Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Mimpi 121 Menit ke Dunia Orang Kaya Raya

image-profil

Oleh

image-gnews
Crazy Rich Asians
Crazy Rich Asians
Iklan

Di New York, Rachel Chu (Constance Wu) hidup seperti perempuan muda kelas menengah yang lazim. Putri dari ibu tunggal yang migran ke Amerika Serikat, generasi yang besar dan tumbuh sebagai perempuan Amerika berdarah Tionghoa, Rachel adalah seorang dosen ekonomi sebuah perguruan tinggi di New York yang memiliki seorang kekasih tampan,  Nick Young. Hanya ada satu hal yang tak diketahui Rachel tentang pacarnya. Nick Young bukan saja ‘putera mahkota’ keluarga terkaya di Singapura, dia adalah bujangan terganteng yang sudah lama diidamkan seluruh gadis berikut para calon mertua. Rahasia itu akhirnya terkuak ketika sebuah undangan perkawinan terbesar abad itu meluncur. Perkawinan sahabat Nick  yang akan berlangsung di Singapura itu tak bisa dilewatkan sehingga Nick mengajak Rachel untuk  menghadirinya nun jauh di tanah airnya sekaligus memperkenalkannya pada keluarganya.

Perlahan-lahan, Rachel mulai menyadari keanehan yang semula menyenangkan. Sejak di bandara, mereka berdua diladeni orang-orang yang langsung mengurus koper dan menggiringnya naik ke kelas VIP yang luar biasa mewah. Nick yang selama ini tampil  ‘biasa saja’, perlahan mengakui bahwa hidupnya  di Singapura “cukup nyaman” .

Segalanya terbuka begitu pesawat mendarat ketika akhirnya Rachel menyadari bahwa ternyata keluarga besar Young adalah pemilik properti di  Singapura melainkan juga di berbagai negeri. Sebuah kilas balik puluhan tahun silam memperlihatkan bagaimana ibunda Nick, Eleanor Young (Michelle Yeoh) menepis sikap rasisme  para pelayan hotel di London –yang baru saja dibeli keluarganya—dengan tegas sekaligus menjaga keanggunan. Penolakan anggun ala Eleanor itu pula yang dialami Rachel Chu.

Seperti Eleanor yang selalu dianggap ‘tidak cukup’ bagi mertuanya, Su Yi (Ah Ma),  itulah yang diucapkan Eleanor pada  Rachel Chu. Dengan dingin dan   tenang Eleanor memegang dagu Rachel sembari mengeluarkan ucapan yang paling mengerikan, “kau tak akan pernah cukup (untuk menjadi bagian dari keluarga Young).”

Menghadapi keluarga Young bukan berarti Rachel hanya mengatur tingkah laku di hadapan nenekda matriarki Su Yi yang langkah kakinya dinantikan seluruh keluarga; tetapi itu berarti Rachel juga harus bisa menghadapi ‘teror’ pada sosialita yang cemburu padanya.

Film ini disambut riang gembira jauh sebelum proses pembuatannya selesai karena dua hal. Pertama, inilah kali pertama, setelah 25 tahun, sebuah studio besar Hollywood memproduksi film dengan pemeran yang hampir semuanya terdiri dari orang Asia Amerika.  Tentu saja  film The Joy Luck Club (1993, Wayne Wang) pernah mewarnai Hollywood berdasarkan novel karya Amy Tan. Kedua, film ini pun diangkat dari novel laris karya Kevin Kwan. Menurut Kwan, ia ingin “memperkenalkan Asia kepada masyarakat Amerika” dengan mengingat pengalaman masa kecilnya di Singapura. Novel yang langsung meledak secara internasional ini sudah mempunyai dua ‘saudara’ (China Rich Girlfriend dan Rich People Problems) yang sudah dibeli hak adaptasinya ke dalam film.

Meski ada beberapa perubahan kecil di sana-sini terutama pada akhir cerita, karena film tak mungkin memborong seluruh karakter yang tertera  dalam novel, sutradara John Chu berhasil membuat gambaran yang menarik dari keluarga ultra-kaya Young.  Nilai kekeluargaan khas negara Asia yang kemudian menjadi justifikasi untuk menolak “orang asing” masuk dalam keluarga langsung menjadi filsafat yang terus menerus didengungkan Eleanor Young yang menganggap Rachel sebagai “cewek Amerika”.

