Selasa, 20 November 2018

Ketika Para Perempuan di Kursi Lelaki

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktris Sandra Oh pemeran Eve Polastri  dalam serial Killing Eve. Ia menjadi salah satu nominasi Emmy Awards dalam kategori aktris pemeran utama dalam serial drama. AP/BBC America

    Aktris Sandra Oh pemeran Eve Polastri dalam serial Killing Eve. Ia menjadi salah satu nominasi Emmy Awards dalam kategori aktris pemeran utama dalam serial drama. AP/BBC America

    Mereka berdua duduk di dalam ruang tidur sebuah apartemen di Paris. Eve Polastri (Sandra Oh) mengatakan dia tak bisa berhenti memikirkan Villanelle alias Oxana (Jodie Comer), si pembunuh bayaran, seorang psikopat  yang telah membunuh puluhan orang di berbagai pelosok negara tanpa meninggalkan jejak. Villanelle mendengarkan pengakuan Eve dengan penuh gairah. Dan pada saat yang terasa begitu intim, adegan berikut adalah sebuah twist yang membuat serial ini meledak sebagai salah satu serial produksi BBC One yang berhasil mendapat nominasi Emmy Awards tahun ini.

    Eve Polastri sebetulnya salah satu pegawai rendahan di MI-5 yang terikat di meja, memberikan analisis; salah satunya seperti yang terjadi pada sebuah Sabtu pagi yang menjengkelkan itu: para analis dan agen MI-5 mendapatkan briefing bahwa salah satu politisi terkemuka terbunuh, Eve satu-satunya yang menebak berdasarkan insting bahwa pembunuhnya pasti perempuan. Dari saling ejek mengejek di ruang rapat dengan atasannya yang bertaruh gender pembunuhnya, akhirnya apa yang ‘ditebak’ Eve memang nyata. Pembunuh sang politikus adalah seorang perempuan. Dari mana kau bisa menebaknya? tanya Bill, atasannya yang kalah taruhan. “Politikus itu terkenal seorang chauvinist. Pasti dia tak menduga perempuan itu adalah pembunuh berdarah dingin,” demikian kata Eve yang mengaku dia hanya menggunakan insting belaka.

    Tapi sesungguhnya Eve mempunyai satu obsesi. Bosan dengan pekerjaan analisisnya di belakang meja, diam-diam di apartemen yang dia tempati bersama suaminya, Eve melakukan penyelidikan terhadap pembunuhan terhadap beberapa tokoh terkemuka di berbagai negara di Eropa. Serangkaian pembunuhan itu tak pernah meninggalkan jejak apapun, tetapi Eve menemukan beberapa persamaan yang dia simpan sendiri karena di kantornya analisisnya hampir tak pernah dianggap serius oleh bos-bos besar.

    Sampai hari Sabtu pagi itu…

    Serial ini yang diangkat dari beberapa novel karya Luke Jennings menjadi salah satu serial  televisi terkemuka karena tahun ini. Semua peran penting di dunia intelijen dimainkan oleh perempuan: Sandra Oh sebagai Eve Plastri, pegawai rendahan MI-5 yang melejit seperti meteor ketika analisa demi analisanya semakin mendekati pada sosok pembunuh yang dikenal dengan nama Villanelle (Jody Comer), seorang perempuan muda usia 30 -an yang tak jelas asal-usulnya, sangat brilian, fasih berbagai bahasa dan ketika dia sedikit meninggalkan jejak bukan karena ceroboh tapi dia sengaja ingin Eve Polastri menemukannya.

    Ini jelas cerita kejar mengejar kucing dan tikus, tetapi Eve adalah sosok kharismatik, magnetik sekaligus brutal sehingga mungkin lebih cocok menyebutnya sebagai kejar mengejar antara kucing rumah dengan kucing jalanan yang brutal. Kedua perempuan ini masing-masing memperlihatkan kekuatan luar biasa sekaligus secara perlahan pada setiap episode terlihat semakin mengagumi kecerdasan lawan. Sementara para lelaki di sekeliling mereka, baik di MI-5 maupun kantor intelijen Rusia, sama-sama kikuk dengan keperkasaan Eve dan atasannya Carolyn Martens (Fiona Shaw, yang kita kenal dari seri film Harry Potter).  Kepala Desk Rusia di MI 6 , Martens lalu merekrut Eve dan menugaskannya  di luar protocol MI-5 dan MI-6 untuk mengendus dan menangkap si pembunuh yang sudah mengerikan tingkahnya itu.

    Pengejaran itu tentu saja tak mudah bukan hanya karena Eve harus meloncat dari Paris ke Moscow lantas kembali lagi ke Paris –sembari meninggalkan suaminya yang ngambeg—tetapi karena Villanelle seolah memiliki empat buah mata yang selalu sepuluh langkah di depan Eve. Belum lagi begitu banyak pengkhianat di dalam tubuh MI-5 yang sebetulnya punya kepentingan agar para politisi yang dibunuh itu dibiarkan saja menggantung.

    Serial ini bisa dikatakan serial TV terbaik, apalagi dengan kekosongan Game of Thrones tahun ini. Selain skenario yang rapi, penuh kelokan, ada humor, dan tetap ada ketegangan yang dipelihara, para pemain (baca: tiga aktris utama yakni Sandra Oh, Jody Comer dan Fiona Shaw) tampil luar biasa. Yang agak mengkhawatirkan adalah seberapa jauh creator serial ini bisa mempertahankan sosok Villanelle. Berapa jauh penonton TV bisa terus menerus menyaksikan bagaimana impunitas terjadi. Tingkah laku Villanelle yang begitu mudah membunuh orang (dengan menusuk mata menggunakan jepit rambut, atau meracuni orang) dan begitu sulitnya polisi dan komunitas intelijen meringkusnya, hingga terkesan dunia hitam sungguh berkuasa dan menang. Ini sebuah formula yang tak mungkin bisa dipertahankan selamanya. Pada satu titik, penonton akan lelah melihat kemudahan yang diperoleh Villanelle dalam bersiasat dan bergerak. Satu saat dia harus tertangkap, meski pembunuh secerdas dia bisa saja lolos dari penjara.

    Tapi untuk musim tayang pertama, Killing Eve adalah serial televisi yang menggebrak.

    KILLING EVE

    Kreator : Phoebe Waller – Bridge

    Berdasarkan serial novel Codename Villanelle karya Luke Jennings

    Pemain: Sandra Oh, Jodie Comer, Fiona Shaw, Darren Boyd


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.