Selasa, 18 Desember 2018

Winston

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pada suatu hari, mungkin sekarang, kita adalah Winston-tokoh yang terus-menerus diawasi dalam novel 1984. Pagi ia akan berangkat ke kantornya di Kementerian Kebenaran, dan segera, jalanan akan ditongkrongi sebuah telescreen besar. Layar itu akan dengan sigap menyorotkan siaran pemerintah tentang berita kemenangan perang dan prestasi pembangunan. Alat itu juga akan merekam orang di sekitarnya.

    George Orwell menulis 1984 yang terbit pada 1949: novel yang dikenang karena gambarannya yang cemas tentang masyarakat di bawah rezim yang menyebut diri Big Brother-masyarakat yang hidup dalam pengawasan.

    Telescreen itu akan memungut bunyi apa saja yang datang dari Winston, sekalipun bisik bersuara rendah. Lebih dari itu, selama seseorang berada dalam jarak penglihatan instrumen metal yang menempel di layar itu, ia akan selalu terlihat. Tentu saja ia tak akan tahu bahwa ia disimak sepanjang waktu…. Tapi orang harus hidup-dan kebiasaan dipantau itu telah jadi insting-dengan asumsi bahwa tiap bunyi yang ditimbulkannya akan kedengaran, dan tiap gerak, kecuali dalam gelap, akan diawasi.

    Winston benci semua itu. Diam-diam, tentu saja. Sampai batas tertentu, ia selamat. Tapi pada suatu hari ia ketemu Julia. Mereka saling tertarik, tentu saja tanpa diperlihatkan ke publik-karena cinta dan seks dibatasi Negara. Untuk beberapa lama mereka bisa menghindari pengawasan; dengan sembunyi-sembunyi mereka bercinta dan bersetubuh. Tapi kemudian pembangkangan itu berakhir: pada suatu hari, di sebuah bilik, gerak-gerik mereka tertangkap telescreen kecil yang disembunyikan di balik sebuah gambar dinding. Seregu Polisi Pikiran pun datang dan menyeret Winston ke kamar interogasi. Ia disiksa, pelan-pelan, sampai ia berubah jadi warga yang takzim. Ia mencintai Big Brother.

    Memantau adalah mengetahui; mengetahui adalah menguasai. Dan itu bukan cuma di masa 1984 yang imajiner, bukan hanya di bawah komunisme Stalin dan Kim Jong-il, tapi juga sekarang.

    Kini tiap kita harus siap hidup dengan Big Brother lain. Dalam novel Orwell, Winston masih punya sejumput harap bahwa manusia tetap bisa lepas: "lubuk hati, yang merupakan misteri bahkan bagi diri sendiri, tetap tak akan dapat diterobos". Tapi kini optimisme kecil itu tergerus. Telescreen 1984 telah digantikan pemantauan digital yang beratus kali lebih akurat. "Kita harus ketemu di tempat di mana tak ada gelap," kata seorang pejabat Partai Big Brother. Manusia hidup dalam database.

    Dalam mithologi Yunani, Panoptes-raksasa penjaga kekasih Zeus-punya 1.000 mata yang dikekalkan untuk melihat semesta. Di abad ke-21, makhluk itu kembali: di Cina "panoptikon" dibangun. Menurut BBC, tahun lalu 170 juta kamera CCTV dipasang di seantero negeri, dan sekitar 400 juta lagi akan menyusul. Perangkat itu akan dilengkapi dengan kecerdasan buatan yang mampu mengenali wajah tiap oknum. Penduduk akan dilihat perilakunya-dan diberi nilai. Baik aparat negara maupun penguasa bisnis memantau. Jika si Wang Wei menyeberangi jalan seenaknya, atau terlalu gemar main video game, nilainya akan dikurangi. Bila nilai tak cukup, ia akan sulit berutang atau mengurus surat jalan. Pada saat yang sama, ia tak tahu bagaimana algoritma digunakan, bagaimana nilai dikurangi. Foucault menggambarkan "panoptikon" dengan menyebut manusia sebagai "obyek informasi, bukan sebuah subyek dalam komunikasi".

    RRT contoh yang ekstrem-kelanjutan semangat totaliter di zaman Mao Zedong ketika tiap kampung diawasi mata-mata yang menyusup di antara tetangga.

    Tapi "mata-mata" itu sebenarnya tak hanya di Tiongkok yang Maois dan Jerman Timur yang Leninis. Juga di tempat kapitalisme mengembangkan pasar, konsumen bukan lagi manusia seperti yang dibayangkan humanisme. Manusia telah berhenti. Ia jadi makhluk yang diretas. Tiap orang direkam: hobinya, kecepatan langkahnya, jumlah uangnya, pacar selingkuhnya. Dengan data besar itu ia mudah dimanipulasi, dan-seperti Winston-diubah. Beberapa waktu yang lalu sebuah lembaga swasta di London, Cambridge Analytica, diketahui telah membuat unggunan data tentang tiap calon pemilih di Amerika Serikat; semua jadi bahan untuk menjadikannya pemilih Trump.

    Dan hidup di dunia privat pun dimusnahkan…. Tapi adakah ini hal baru?

    Foucault membuka analisisnya yang termasyhur tentang "panoptikon" dengan cerita wabah di Eropa di akhir abad ke-17. Ketika sampar menjalar, kota diberi batas, penduduk dilarang keras bergerak dari satu tempat ke tempat lain, untuk mencegah penularan. "Tatapan yang bersiaga ada di mana-mana." Berangsur-angsur, disiplin pun terbangun, jadi pola hidup. Ia jadi ukuran "normal". Tak akan ada yang membangkang-tak akan mau. "Tiap orang," kata Foucault, "…jadi tahanan dan sekaligus penjaga penjara."

    Tak harus dengan telescreen. Tak harus ada petugas.Sebab sejak dulu ada mekanisme lain: agama, sebagai alat pengendali sosial—di mana Tuhan diperlakukan sebagai CCTV dan kita Winston yang cemar “di tempat di mana tak ada gelap”. Polisi Pikiran menghuni kita.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Pemilih Tetap Tahap Kedua untuk Pilpres 2019

    Komisi Pemilihan Umum atau KPU akhirnya mengumumkan perbaikan Daftar Pemilih Tetap tahap kedua pada 15 Desember 2018 untuk Pilpres 2019.