Tata artistik dan tata-busana film ini juga sangat terasa autentik dengan menampilkan beragam pakaian dan perhiasan asli –yang konon merepotkan saat syuting karena penjagaannya mirip penjagaan kepala negara. Istana (atau mansion) milik keluarga Young digambarkan di  atas sebuah bukit dan di antara rerimbunan ‘hutan’ yang jauh dari bayangan umum tentang Singapura.

Di antara kemewahan yang fantastis inilah tokoh kita Rachel Wu harus menghadapi penolakan dan sinisme yang menghambur bertubi-tubi ke hadapannya.   Tentu saja kita hapal formula Hollywood. Sang protagonis, Rachel akan berdiri tegak menggenggam nasibnya. Ia mencapai satu titik di mana dia ingat pelajaran dari ibunya: untuk memahami seberapa berharganya dirinya; seberapa jauh cinta dan harga diri bisa berkompromi.

Sangat mudah untuk memahami mengapa novel maupun film ini meledak secara komersil dan juga dipuja puji kritikus berbagai negara. Meski pada judul novelis Kwan menyebut kata “Asia” dan “rich”, penonton bisa menganggap kisah film ini yang  cukup universal bahwa cinta yang kuat akhirnya harus  mengatasi segala hadangan, meski itu datang dari ibunda sang lelaki. Seluruh format film (maupun novel) adalah komedi romantis dengan pembagian babak dan akhir film yang sangat kita kenal, sangat Hollywood, sangat menyenangkan, dan diakhiri tepuk tangan. Seni peran Constance Wu sebagai Rachel Chu bersinar-sinar diimbangi keanggunan aktris senior Michelle Yeoh. Dengan rapper terkemuka Awkwafina yang berperan sebagai Goh Peik Lin,  sahabat Rachel dan Ken Jeong yang berperan sebagai ayah Peik Lin, maka dua pemain yang berfungsi sebagai comical-relief bisa menutupi datarnya penampilan Henry Golding.

Tak ada gading yang tak retak, jadi untuk yang ingin nonton untuk sekedar hiburan dan menolak berpikir lebih dalam, maka sila abaikan paragraf berikut. Ada yang perlu diingat bahwa film ini juga menjadi kontroversi bagi kritikus dan penonton “Asia yang lain” karena Singapura dalam film ini tidak dianggap cukup representatif. Seratus dua puluh satu menit yang penuh warna pakaian dan lagu Madonna “Material Girl” dalam bahasa Tionghoa justru  sama sekali mengabaikan adanya warga India dan Melayu. Bahwa Kwan dalam novelnya dan Jon Chu dalam filmnya justru ingin menunjukkan betapa “cupet”nya keluarga kaya raya yang hanya bergaul antar sesamanya, tentu masih bisa diolah lagi oleh sutradara karena sesungguhnya Singapura terdiri dari  penduduk yang multirasial.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kata “Asia” dalam film ini sebetulnya cara  orang Barat (baca: Amerika) menyebut penduduk Asia-Amerika yang di masa lalu mereka sebut orang-orang dari “the east”. Sebutan ini akhirnya diperkuat oleh orang-orang dari negara Asia yang berkunjung ke negara Barat dan lelah menjelaskan letak Indonesia di dalam peta atau Bangladesh yang bukan bagian dari India. Artinya: kata “Asia” bukan saja menyempitkan arti benua yang terdiri dari negara dan bangsa yang sangat tidak homogen ini, tetapi juga menyempitkan pemahaman representasi.

Kritik teknis dalam film ini juga adalah : saya kurang mendengar aksen Singlish yang sebetulnya menjadi ciri khas warga Singapura, di manapun mereka berada. Tentu gambaran keluarga kaya raya Young yang konon cuma berjumlah satu persen dari penduduk mungkin saja beraksen Inggris, tetapi keunikan Singapura –yang hanya digambarkan oleh adegan makanan pasar yang terlihat lezat itu—tak terlalu tampil.

Tapi, sekali lagi, ini film hiburan berdurasi dua jam satu menit  dengan tujuan melihat orang-orang cantik, baju cantik, rumah dan pulau cantik dengan penyelesaian Hollywood. Setelah 121 menit itu, kita bisa kembali ke alam nyata.

Crazy Rich Asians

Sutradara: Jon M.Chu

Skenario: Peter Chiarelli dan Adele Lim

Berdasarkan novel karya Kevin Kwan

Pemain: Constance Wu, Henry Golding, Gemma Chan, Awkwafina, Michelle Yeoh

           

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

1 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

14 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

15 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

16 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

17 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

22 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

41 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

50 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024