Rabu, 21 November 2018

Tawuran Brutal Geng Sekolah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tawuran. Dok. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Ilustrasi tawuran. Dok. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Tawuran antar-anak sekolah yang terjadi di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu dinihari pekan lalu bukan lagi kenakalan remaja biasa. Seorang pelajar tewas dalam kejadian itu. Tawuran tersebut dipicu saling ejek di media sosial. Kedua kelompok akhirnya saling tantang, lalu menentukan waktu dan tempat bertarung. Senjata tajam pun mereka siapkan, termasuk air keras yang digunakan untuk menyiram korban.

    Kejadian di Kebayoran Lama itu melibatkan geng Gusdon atau Gusuran Donat, yang anggotanya terdiri atas sejumlah siswa dari Sekolah Menengah Atas Negeri 32 Jakarta Selatan, Madrasah Annajah, dan SMA Moh. Husni Thamrin Tangerang Selatan. Lawan mereka adalah murid SMA Muhammadiyah 15 Jakarta Selatan. Waktu tawuran juga mereka tentukan, yakni malam atau dinihari untuk menghindari polisi.

    Kita, dalam hal ini pihak sekolah, orang tua, dan polisi, telah kecolongan. Tawuran selama ini dianggap sebagai kenakalan remaja biasa. Geng yang tumbuh di sekolah-sekolah hanya dipandang sebagai alat untuk mencari jati diri. Kenyataannya, yang mereka lakukan sudah melewati batas.

    Sebenarnya, kejahatan remaja seperti yang melibatkan anak sekolah ini bukan hal baru. Di berbagai daerah, perilaku menyimpang ini muncul dengan nama lokal. Di Yogyakarta, misalnya, dikenal dengan sebutan klithih dan di Jawa Barat dengan nama wara-wiri. Bahkan pelaku klithih membuat perencanaan matang, dari membagi tugas, survei lokasi, sampai menyiapkan senjata, sebelum menyerang lawan.

    Sayangnya, akar permasalahan ini tidak pernah dicari untuk diselesaikan. Dinas Pendidikan dan polisi baru sibuk ketika ada kejadian yang memakan korban jiwa, tapi tidak pernah ada upaya menuntaskan kasusnya. Sekolah berupaya cuci tangan dan orang tua berusaha menyelamatkan anaknya dari jerat hukum.

    Dalam kejadian di Jakarta Selatan itu, polisi semestinya tidak hanya berfokus pada pengeroyokan yang menyebabkan korban meninggal. Polisi harus mengusut pemicu dari kedua kelompok pelaku tawuran sekaligus menyelesaikannya secara hukum. Pelaku, yang kebanyakan di bawah umur, tetap harus diproses secara hukum meski tidak perlu dijebloskan ke penjara. Mereka harus dibina dengan melibatkan dinas pendidikan, sekolah, dan orang tua.

    Polisi, guru, dan orang tua juga perlu lebih aktif melakukan patroli dunia maya. Geng-geng ini biasanya menantang lawan dengan mengunggah tayangan aksi mereka berkeliling kota dengan sepeda motor atau truk seolah-olah memasuki wilayah musuh. Unggahan semacam ini jamak kita jumpai di YouTube.

    Pemerintah daerah juga tidak perlu memberlakukan jam malam untuk para pelajar meskipun kebrutalan remaja sudah pada titik rawan. Yang lebih penting sebenarnya adalah kepedulian orang tua terhadap keberadaan anaknya seusai jam sekolah. Kerja sama sekolah dan orang tua menegakkan disiplin dan pengawasan bisa mencegah tawuran antarpelajar. Kerja sama inilah yang harus terus ditingkatkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.