Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Predator Likuiditas Perbankan

image-profil

image-gnews
Perbankan Cari Satelit Alternatif
Perbankan Cari Satelit Alternatif
Iklan

Haryo Kuncoro
Direktur Riset Socio-Economic & Educational Business Institute

Industri perbankan nasional mengarungi 2018 dengan penuh tantangan. Kendala dari sisi hulu adalah melambatnya penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Hingga Oktober 2018, DPK hanya tumbuh 6,6 persen secara tahunan. Dari sisi hilir, penyaluran kredit perbankan mampu tumbuh 12,96 persen selama periode yang sama.

Ketidakseimbangan antara aliran DPK dan distribusi kredit memantik loan to deposit ratio (LDR) mendaki ke posisi 94 persen. Artinya, dari setiap Rp 100 DPK yang masuk, Rp 94 di antaranya tersalur menjadi kredit. Angka LDR ini masuk kategori perlu diwaspadai lantaran Bank Indonesia mematok batas LDR yang prudent sebesar 78-92 persen.

Beberapa faktor diduga menjadi pemicunya. Rencana The Fed, bank sentral Amerika Serikat, menaikkan suku bunga satu kali lagi pada sisa tahun ini diprediksi akan menyedot balik likuiditas domestik secara tiba-tiba. Di pasar finansial yang makin terintegrasi, selisih imbal hasil sedikit saja sudah cukup untuk mendorong pelarian modal ke luar negeri.

Di pasar finansial domestik, pemerintah pun sangat agresif menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) dengan suku bunga kupon yang tinggi. Emisi SBN yang masif dan mahal berpotensi memicu terjadi pengalihan dana dari DPK perbankan menuju SBN.

Berkurangnya minat pada simpanan di bank memunculkan fenomena harga khusus bagi pemilik dana jumbo. Dengan negosiasi tertentu, mereka memperoleh suku bunga dengan tarif khusus agar mau berlama-lama menyimpan uangnya. Alhasil, biaya dana menjadi lebih mahal dari yang seharusnya.

Mahalnya penghimpunan dana menggeser pola pendanaan. Bank juga menerbitkan obligasi di lantai bursa untuk memenuhi kebutuhan dana jangka panjang. Agar terserap, bank penerbit obligasi menaikkan suku bunga kupon. Tingginya biaya dana memaksa kembali perbankan mematok suku bunga kredit tinggi agar margin pendapatan bunga tetap terjaga.

Kekhawatiran ini sudah mulai tampak. Bersamaan dengan penarikan kredit dari perbankan, korporasi juga memburu dana langsung ke pasar obligasi. Imbal hasil yang ditawarkannya pun lebih tinggi dari suku bunga deposito, bahkan dari imbal hasil yang dipasok SBN.

Akibatnya, tensi persaingan perebutan dana makin ketat, tidak hanya antara perbankan, korporasi, dan pemerintah, tapi juga antara instrumen finansial domestik dan luar negeri. Alhasil, perang imbal hasil menjadi keniscayaan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Perang imbal hasil tentu menghambat proses pendalaman pasar keuangan. Bank lebih nyaman menyimpan dananya di instrumen finansial ketimbang menyalurkannya sebagai kredit ke sektor riil. Investor pun akan kian selektif dalam menempatkan dananya.

Suku bunga pasar keuangan yang tinggi bisa membunuh jiwa wirausaha. Orang lebih suka menyimpan uang pada instrumen yang cepat memberikan imbal hasil tinggi dengan tingkat risiko paling rendah daripada membuka usaha.

Dalam skala yang lebih luas, derasnya permintaan dana di tengah kesulitan likuiditas berimbas pada isu inefisiensi ekonomi. Mahalnya biaya dana bisa mengganggu kinerja perekonomian nasional. Indonesia akan kembali terjebak dalam pusaran ekonomi biaya tinggi yang berdampak pada daya saing global.

Dengan beberapa argumentasi di atas, perbankan perlu lebih agresif mendiversifikasi penghimpunan dana jangka menengah non-konvensional lewat transaksi repo atau sertifikat deposito. Faktanya, baru bank besar saja yang memiliki sumber pendanaan non-konvensional. Itu pun baru mencapai 10 persen dari total DPK.

Jika bank masih tetap konsisten mengandalkan DPK konvensional, seperti tabungan, giro, atau deposito, perbankan mesti akomodatif terhadap nasabahnya. Nasabah sejatinya menghendaki semua kebutuhan jasa keuangan bisa disediakan perbankan, seperti tabungan, kredit, investasi, asuransi, transaksi, dan sejenisnya.

Tren bisnis perbankan ke depan niscaya dipengaruhi kebutuhan nasabah seperti ini. Salah satu perubahan yang paling menonjol adalah pergeseran layanan bank, dari kantor cabang ke produk bank berbasis teknologi finansial.

Tanpa reorientasi yang komprehensif, kekeringan likuiditas senantiasa berulang dan memicu predator pasokan dana bank antara teknologi finansial, SBN, obligasi swasta, serta investor domestik dan luar negeri. Jika begini, ramalan pendiri Microsoft, Bill Gates, pada 25 tahun lalu bakal menjadi kenyataan: "Bank" akan hilang, yang eksis tinggal "perbankan".

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

2 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

15 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

16 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

17 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

18 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

23 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

42 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

51 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024