Selasa, 18 Desember 2018

Suporter Beringas Pencinta Klub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ucapan duka atas meninggalnya Haringga Sirla, suporter Persija yang tewas dikeroyok saat berlangsung pertandingan Timnas U-19 Indonesia melawan Cina dalam laga PSSI 88th U19 International Tournament di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Selasa, 25 September 2018. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Ucapan duka atas meninggalnya Haringga Sirla, suporter Persija yang tewas dikeroyok saat berlangsung pertandingan Timnas U-19 Indonesia melawan Cina dalam laga PSSI 88th U19 International Tournament di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Selasa, 25 September 2018. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Dalam urusan kompetisi sepak bola, Indonesia boleh dikatakan tak berbeda dengan keledai yang terjerembap berkali-kali. Tewasnya pendukung Persija Jakarta, Haringga Sirla, oleh para pendukung Persib- Bandung pada Ahad pekan lalu merupakan salah satu akibat buruknya manajemen pengamanan kompetisi itu.

    Kompetisi sepak bola di Indonesia dijalankan dengan meniru liga-liga modern. Nama Liga 1, kompetisi tertinggi sepak bola di Tanah Air—yang diikuti, antara lain, oleh Persija dan Persib—pun mirip kompetisi di Prancis: Ligue 1. Liga ini dikelola PT Liga Indonesia Baru, yang dibentuk tahun lalu, menggantikan PT Liga yang bertahun-tahun mengelola kompetisi.

    Sayang sekali, operatornya tidak sekaligus meniru manajemen pertandingan di liga modern. Jadwal laga, misalnya, beberapa kali bertabrakan dengan pertandingan tim nasional, yang pemain-pemainnya juga diambil dari klub. Manajemen terburuk terlihat pada pengamanan pertandingan, terutama untuk laga penting semacam Persib versus Persija, yang menewaskan Haringga.

    Haringga, 23 tahun, dikeroyok suporter Persib beberapa jam sebelum pertandingan di kompleks Gelora Bandung Lautan Api. Tak ada petugas keamanan yang menghentikan tindakan barbar itu. Padahal pertandingan di antara kedua klub selalu mempertemukan kelompok suporter fanatik, yang beberapa kali diwarnai bentrokan berujung maut. Dalam enam tahun terakhir, perselisihan antarsuporter kedua klub telah merenggut tujuh nyawa, termasuk Haringga.

    Liga di berbagai negara selalu memiliki pertandingan penting yang melibatkan pendukung fanatik. Pengelolanya selalu meningkatkan pengamanan pada pertandingan semacam ini. Secara keseluruhan, pengamanan pun dijalankan dengan serius. Klub bisa melarang seseorang yang terbukti melakukan kekerasan—termasuk kekerasan verbal seperti teriakan rasis—masuk stadion seumur hidup.

    Jika manajemen seperti itu dilakukan, hilangnya tujuh nyawa pada saat pertandingan sepak bola semestinya tidak terjadi. Hukuman berat perlu dijatuhkan kepada klub dan pendukungnya agar tindak kekerasan tidak terus berulang. Keputusan induk organisasi sepak bola nasional, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), untuk menghentikan sementara Liga 1 seharusnya dilanjutkan dengan evaluasi menyeluruh terhadap kompetisi ini.

    Klub pun tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Kode Disiplin PSSI 2018 menyebutkan baik klub tuan rumah maupun tim tamu bertanggung jawab atas tingkah laku suporternya. Hukuman menjalani pertandingan tanpa penonton bagi klub yang suporternya merenggut nyawa suporter lain tidaklah cukup. PSSI dapat menjatuhkan hukuman lebih berat, termasuk degradasi atau larangan klub tampil di kompetisi apa pun selama periode waktu tertentu.

    PSSI bisa mencontoh Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) yang melarang klub-klub Inggris berkompetisi di Eropa selama lima tahun, menyusul tewasnya 39 orang dalam pertandingan Piala Champions-—kini Liga Champions—antara Liverpool dan Juventus di Stadion Heysel, Brussels, Belgia, pada 29 Mei 1985. Jatuhnya korban jiwa dalam pertandingan sepak bola merupakan masalah serius yang harus ditangani dengan tindakan keras.

    Tragedi yang menimpa Haringga hendaknya juga menjadi momentum bagi kelompok suporter untuk memperbaiki perilaku. Mereka harus memahami bahwa tindak kekerasan yang mereka lakukan tidak hanya bertentangan dengan nilai-nilai sportivitas, tapi juga dapat merugikan klub yang mereka bela secara mati-matian. Hal itu bisa dimulai dari hal kecil, misalnya tidak menyoraki pemain lawan yang digotong ke luar lapangan ketika mengalami cedera.

    Sepak bola seharusnya menjadi hiburan, bukan ladang pembantaian antarsuporter.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Pemilih Tetap Tahap Kedua untuk Pilpres 2019

    Komisi Pemilihan Umum atau KPU akhirnya mengumumkan perbaikan Daftar Pemilih Tetap tahap kedua pada 15 Desember 2018 untuk Pilpres 2019.