Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Hibriditas

image-profil

Oleh

image-gnews
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dadang Sunendar.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dadang Sunendar.
Iklan

Bahasa Indonesia tak punya pangkal yang jelas, tak punya asal-usul yang pasti dan saya bersyukur karena itu. Kita mungkin tak perlu, dan tak akan pernah, tahu kapan bahasa itu lahir. Mungkin ia dilahirkan berkali-kali. Yang pasti bukan 28 Oktober 1928.

Ada sepotong pantun:

 

Dunia ini pang mantaganta

Ibarat Noraka pakkasiatta

Hidup tersiksa ri tomo butta

Terombang-ambing ri jene matta

 

Dunia tempat kita ada

Serasa ibarat neraka

Hidup yang di dunia ini tersiksa

Terombang-ambing berair mata

 

Bait murung itu separuhnya dalam bahasa Makassar, ditulis mungkin pada 1920-an, oleh Ang Ban Tjiong, penyair yang meninggal pada usia muda di tahun 1938. Ia dikenal sebagai penulis pantun “Melayu-Makassar”. Karyanya dimasukkan ke kategori “budaya Tionghoa”, tapi kita tahu, kategori tak pernah -memadai. Bahasa yang dipakai Ang Ban Tjiong menunjukkan ciri utama apa yang kemudian diberi nama “bahasa Indonesia”: hibriditas.

Ketika masih bernama bahasa “Melayu”, ia tak berasal di sebuah negeri. Dalam sebuah buku yang terbit pada abad ke-17, orang Jerman yang bekerja untuk VOC dan menjelajah ke pelbagai bagian Asia Timur, Johan Nieuhoff, menulis bahwa ia menemukan sebuah bahasa di Malaka; bahasa itu “tersusun dari kata yang terbaik dan terpilih dari banyak bahasa”.

Tentu saja ia salah. Yang membentuk bahasa itu bukan “kata yang terbaik dan terpilih” dari bahasa-bahasa lain. Tak ada ukuran yang jelas dan konsisten untuk menentukan “yang terbaik”. Bahasa terbentuk tanpa kriteria; ia tumbuh melalui ujaran yang paling efektif. Tapi Nieuhoff juga benar. Ia telah melihat: yang kemudian disebut “bahasa Indonesia“ terbangun dari banyak penjuru. Sampai hari ini.

Bahasa Melayu itu kukuh dan juga lemah, tulis Henk Meier, ilmuwan Belanda yang menelaah sastra dan bahasa di dua sisi Nusantara sejak Sejarah Melayu sampai dengan Pramoedya Ananta Toer. Bahasa itu “kukuh dalam kesanggupannya menarik minat yang aktif dari mereka yang juga menggunakan ‘bahasa’ lain”. Tapi juga “lemah”. Saya kutip Meier dari “Stammer and the creaking door” dalam Clearing a Space yang disusun Keith Foulcher dan Tony Day: bahasa ini lemah karena ia “kurang memiliki titik berat yang dapat menjadi satu standar dan satu kanun”.

Dengan kata lain, dalam sejarah sosial-politik bahasa ini, kita tak menemukan pusat yang bisa memberinya satu acuan. Tak ada sebuah istana, misalnya, di mana berlaku ketentuan cara bertutur yang memperlihatkan tinggi-rendahnya kelas seseorang, di mana “bahasa menunjukkan bangsa”. Tak ada lapisan pakar, akademikus, dan pujangga yang memberi tata dan arah, meskipun pernah dicoba ditegakkan.

Dalam bahasa Indonesia, Revolusi 1945 telah mengguncang tata dan arah—menghantam hierarki. Di Malaysia, misalnya, seorang menteri di depan Sultan akan menyebut diri “patik”—bahasa merendah tanda beradab—sedangkan dalam bahasa Indonesia dengan tanpa terkejut kita temukan Chairil Anwar menulis, pasca-Agustus 1945:

 

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji

Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,

dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu

 

Chairil bukan orang pertama yang memanggil sang pemimpin “bung”. Kata ini menandai getar kemerdekaan: revolusi adalah événement ketika subyek lahir bak sebuah letupan. Sebuah dunia yang egaliter pun terbangun. “Aku”, “kau”, “bung”….

Kata “bung” berkembang dari broer, bahasa Belanda untuk “saudara”, yang jadi sengau sebagaimana diucapkan dalam dialek Ambon di Jakarta. Ia diadopsi dalam kebebasan ketika sebuah identitas tak mau menutup diri: sebuah proses hibrida.

Chairil Anwar menegaskan ini. Dalam sajak “Buat Gadis Rasid”, misalnya:

 

Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati

Terbang

mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat

– the only possible non-stop flight

 

Ketika sang penyair tak canggung menyelipkan kiasan Inggris di sajaknya, ia membangun hibriditas dengan leluasa.

Dalam arti tertentu, hibriditas memang menandai pembebasan dari wacana yang membatasi dan menegaskan identitas sosial dan hierarkinya—sebuah narasi penjajahan. Seperti disimpulkan Homi Bhabha dari pengalaman kolonialisme di India: kekuatan hibriditas membuat mereka yang terjajah sanggup menantang perbatasan wacana, “the boundaries of discourse”. Wacana penjajahan telah membatasi “aku” dan “yang lain”, memisahkan “Ambon” dan “bukan-Ambon”, politik divide et impera yang membagi-bagi kita agar mudah dikuasai.

Syahdan: 28 Oktober 1928, sejumlah pemuda dengan gagah memilih bahasa Indonesia—nama baru yang melintas batas untuk bahasa “Melayu”—sebagai bahasa persatuan. Di saat itu, mereka t

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

10 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

24 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

25 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

25 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

26 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

32 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

51 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

24 April 2024

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024