Rabu, 26 September 2018

Praha

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Asap yang mengepul dari sejumlah bangunan ketika suhu pusat kota Praha turun menjadi 11 derajat celcius di Rep. Ceko, 7 Januari 2017.  REUTERS/David W Cerny

    Asap yang mengepul dari sejumlah bangunan ketika suhu pusat kota Praha turun menjadi 11 derajat celcius di Rep. Ceko, 7 Januari 2017. REUTERS/David W Cerny

    Di pekan ketiga Agustus 1968, Kota Praha nyaris hilang. Lewat tengah malam tanggal 20, 250 ribu anggota pasukan lima negara sosialis Eropa Timur, atas perintah kekuasaan Soviet di Moskow, bergerak masuk menduduki ibu kota Cekoslovakia itu. Prajurit Rusia, Jerman Timur, Polandia, Bulgaria, Hungaria, dengan bedil di tangan, tampak duduk di atas 2.000 tank dan deretan prahoto yang menderu di jalan-jalan.

    Tak ada perlawanan bersenjata oleh orang-orang Cekoslovakia. Yang mereka lakukan hanya berteriak, memaki, mencoba menghalangi tank dengan bus-bus kosong, menyalakan api di beberapa bagian kota, dan membongkar nama-nama jalan agar pasukan asing itu tersesat. Mereka tak bermaksud perang. Satu-satunya tindakan kekerasan yang ekstrem adalah yang dilakukan seorang mahasiswa filsafat, Jan Palach: ia membakar diri, bukan orang lain, sebagai protes.

    Orang-orang Praha itu hanya membangkang: mereka baru saja mencoba melepaskan diri dari kekuasaan Partai Komunis setempat yang mencekik. Mereka ingin menggantikannya dengan "sosialisme berwajah manusia". Mereka hampir berhasil. Pimpinan Partai diganti, pers dan radio lepas sensor, para tahanan politik yang dulu dituduh "kontrarevolusi" dibebaskan. Dan "Musim Semi Praha", Praské jaro, dirayakan di musim panas itu.

    Tapi tak sampai sebulan, euforia itu dihabisi. Tercatat 82 orang tewas kena tembak, 300 luka parah.

    Bagi Uni Soviet, yang memimpin Eropa Timur di bawah Pakta Warsawa, sosialisme yang dikehendaki di Praha itu adalah pengkhianatan. Sosialisme dengan kemerdekaan bicara, sosialisme dengan pemerintahan yang tak sentralistis, sosialisme dengan perekonomian yang tak didikte kekuasaan politikya, "sosialisme berwajah manusia" ituadalah percobaan yang tak bertanggung jawab. Itu kebebasan: itu kemewahan.

    Bagi negara-negara yang berdiri atas nama "kediktatoran kelas buruh", kebebasan hanya ada di masa depan. Sejarah adalah tugas bersama seluruh negeri sosialis ke masa depan itu. Jika orang-orang di Praha itu menolak itu, mereka akan melemahkan langkah. Proyek pembebasan kaum buruh yang dimulai Lenin di Rusia sejak tahun 1917 akan gagal.

    Pendek kata, "Musim Semi Praha" adalah musuh harapan proletariat: sebuah gagasan borjuis.

    Tapi tidak bagi orang-orang Cekoslovakia di pertengahan 1960-an itu. Bagi mereka, soalnya lebih mendalam: bagaimana menerima sejarah.

    Terutama di Praha. Di kota itu masa lalu meninggalkan bekas yang membayang dengan pesonagedung-gedung tua di Malastrana, Jembatan Karel abad ke-15, arsitektur Art Nouveau di sela-sela itu. Tapi masa lalu juga meninggalkan trauma: perang agama, perebutan antar-kerajaan, penindasan kaum aristokrat.

    Bagi para pembangkang, sejarah bukan tugas, melainkan kondisi yang tak terelakkan.?Bagi mereka, kondisi itu hanya punya kemungkinan luas jika dijalani dengan jiwa yang merdeka dandi sana-sinidengan kegembiraan.?

    Tapi ini dianggap sesat.

    Pada musim semi 1965, penyair Amerika Allen Ginsberggondrong, berjanggut lebat, botak, dengan lirikan gay, dengan mariyuana dan puisi yang memukaudatang ke Praha. Di lobi Hotel Ambassador, para pengagumnya menobatkannya sebagai "Raja Bulan Mei", Kral Majales. Sebuah guyon yang ternyata haram. Ginsberg diusir pemerintah komunis Cekoslovakia, meskipun ia musuh kapitalisme, perang, dan seterusnya.

    Agaknya hanya Milan Kundera yang merumuskan ketegangan di tanah airnya dengan kocak dan dalambukan konflik dengan borjuasi, melainkan sengketa hidup yang "ringan" dengan sejarah yang "berat".

    Kundera masuk Partai Komunis pada umur 18 tahun, pada 1948, tapi dua tahun kemudian ia dipecat. Kesalahannya: membuat sebuah parodi atas sajak seorang penyair komunis. Tokoh dalam novelnya, Lelucon (versi Inggris, The Joke), mungkin menyentuh kembali pengalaman sang pengarang: pada suatu hari, Ludvik Jahn mengirim sepucuk surat kepada pacarnya, Helena, yang dengan serius sedang mengikuti pekan indoktrinasi Partai: "Optimisme itu candu bagi rakyat! Iklim yang sehat berbau kebodohan! Hidup Trotsky!" Tak lama setelah itu, Ludvik Jahn dilaporkan, diinterogasi, dipecat dari universitas, dan harus menjalani tugas militer di tambang batu bara.

    Ludvik, seorang pemuda sosialis, tentu tahu bahwa nama "Trotsky" adalah nama yang sudah dikutuk Stalin. Maka ia hanya mencoba lucu. Lelucon adalah tanda hidup sebagai sesuatu yang ringan di celah-celah sejarah. Bagi Kundera, bukan hanya lelucon yang seperti itu. Ia menulis novel buat menangkis yang "berat". "Semua novelku," katanya, "meruapkan napas antisejarah."

    Sejarah, sebagaimana diproyeksikan Marxisme-Leninismeuntuk memenangkan sosialismeadalah narasi besar. Sejarah dengan ideologi seperti itu, seperti agama yang membuat orang memfokuskan diri ke surga, adalah jalan berbobot; ia beban, ia juga rantai. Sedangkan hidup, seperti novel, seperti lelucon, terbangun (dan bisa asyik) dari kebetulan-kebetulan, dari gerak bebas, bukan dari desain yang angkuh dan pasti.

    Itu sebenarnya yang hendak dinyatakan Musim Semi Prahaperlawanan terhadap kepastian 10 ribu tank.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Joaquin Phoenix dan Para Pemeran Joker Sejak 1966

    Sutradara film terbaru Joker, Todd Phillips mengunggah foto pertama Joaquin Phoenix sebagai Joker, akan tayang Oktober 2019. Inilah 6 pemeran lainnya.