Selasa, 18 Desember 2018

Suzzanna, Film Reborn, dan Sinema Cult

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suzzanna, Film Reborn, dan Sinema Cult

    Suzzanna, Film Reborn, dan Sinema Cult

    Ekky Imanjaya
    Dosen Film Universitas Bina Nusantara

    Film Suzzanna: Bernapas dalam Kubur mencatatkan rekor baru. Selama empat hari penayangan, film ini telah meraup lebih dari 1 juta penonton. Film ini dinilai banyak orang sebagai contoh tambahan kesuksesan formula film reborn, yang memadukan penjualan kenangan dan kemasan baru untuk milenial.

    Istilah reborn pertama kali dipakai dalam film Warkop Reborn: Jangkrik Boss. Menurut analisis beberapa kritikus dan jurnalis film, istilah reborn merujuk pada upaya menghidupkan kembali bintang film legendaris. Sementara remake adalah mendaur ulang cerita-terlepas dari apakah hasilnya setia atau menafsirkan ulang film orisinalnya, reborn merupakan "mendaur ulang" aktor dan aktrisnya dengan berbagai trivia dan ciri khasnya.

    Semua elemen itu bermuara pada satu istilah: sinema cult. Kuncinya ada di bintang film sebagai cult icon beserta berbagai trivia dan dialog tak terlupakan yang lekat dengan si tokoh.

    Sinema cult adalah film-film yang mempunyai pengikut militan yang selalu merayakan filmnya dengan melakukan "ritual-ritual" tertentu, dari fanzine sampai cosplay. Umumnya, para penggemar menonton filmnya berkali-kali tanpa merasa bosan. Bahkan mereka hafal dialog-dialog dan gestur tubuh para karakternya.

    Seperti diutarakan Umberto Eco saat mengupas film Casablanca, salah satu ciri khas film cult adalah kemampuannya menyediakan dunia yang benar-benar lengkap sehingga penggemarnya dapat mengutip karakter-karakter dan episode-episodenya seolah-olah mereka adalah aspek dari dunia sektarian penggemarnya yang tersendiri (Eco dalam Mathijs dan Mendik, 2007).

    Dua hal penting lain dalam film cult adalah sosok aktor dan aktris ikonis serta semangat merayakan nostalgia (Mathijs and Mendik, 2008). Film reborn jelas sekali "menjual" nostalgia era 1980-an dan 1990-an dan berfokus pada mengeksploitasi cult icon Indonesia yang sudah punya jutaan pengikut, seperti Warkop DKI, Benyamin Sueb, dan Suzzanna. Berbagai dialog dan trivia tak terlupakan juga diselipkan dan "dijahit". Dengan kata lain, film reborn adalah "film kain perca" yang menggabungkan berbagai elemen nostalgis yang terkait dengan adegan, nyanyian, dan dialog tertentu.

    Mengapa Warkop Reborn dan Suzzanna berhasil, sedangkan Benyamin Biang Kerok gagal? Menurut saya, hal itu karena Benyamin tidak memaksimalkan eksploitasi unsur-unsur cult dalam materi film, khususnya si ikon cult.

    Keberhasilan film reborn juga bergantung pada apakah karisma dan nostalgia para penontonnya terakomodasi di layar. Warkop Reborn adalah contoh terbaik untuk melihat betapa gestur, dialog, celetukan, dan berbagai trivia lain dijahit menjadi sebuah cerita panjang. Misalnya, di sana muncul istilah "Jangkrik, Bos!", adegan "nyanyian kode" dari film Pintar-Pintar Bodoh, serta berbagai elemen dari IQ Jongkok dan Setan Kredit. Tujuannya, merayakan Warkop DKI dengan segala trivia dan nostalgianya.

    Film Suzzanna sebenarnya hanya mengangkat satu elemen yang sudah sangat kuat dalam ingatan penggemarnya: sundel bolong, seperti yang diingat dalam Sundel Bolong dan Malam Satu Suro. Film ini bukan remake dari kedua film tersebut, melainkan ada hal-hal baru yang dijahit bersama, seperti lagu Selamat Malam di Malam Satu Suro dan dialog-dialog bergaya 1980-an.

    Benyamin Biang Kerok sayangnya tidak memainkan trivia dan dialog-dialog yang melekat dengan Babe Ben. Memang ada sebutan "Babe Sabeni" untuk sang ayah Rano Karno atau pertemuan dengan Tarzan Kota pada akhir film, tapi itu masih kurang. Lagu-lagu yang ditampilkan (Ondel-Ondel, Nonton Bioskop, Hujan Gerimis, dan Biang Kerok) terkesan terlalu modern dan sebagian besar seperti tidak menyatu dengan cerita utama. Ceritanya seputar detektif dan robot (fiksi sains), yang secara umum tidak berasosiasi dengan Benyamin. Tidak ada juga celetukan seperti "Kingkong lo lawan!". Saya menilai semangat "merayakan" dan bernostalgia bersama Benyamin Sueb kurang maksimal.

    Makin banyak film dan budaya pop yang menjual nostalgia. Sebagian sukses, sebagian gagal. Dari Bohemian Rhapsody hingga Dilan 1990 berupaya menggaet generasi 1970-an hingga 1990-an (yang secara ekonomi sudah mapan) seraya memakai pendekatan baru untuk memikat generasi milenial. Film berjenis reborn tak terkecuali. Mungkin semua cult icon 1980-an dan 1990-an, dari Ateng-Iskak hingga mungkin juga merambah ke Rhoma Irama dan Barry Prima, akan di-reborn-kan. Pertanyaan nya, sampai kapan kita terus "berjualan" nostalgia? Dalam 15 tahun ke depan, apakah kita masih punya nostalgia autenrik selain dari nostalgia akan nostalgia?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Pemilih Tetap Tahap Kedua untuk Pilpres 2019

    Komisi Pemilihan Umum atau KPU akhirnya mengumumkan perbaikan Daftar Pemilih Tetap tahap kedua pada 15 Desember 2018 untuk Pilpres 2019.