Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Praha

image-profil

Oleh

image-gnews
Asap yang mengepul dari sejumlah bangunan ketika suhu pusat kota Praha turun menjadi 11 derajat celcius di Rep. Ceko, 7 Januari 2017.  REUTERS/David W Cerny
Asap yang mengepul dari sejumlah bangunan ketika suhu pusat kota Praha turun menjadi 11 derajat celcius di Rep. Ceko, 7 Januari 2017. REUTERS/David W Cerny
Iklan

Di pekan ketiga Agustus 1968, Kota Praha nyaris hilang. Lewat tengah malam tanggal 20, 250 ribu anggota pasukan lima negara sosialis Eropa Timur, atas perintah kekuasaan Soviet di Moskow, bergerak masuk menduduki ibu kota Cekoslovakia itu. Prajurit Rusia, Jerman Timur, Polandia, Bulgaria, Hungaria, dengan bedil di tangan, tampak duduk di atas 2.000 tank dan deretan prahoto yang menderu di jalan-jalan.

Tak ada perlawanan bersenjata oleh orang-orang Cekoslovakia. Yang mereka lakukan hanya berteriak, memaki, mencoba menghalangi tank dengan bus-bus kosong, menyalakan api di beberapa bagian kota, dan membongkar nama-nama jalan agar pasukan asing itu tersesat. Mereka tak bermaksud perang. Satu-satunya tindakan kekerasan yang ekstrem adalah yang dilakukan seorang mahasiswa filsafat, Jan Palach: ia membakar diri, bukan orang lain, sebagai protes.

Orang-orang Praha itu hanya membangkang: mereka baru saja mencoba melepaskan diri dari kekuasaan Partai Komunis setempat yang mencekik. Mereka ingin menggantikannya dengan "sosialisme berwajah manusia". Mereka hampir berhasil. Pimpinan Partai diganti, pers dan radio lepas sensor, para tahanan politik yang dulu dituduh "kontrarevolusi" dibebaskan. Dan "Musim Semi Praha", Praské jaro, dirayakan di musim panas itu.

Tapi tak sampai sebulan, euforia itu dihabisi. Tercatat 82 orang tewas kena tembak, 300 luka parah.

Bagi Uni Soviet, yang memimpin Eropa Timur di bawah Pakta Warsawa, sosialisme yang dikehendaki di Praha itu adalah pengkhianatan. Sosialisme dengan kemerdekaan bicara, sosialisme dengan pemerintahan yang tak sentralistis, sosialisme dengan perekonomian yang tak didikte kekuasaan politikya, "sosialisme berwajah manusia" ituadalah percobaan yang tak bertanggung jawab. Itu kebebasan: itu kemewahan.

Bagi negara-negara yang berdiri atas nama "kediktatoran kelas buruh", kebebasan hanya ada di masa depan. Sejarah adalah tugas bersama seluruh negeri sosialis ke masa depan itu. Jika orang-orang di Praha itu menolak itu, mereka akan melemahkan langkah. Proyek pembebasan kaum buruh yang dimulai Lenin di Rusia sejak tahun 1917 akan gagal.

Pendek kata, "Musim Semi Praha" adalah musuh harapan proletariat: sebuah gagasan borjuis.

Tapi tidak bagi orang-orang Cekoslovakia di pertengahan 1960-an itu. Bagi mereka, soalnya lebih mendalam: bagaimana menerima sejarah.

Terutama di Praha. Di kota itu masa lalu meninggalkan bekas yang membayang dengan pesonagedung-gedung tua di Malastrana, Jembatan Karel abad ke-15, arsitektur Art Nouveau di sela-sela itu. Tapi masa lalu juga meninggalkan trauma: perang agama, perebutan antar-kerajaan, penindasan kaum aristokrat.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bagi para pembangkang, sejarah bukan tugas, melainkan kondisi yang tak terelakkan.?Bagi mereka, kondisi itu hanya punya kemungkinan luas jika dijalani dengan jiwa yang merdeka dandi sana-sinidengan kegembiraan.?

Tapi ini dianggap sesat.

Pada musim semi 1965, penyair Amerika Allen Ginsberggondrong, berjanggut lebat, botak, dengan lirikan gay, dengan mariyuana dan puisi yang memukaudatang ke Praha. Di lobi Hotel Ambassador, para pengagumnya menobatkannya sebagai "Raja Bulan Mei", Kral Majales. Sebuah guyon yang ternyata haram. Ginsberg diusir pemerintah komunis Cekoslovakia, meskipun ia musuh kapitalisme, perang, dan seterusnya.

Agaknya hanya Milan Kundera yang merumuskan ketegangan di tanah airnya dengan kocak dan dalambukan konflik dengan borjuasi, melainkan sengketa hidup yang "ringan" dengan sejarah yang "berat".

Kundera masuk Partai Komunis pada umur 18 tahun, pada 1948, tapi dua tahun kemudian ia dipecat. Kesalahannya: membuat sebuah parodi atas sajak seorang penyair komunis. Tokoh dalam novelnya, Lelucon (versi Inggris, The Joke), mungkin menyentuh kembali pengalaman sang pengarang: pada suatu hari, Ludvik Jahn mengirim sepucuk surat kepada pacarnya, Helena, yang dengan serius sedang mengikuti pekan indoktrinasi Partai: "Optimisme itu candu bagi rakyat! Iklim yang sehat berbau kebodohan! Hidup Trotsky!" Tak lama setelah itu, Ludvik Jahn dilaporkan, diinterogasi, dipecat dari universitas, dan harus menjalani tugas militer di tambang batu bara.

Ludvik, seorang pemuda sosialis, tentu tahu bahwa nama "Trotsky" adalah nama yang sudah dikutuk Stalin. Maka ia hanya mencoba lucu. Lelucon adalah tanda hidup sebagai sesuatu yang ringan di celah-celah sejarah. Bagi Kundera, bukan hanya lelucon yang seperti itu. Ia menulis novel buat menangkis yang "berat". "Semua novelku," katanya, "meruapkan napas antisejarah."

Sejarah, sebagaimana diproyeksikan Marxisme-Leninismeuntuk memenangkan sosialismeadalah narasi besar. Sejarah dengan ideologi seperti itu, seperti agama yang membuat orang memfokuskan diri ke surga, adalah jalan berbobot; ia beban, ia juga rantai. Sedangkan hidup, seperti novel, seperti lelucon, terbangun (dan bisa asyik) dari kebetulan-kebetulan, dari gerak bebas, bukan dari desain yang angkuh dan pasti.

Itu sebenarnya yang hendak dinyatakan Musim Semi Prahaperlawanan terhadap kepastian 10 ribu tank.

Goenawan Mohamad

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

8 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

21 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

22 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

23 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

24 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

30 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

48 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

58 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024