Senin, 15 Oktober 2018

Mimpi 121 Menit ke Dunia Orang Kaya Raya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Crazy Rich Asians

    Crazy Rich Asians

    Di New York, Rachel Chu (Constance Wu) hidup seperti perempuan muda kelas menengah yang lazim. Putri dari ibu tunggal yang migran ke Amerika Serikat, generasi yang besar dan tumbuh sebagai perempuan Amerika berdarah Tionghoa, Rachel adalah seorang dosen ekonomi sebuah perguruan tinggi di New York yang memiliki seorang kekasih tampan,  Nick Young. Hanya ada satu hal yang tak diketahui Rachel tentang pacarnya. Nick Young bukan saja ‘putera mahkota’ keluarga terkaya di Singapura, dia adalah bujangan terganteng yang sudah lama diidamkan seluruh gadis berikut para calon mertua. Rahasia itu akhirnya terkuak ketika sebuah undangan perkawinan terbesar abad itu meluncur. Perkawinan sahabat Nick  yang akan berlangsung di Singapura itu tak bisa dilewatkan sehingga Nick mengajak Rachel untuk  menghadirinya nun jauh di tanah airnya sekaligus memperkenalkannya pada keluarganya.

    Perlahan-lahan, Rachel mulai menyadari keanehan yang semula menyenangkan. Sejak di bandara, mereka berdua diladeni orang-orang yang langsung mengurus koper dan menggiringnya naik ke kelas VIP yang luar biasa mewah. Nick yang selama ini tampil  ‘biasa saja’, perlahan mengakui bahwa hidupnya  di Singapura “cukup nyaman” .

    Segalanya terbuka begitu pesawat mendarat ketika akhirnya Rachel menyadari bahwa ternyata keluarga besar Young adalah pemilik properti di  Singapura melainkan juga di berbagai negeri. Sebuah kilas balik puluhan tahun silam memperlihatkan bagaimana ibunda Nick, Eleanor Young (Michelle Yeoh) menepis sikap rasisme  para pelayan hotel di London –yang baru saja dibeli keluarganya—dengan tegas sekaligus menjaga keanggunan. Penolakan anggun ala Eleanor itu pula yang dialami Rachel Chu.

    Seperti Eleanor yang selalu dianggap ‘tidak cukup’ bagi mertuanya, Su Yi (Ah Ma),  itulah yang diucapkan Eleanor pada  Rachel Chu. Dengan dingin dan   tenang Eleanor memegang dagu Rachel sembari mengeluarkan ucapan yang paling mengerikan, “kau tak akan pernah cukup (untuk menjadi bagian dari keluarga Young).”

    Menghadapi keluarga Young bukan berarti Rachel hanya mengatur tingkah laku di hadapan nenekda matriarki Su Yi yang langkah kakinya dinantikan seluruh keluarga; tetapi itu berarti Rachel juga harus bisa menghadapi ‘teror’ pada sosialita yang cemburu padanya.

    Film ini disambut riang gembira jauh sebelum proses pembuatannya selesai karena dua hal. Pertama, inilah kali pertama, setelah 25 tahun, sebuah studio besar Hollywood memproduksi film dengan pemeran yang hampir semuanya terdiri dari orang Asia Amerika.  Tentu saja  film The Joy Luck Club (1993, Wayne Wang) pernah mewarnai Hollywood berdasarkan novel karya Amy Tan. Kedua, film ini pun diangkat dari novel laris karya Kevin Kwan. Menurut Kwan, ia ingin “memperkenalkan Asia kepada masyarakat Amerika” dengan mengingat pengalaman masa kecilnya di Singapura. Novel yang langsung meledak secara internasional ini sudah mempunyai dua ‘saudara’ (China Rich Girlfriend dan Rich People Problems) yang sudah dibeli hak adaptasinya ke dalam film.

    Meski ada beberapa perubahan kecil di sana-sini terutama pada akhir cerita, karena film tak mungkin memborong seluruh karakter yang tertera  dalam novel, sutradara John Chu berhasil membuat gambaran yang menarik dari keluarga ultra-kaya Young.  Nilai kekeluargaan khas negara Asia yang kemudian menjadi justifikasi untuk menolak “orang asing” masuk dalam keluarga langsung menjadi filsafat yang terus menerus didengungkan Eleanor Young yang menganggap Rachel sebagai “cewek Amerika”.

