencapai Rp 156,27 triliun. Capaian itu berasal dari penawaran saham perdana (IPO) senilai Rp 15,07 triliun, penawaran umum terbatas (rights issue) Rp 32,84 triliun, dan penerbitan obligasi serta sukuk, termasuk penawaran umum berkelanjutan, senilai Rp 108,36 triliun.

    BEI memang masih mengantongi sejumlah pipeline penerbitan obligasi dan IPO dengan nilai total Rp 7,18 triliun. Jika pipeline itu direalisasi pada tahun ini, total penghimpunan dana di pasar modal sepanjang 2018 senilai Rp 163,45 triliun, masih kalah dibanding tahun lalu yang mencapai Rp 254,51 triliun.

    Di sisi lain, penyaluran kredit perbankan terus melaju. Pertumbuhan penyaluran kredit per Oktober telah mencapai 13,35 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp 5.169 triliun. Melihat angka realisasi ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis kredit perbankan pada tahun ini bakal tumbuh 14 persen.

    Optimisme OJK tersebut tidak berlebihan. Tren kenaikan suku bunga acuan tidak serta-merta menahan laju permintaan kredit karena tidak sepenuhnya dilimpahkan kepada peminjam lantaran ditopang efisiensi. Salah satunya adalah melalui penerapan teknologi keuangan.

    Perbankan di dalam negeri memiliki ruang yang cukup untuk menyerap dampak kenaikan suku bunga acuan. Buktinya, capaian kredit diikuti de-

    ngan peningkatan kualitas aset. Pada periode yang sama, rasio kredit bermasalah berada pada posisi 2,65 persen, lebih baik dibanding Oktober tahun lalu yang di level 2,96 persen.

    Alhasil, kinerja kredit perbankan tahun ini paling agresif dalam tiga tahun terakhir. Indikator ekonomi menunjukkan perbaikan. Dunia usaha pun mulai menggeliat dengan membaiknya harga komoditas, seperti batu bara dan kelapa sawit. Pergerakan signifikan juga terlihat di sektor konsumsi.

    Sehimpun fakta di atas menunjukkan pasar kredit perbankan seakan-akan menjadi rival bagi pasar modal. Pasar modal melemah lantaran kekhawatiran keluarnya modal asing di tengah ketidakpastian global. Jadi, korporasi yang mau mengeluarkan obligasi memanfaatkan kredit perbankan sebagai kompensasi pembiayaan.

    Namun kenaikan kredit perbankan juga tidak bisa sepenuhnya diselaraskan dengan kondisi pasar modal. Obligasi berspektrum jangka panjang menuntut bunga tinggi. Sementara kredit perbankan lebih menyasar pada pendanaan jangka pendek. Artinya, pasar modal dan pasar kredit tidak utuh saling menggantikan.

    Kondisi di atas bisa berefek bumerang bagi perbankan. Sektor perbankan melayani kebutuhan dana korporasi untuk ekspansi jangka menengah. Padahal sumber dana perbankan mayoritas berasal dari dana pihak ketiga. Ketidaksesuaian maturitas dana membawa perbankan pada masalah klasik, yakni kelangkaan likuiditas.

    Persoalan yang sama juga dihadapi debitor. Tingginya permintaan dana dari sektor korporasi tidak bisa dipenuhi perbankan sekaligus. Konsekuensinya, korporasi bertahap melakukan akad kredit. Intinya, transaksi kredit perbankan menjadi tidak efisien meskipun dengan suku bunga yang lebih murah.

    Efek crowding out adalah gejala lain yang bisa ditarik dari fenomena di atas. Dana yang tersedia di pasar modal kemungkinan besar terserap oleh obligasi infrastruktur yang diinisiasi pemerintah lewat badan usaha milik negara konstruksi. Artinya, ada persaingan perebutan dana antara sektor swasta dan sektor publik sehingga biaya ekuitas lebih mahal.

    Dalam skala yang lebih luas, kinerja pasar modal yang berbanding terbalik dengan performa pasar kredit mengisyaratkan pasar keuangan masih dangkal. Menurut teori, pasar keuangan sangat segmentatif. Masing-masing memiliki pangsa pasar tersendiri sehingga tidak mudah terimbas gejolak segmen pasar lain.

    Maka, di balik kilau pasar kredit perbankan 2018, agaknya masih banyak pekerjaan rumah untuk segera dituntaskan pada tahun-tahun mendatang. Apakah pasar modal dan pasar kredit bisa tumbuh beriringan dalam mewujudkan inklusi keuangan adalah pokok persoalannya. Hanya melalui pendalaman dan inklusi keuanganlah konvergensi akan tercapai.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.