Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Musim Dingin

image-profil

Oleh

image-gnews
Salju tebal menutupi kawasan sekitar Katedral Santo Basil setelah badai salju menghantam Moskow, Rusia, 6 Februari 2018. AP Photo/Alexander Zemlianichenko
Salju tebal menutupi kawasan sekitar Katedral Santo Basil setelah badai salju menghantam Moskow, Rusia, 6 Februari 2018. AP Photo/Alexander Zemlianichenko
Iklan

"Winter is coming...."-Ned Stark dalam Game of Thrones

Musim dingin mendekat, kehidupan akan beku-tak secara harfiah, tentu. Dalam kiasan ini, manusia akan terbentuk di dalam balok yang tak cair; ia tak lagi berproses, kreatif, dan berubah; ia masuk atau dimasukkan ke kotak dengan label yang mandek. "Aku ditakdirkan sebagai X, tak bisa lepas."

Waktu pun dilihat bukan seperti arus air sungai, sesuatu yang berubah dan mengubah. Waktu dianggap sebagai sesuatu yang-bak air dalam suhu di bawah nol derajat Celsius-terbagi-bagi dalam patahan, dalam ruas-ruas, dalam kurun.

Kita ingat Oedipus. Dalam dongeng Yunani Kuno ini, dikisahkan negeri Thebes terancam. Seekor makhluk sakti, bertubuh singa dan berkepala perempuan, akan membunuh siapa saja yang hendak masuk ke kota. Ia, Sphinx, akan menyodorkan sebuah teka-teki. Bila yang ditanya tak bisa memecahkannya, akan dibinasakan. "Coba tebak, apa yang bila pagi berkaki empat, siang berkaki dua, dan senja berkaki tiga?"

Akhirnya Oedipus datang dan menebak: "Itu manusia."

Seketika itu juga Sphinx terbang melesat. Diceritakan ia bunuh diri.

Tapi saya punya tafsir yang berbeda. Sphinx tak bunuh diri; ia hanya menjauh. Tebakan Oedipus tepat: manusia hidup dalam kurun waktu-dalam masa kecil yang merangkak, dalam masa dewasa yang melangkah tegak, dan dalam masa tua ketika ia harus memakai tongkat untuk berjalan. Raib dari gerbang, Sphinx membiarkan Oedipus masuk Thebes untuk meneguhkan kebenaran tebakannya-yang sebenarnya defaitis-dengan riwayat hidupnya sendiri.

Dan itulah yang terjadi. Di Thebes, sebagaimana dikisahkan drama karya Sophokles yang termasyhur itu, Oedipus dinobatkan. Ia pahlawan yang membuat Sphinx pergi. Tapi kemudian segalanya berubah. Wabah berkecamuk dan sang penyelamat dianggap sebagai najis yang jadi biang penyakit: seseorang yang dituduh membunuh ayahnya dan menikahi ibu kandungnya sendiri.

Oedipus menyelidiki tuduhan itu-dan menemukan bukti bahwa si pendosa memang dirinya. Ia pun mencoblos matanya sendiri dan meninggalkan Thebes.

Demikianlah riwayatnya: kisah manusia seperti tebakan teka-teki Sphinx: dari tanpa curiga jadi buta, dari jaya jadi durjana, dari perkasa jadi terlunta-lunta.

Tapi di balik kisah perubahan itu, karya Sophokles ini sebenarnya sebuah pandangan statis tentang waktu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pertama, waktu digambarkan sebagai sebuah ruang beku yang terpotong-potong dalam masa ke masa: periode kanak, dewasa, dan uzur-bukan sebagai, dalam istilah Bergson, durée. Kedua, seluruh biografi Oedipus berlangsung dalam waktu yang mandek.

Riwayatnya sudah digariskan dewa-dewa: ia akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya sendiri. Ia tak bisa mengelak dari takdir itu. Ia kemudian memang membunuh ayahnya (tanpa tahu bahwa orang itu bapak kandungnya); ia meniduri ibunya (tanpa sadar ia membuahi rahim yang dulu mengandungnya). Dengan kata lain: ia hidup di atas garis nasib.

Oedipus akhirnya menyadari semua itu, tapi-di sinilah ia jadi tokoh tragedi yang dahsyat-ia tak memindahkan beban dosa ke luar dirinya.

Ia membutakan matanya-mungkin sebagai pelarian, karena tak ingin lagi menyaksikan dunia yang menghukumnya, atau mungkin juga sebagai hukuman kepada dirinya sendiri.

Dalam kedua kemungkinan itu, ia tunjukkan ia pelaku yang merdeka, bukan marionet dewa-dewa. Ia melepaskan diri dari waktu yang membeku yang hanya mengulangi desain langit. Baginya, waktu bukan urutan kronologi, melainkan loncatan ke dalam gelap.

Dalam hal ini, Oedipus sebuah jawaban bagi pertanyaan klasik: benarkah manusia merdeka? Atau hanya obyek takdir?

Perdebatan ini pernah terjadi di abad ke-9 dalam sejarah filsafat Islam, antara kaum Mu’tazilah dan kaum Asy’ariyah. Persoalan ini muncul kembali ketika dunia modern yang dikepung teknologi dan kapitalisme digugat dan manusia tak lagi dianggap subyek yang bebas.

Baru-baru ini Yuval Noah Harari, misalnya, berbicara tentang hal itu. "Bila Coca-Cola, Amazon, Baidu, atau pemerintah tahu bagaimana memainkan tali hatimu dan menekan tombol otakmu," tulisnya dalam 21 Lessons for the 21st Century, apa beda dirimu dengan profil yang dikonstruksikan pakar pemasaran? Benarkah kita subyek, bukan obyek? Keputusan kita, katanya pula, berdasarkan perasaan, tapi perasaan itu bukan kemauan yang bebas, melainkan hasil "mekanisme biologis", "algoritma yang diasah melalui evolusi jutaan tahun".

Harari sebenarnya ingin membawakan suara cemas akan musim dingin yang mendekat. Tapi cemasnya berlanjut hingga ia tak percaya lagi kemerdekaan manusia untuk memilih untuk tak jadi es. Ia seorang "Asy’ariyah" abad ini: mempercayai takdir jenis baru.

Peringatannya patut, tapi mungkin sedikit rabun. Diabaikannya pengalaman bahwa dalam hidup selalu ada yang dihayati sebagai baru. Dalam karya kreatif, benda, manusia, dan waktu tak pernah membeku. Sejarah adalah Oedipus: keputusan dalam luka, langkah meninggalkan Thebes, loncatan ke dalam entah, juga di bawah bayangan musim dingin.

Goenawan Mohamad

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

17 jam lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

14 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

15 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

15 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

16 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

22 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

41 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

50 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024