    Tata artistik dan tata-busana film ini juga sangat terasa autentik dengan menampilkan beragam pakaian dan perhiasan asli –yang konon merepotkan saat syuting karena penjagaannya mirip penjagaan kepala negara. Istana (atau mansion) milik keluarga Young digambarkan di  atas sebuah bukit dan di antara rerimbunan ‘hutan’ yang jauh dari bayangan umum tentang Singapura.

    Di antara kemewahan yang fantastis inilah tokoh kita Rachel Wu harus menghadapi penolakan dan sinisme yang menghambur bertubi-tubi ke hadapannya.   Tentu saja kita hapal formula Hollywood. Sang protagonis, Rachel akan berdiri tegak menggenggam nasibnya. Ia mencapai satu titik di mana dia ingat pelajaran dari ibunya: untuk memahami seberapa berharganya dirinya; seberapa jauh cinta dan harga diri bisa berkompromi.

    Sangat mudah untuk memahami mengapa novel maupun film ini meledak secara komersil dan juga dipuja puji kritikus berbagai negara. Meski pada judul novelis Kwan menyebut kata “Asia” dan “rich”, penonton bisa menganggap kisah film ini yang  cukup universal bahwa cinta yang kuat akhirnya harus  mengatasi segala hadangan, meski itu datang dari ibunda sang lelaki. Seluruh format film (maupun novel) adalah komedi romantis dengan pembagian babak dan akhir film yang sangat kita kenal, sangat Hollywood, sangat menyenangkan, dan diakhiri tepuk tangan. Seni peran Constance Wu sebagai Rachel Chu bersinar-sinar diimbangi keanggunan aktris senior Michelle Yeoh. Dengan rapper terkemuka Awkwafina yang berperan sebagai Goh Peik Lin,  sahabat Rachel dan Ken Jeong yang berperan sebagai ayah Peik Lin, maka dua pemain yang berfungsi sebagai comical-relief bisa menutupi datarnya penampilan Henry Golding.

    Tak ada gading yang tak retak, jadi untuk yang ingin nonton untuk sekedar hiburan dan menolak berpikir lebih dalam, maka sila abaikan paragraf berikut. Ada yang perlu diingat bahwa film ini juga menjadi kontroversi bagi kritikus dan penonton “Asia yang lain” karena Singapura dalam film ini tidak dianggap cukup representatif. Seratus dua puluh satu menit yang penuh warna pakaian dan lagu Madonna “Material Girl” dalam bahasa Tionghoa justru  sama sekali mengabaikan adanya warga India dan Melayu. Bahwa Kwan dalam novelnya dan Jon Chu dalam filmnya justru ingin menunjukkan betapa “cupet”nya keluarga kaya raya yang hanya bergaul antar sesamanya, tentu masih bisa diolah lagi oleh sutradara karena sesungguhnya Singapura terdiri dari  penduduk yang multirasial.

    Kata “Asia” dalam film ini sebetulnya cara  orang Barat (baca: Amerika) menyebut penduduk Asia-Amerika yang di masa lalu mereka sebut orang-orang dari “the east”. Sebutan ini akhirnya diperkuat oleh orang-orang dari negara Asia yang berkunjung ke negara Barat dan lelah menjelaskan letak Indonesia di dalam peta atau Bangladesh yang bukan bagian dari India. Artinya: kata “Asia” bukan saja menyempitkan arti benua yang terdiri dari negara dan bangsa yang sangat tidak homogen ini, tetapi juga menyempitkan pemahaman representasi.

    Kritik teknis dalam film ini juga adalah : saya kurang mendengar aksen Singlish yang sebetulnya menjadi ciri khas warga Singapura, di manapun mereka berada. Tentu gambaran keluarga kaya raya Young yang konon cuma berjumlah satu persen dari penduduk mungkin saja beraksen Inggris, tetapi keunikan Singapura –yang hanya digambarkan oleh adegan makanan pasar yang terlihat lezat itu—tak terlalu tampil.

    Tapi, sekali lagi, ini film hiburan berdurasi dua jam satu menit  dengan tujuan melihat orang-orang cantik, baju cantik, rumah dan pulau cantik dengan penyelesaian Hollywood. Setelah 121 menit itu, kita bisa kembali ke alam nyata.

    Crazy Rich Asians

    Sutradara: Jon M.Chu

    Skenario: Peter Chiarelli dan Adele Lim

    Berdasarkan novel karya Kevin Kwan

    Pemain: Constance Wu, Henry Golding, Gemma Chan, Awkwafina, Michelle Yeoh

               


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Citra serta Jurus Kampanye Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno

    Berlaga sebagai orang kedua, Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno melancarkan berbagai jurus kampanye, memerak citra mereka, dan menyambangi banyak kalangan.