Selasa, 20 November 2018

Kampanye

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Pemilu. ANTARA/Wahyu Putro

    Ilustrasi Pemilu. ANTARA/Wahyu Putro

    Putu Setia
    @mpujayaprema

    SUDAH sebulan kampanye pemilu dimulai, Wayan Moncel belum juga dapat rezeki. Petani kopi di lereng Gunung Batukaru ini heran dengan pemilu serentak yang akan datang, kok sepi kampanyenya. "Tak ada satu pun baju kaus yang saya dapatkan," katanya.

    Tadinya dia berharap dapat rezeki nomplok lewat hajatan politik ini. Di desanya, ada tiga calon anggota legislatif, semua dari partai berbeda. Dua calon anggota legislatif tingkat provinsi dan satu tingkat kabupaten. Tadinya Moncel berhitung, setidaknya dia akan dapat dua baju kaus, lalu empat sampai enam jasa pemasangan baliho. Di Bali, ada 42 calon anggota Dewan Perwakilan Daerah, dan Moncel berharap paling tidak sepuluh calon akan memasang baliho di desanya. Dia punya kebun bambu dan siap memberi harga Rp 300 ribu untuk pemasangan baliho.

    "Pemasangan baliho tak bisa sembarangan seperti dulu. Ada aturannya kapan dan di mana bisa dipasang," kata saya. Moncel saya sarankan untuk mencari celah lain mengais rezeki dari pemilu nanti.

    Dia sudah kontak dengan caleg tingkat provinsi. Caleg petahana itu menawarkan bantuan sosial dari jatahnya sebagai anggota DPRD. Moncel yang punya kelompok tani diminta membuat proposal asal-asalan. Dijanjikan uang Rp 50 juta keluar sebelum pemilu, tapi dengan syarat Moncel harus mengumpulkan minimal 90 suara.

    "Saya juga kontak dengan caleg penantang baru, tapi tak ada reaksi," kata Moncel. Dia sebut caleg itu seperti tak bersemangat untuk ikut pemilu. Mungkin dia pikir percuma kampanye buang-buang duit, toh juga akan kalah melawan petahana. "Ya, dia pernah bilang, calon presidennya saja tak bersemangat untuk kampanye."

    Untuk calon tingkat kabupaten juga sudah dijalin kerja sama. Yang ini murni "jual suara" nilainya Rp 300 ribu per suara. Urusan pelik nantinya adalah istri-istri petani kopi ini akan sulit menghafal caleg yang akan dicoblos. Ada lima surat suara, satu untuk pemilu legislatif kabupaten, satu untuk provinsi, satu untuk pusat, satu untuk memilih DPD, dan satu lagi memilih pasangan presiden dan wakil presiden. Semua caleg yang dipilih partainya beda, masih untung nomor urutnya tak sampai sepuluh. Tapi, DPD yang disepakati dicoblos nomor 32, emak-emak susah menelusurinya. Para emak bingung membayangkan pemilu serentak yang ribet ini. Harusnya cukup tiga surat suara, satu untuk memilih presiden, satu untuk memilih DPD, dan satu lagi memilih partai, terserah siapa yang didudukkan oleh partai didewan. "Itu usul bagus, tapi tidak adil. Kita harus memilih sendiri tokoh yang layak jadi wakil rakyat," kata saya.

    Moncel sendiri tak masalah, meski dia perkirakan akan terjadi banyak kengawuran saat pencoblosan. Yang dia jadikan pikiran adalah siapa pasangan presiden-wakil presiden yang dipilih. Kata dia, ada presiden yang bagus tapi wakilnya selalu bicara soal agama, soal halal-haram, ekonomi syariah, kok tidak berpikir soal kemajemukan. Saya tanya, memangnya ada tim sukses untuk capres? "Eh, ya... Tak ada. Semua caleg sibuk dengan dirinya dibanding sibuk menjual siapa presidennya," katanya.

    Saya katakan ke Moncel, semua itu karena kampanye belum berjalan optimal. Belum boleh pasang baliho, belum boleh pasang iklan di media. Kampanye sekarang baru pada tahap kampanye negatif untuk menelanjangi keburukan calon presiden dan wakil presiden di pihak lawan. Mendekati pemilu akan berubah karena para caleg lebih memikirkan dirinya sendiri dan partai-partai bertarung di dalam koalisinya untuk mengklaim siapa yang pantas disebut paling berjasa memenangkan calon presiden.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.