Rabu, 12 Desember 2018

Remaja dan Bencana

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa mendata rekannya saat hari pertama masuk sekolah di SMA PGRI, Palu, Sulawesi Tengah, Senin, 8 Oktober 2018. Pihak sekolah melakukan pendataan pada hari pertama sekolah untuk mengetahui jumlah siswa pascabencana gempa dan tsunami Palu. ANTARA

    Siswa mendata rekannya saat hari pertama masuk sekolah di SMA PGRI, Palu, Sulawesi Tengah, Senin, 8 Oktober 2018. Pihak sekolah melakukan pendataan pada hari pertama sekolah untuk mengetahui jumlah siswa pascabencana gempa dan tsunami Palu. ANTARA

    Nova Riyanti Yusuf
    Dokter Jiwa

    Bagaimana konteks bencana dengan dampak terhadap kesehatan jiwa manusia? Sesuai dengan tema Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2018, kelompok usia yang menjadi perhatian adalah remaja dan kesehatan jiwa di dunia yang terus berubah. Remaja Indonesia punya kekhususan karena mereka hidup di wilayah Cincin Api Pasifik.

    Anak-anak dan remaja kerap menyaksikan bencana dan dapat dipengaruhi oleh peristiwa tersebut dengan konsekuensi yang berlangsung seumur hidup. Bencana alam, seperti gempa bumi, termasuk kejadian traumatis, selain penelantaran, kekerasan senjata api, perang, serangan fisik, dan kecelakaan. Negara harus hadir dan menjadi pelopor penyiapan respons kesehatan jiwa bagi anak muda.

    Ide persiapan anak muda dalam menghadapi bencana secara psikologis telah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Para pemuda juga telah dilatih untuk saling membantu. Namun ide bahwa guru dan murid harus diberi pelatihan rutin untuk memiliki kemampuan menghadapi bencana masih belum diutamakan dalam program pelatihan guru dan kurikulum sekolah. Pelatihan menghadapi kebakaran dan gempa bumi cukuplah lazim, tapi pelatihan psikologis untuk keadaan setelah bencana terhitung masih jarang.

    Sistem dukungan sebaya bagi kesehatan jiwa remaja pada umumnya sangat penting, tapi penekanan dalam konteks bencana adalah pada situasi traumatik tertentu yang potensial akan memperburuk masalah yang ada atau menciptakan banyak masalah baru. Kebanyakan orang akan kembali normal setelah bencana atau keadaan darurat. Proporsi yang signifikan, walau tergantung pada sifat insiden, adalah 5-15 persen akan mengalami masalah dalam jangka pendek, seperti masalah tidur, kehilangan nafsu makan, regresi sosial, dan kesulitan dalam berkonsentrasi pada proses pendidikan.

    Banyak program telah dipraktikkan di seluruh dunia untuk mengatasi hal ini. Program Intervensi Stres Pemuda di antaranya adalah yang khusus berkaitan dengan bencana, seperti 1) mengatasi stres dan mempelajari cara-cara untuk menangani situasi tersebut, 2) mempromosikan pandangan yang optimistis versus pesimistis, 3) menekankan arti hidup (pencegahan bunuh diri), 4) strategi pagi setelah bencana (bagaimana menangani kembali normal).

    Memiliki pemahaman tentang stres dan bagaimana stres mempengaruhi individu sangat penting untuk pertolongan psikologis pertama. Reaksi seperti gemetar dan kebingungan adalah normal setelah bencana, akan mengurangi kekhawatiran seseorang, dan memungkinkan dia untuk kembali normal lebih cepat.

    Pemuda harus dilibatkan untuk membantu dalam kondisi pasca-bencana. Orang-orang yang dipersiapkan agar memiliki fungsi (dan mampu melaksanakannya) di bawah tekanan diharapkan akan mengatasi lebih baik setelah peristiwa yang menegangkan ketimbang mereka yang tidak memiliki tugas untuk diselesaikan. Pemuda dapat dimobilisasi untuk kesiapsiagaan darurat dengan menggunakan latihan yang mengembangkan kapasitas pribadi dan tim. Dimensi-dimensi yang perlu terkandung di dalamnya adalah kemampuan organisasi dan kapasitas kognitif melalui pelatihan pertolongan pertama.

    Dalam konteks kesiapsiagaan bencana, anak muda juga perlu berkonsentrasi pada pengajaran untuk mempunyai keterampilan mendengar aktif dan kemampuan persuasi dengan penekanan pada deteksi dini perilaku bunuh diri dan pencegahannya. Tidak ada yang tidak mungkin saat individu dihadapkan pada bencana alam yang massif dan merenggut semua miliknya, seperti keluarga, harta, kewarasan, termasuk membuat keputusan untuk bunuh diri. Diskusi tentang makna hidup, keinginan untuk hidup, dan pengalaman emosional merupakan aspek-aspek penting. Hal ini penting bagi anak muda, baik sebagai relawan non-penyintas maupun sebagai penyintas bencana yang harus bangkit berdiri untuk berperan di tengah-tengah para penyintas.

    Indonesia harus berhenti menyangkal soal potensi bencana alam. Guru-guru harus dibekali kemampuan menjembatani kondisi pasca-bencana. Tentunya hal ini dilakukan dengan pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi guru dan pelajar. Program-program ini harus dipersiapkan secara teknis oleh pemangku kepentingan remaja, seperti Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendi-dikan, serta pemerintah daerah. Para guru perlu mendapatkan pembekalan- mengenai stres dan kesiap-siagaan bencana. Kemampuan organisasi dan adaptasi juga sangatlah penting.


     

     

    Lihat Juga