Selasa, 20 November 2018

Si Doel yang Tak Lagi Betawi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Salah satu adegan film Si Doel The Movie. YouTube

    Salah satu adegan film Si Doel The Movie. YouTube

    Ada sebuah masa, untuk mereka yang lahir di tahun 1960-an, novel Si Doel, Anak Betawi karya Aman Datuk Madjoindo (1896-1969) adalah bacaan masa kanak-kanak yang menghibur dengan setia. Bagi saya, si kecil Doel –yang nama lengkapnya Abdoel Hamid—putera seorang supir Betawi adalah anak cerdas dan bandel yang segera saja mengingatkan saya pada tokoh Tom Sawyer rekaan Mark Twain. Apalagi pembukaan novel ini juga si Nyak  yang memanggil-manggil si Doel yang sering menyelinap keluar rumah untuk bermain atau berkelahi, sementara novel Mark Twain juga membuka ceritanya dengan Bibi Polly yang menjerit-jerit memanggil Tom yang sering meninggalkan tugas rumahnya.

    Untuk generasi saya, novel atau kumpulan cerpen anak-anak Balai Pustaka maupun Pustaka Jaya adalah kawan masa kecil yang menemani kami tumbuh bersama bukan hanya karena petualangan yang seru dan tokoh-tokoh yang mbeling, tetapi juga para sastrawan memberikan konteks sosial politik dalam cerita. Dalam hal ini, bagi pembaca usia dini, Aman Datuk Madjoindo sudah memperkenalkan bahwa kisah si Doel itu memiliki setting di jaman penjajahan Belanda.

    Lalu di sebuah masa, di tahun 1972, Si Doel anak Betawi lantas identik dengan sutradara Sjuman Jaya yang mengangkat novel ini ke sebuah film yang mengguncang masa kecil generasi kami. Memperkenalkan Rano Karno kecil berusia 12 tahun sebagai Si Doel yang membuka film dengan lagu OST ciptaan Sjumantiasa yang berlirik abadi menembus waktu: “anak Betawi ketinggalan jaman, katenye….”

    Film ini bukan saja meledak karena saat itu—bahkan sampai sekarang—film anak-anak jarang digarap dengan serius, tetapi sebagaimana biasa Sjuman Djaya juga tetap menghadirkan suasana Betawi di masa kolonial. Si Doel yang selalu diomeli ibunya (Tuti Kirana) karena dia anak yang sulit patuh tetapi sangat membela kehormatan si babe (Benyamin Sueb) yang sering dilecehkan mertuanya (Soekarno M.Noer dan Fifi Young). Ada pula pasangan orangtua Sape’i yang kaya raya yang doyan memborong tanah orang Betawi dan serta merta  menunduk ketika orang Belanda yang berkuda lewat. Di bagian lain, si Doel saben hari tonjok tonjokkan dengan Sapei (Tino Karno) bully yang mengaku anak sekolahan itu. Di akhir film,  si Doel akhirnya berhasil masuk sekolah  mengenakan baju ‘sinyo Belanda’ tetapi ngotot bahwa dia adalah “Si Doel anak Betawi’.

    Rano Karno kemudian menjadi anak emas di zamannya karena semua produser berebutan memasang aktor ini di pelbagai film kanak-kanak Tabah Sampai Akhir (L.Sudjio, 1973), Rio Anakku (Arifin C.Noer, 1973) hingga pertemuannya dengan Yessy Gusman yang menjadikannya pasangan remaja idola sejak Romi dan Yuli (Hasmanan, 1974) dan Gita Cinta dari SMA (Arizal, 1972).

    Kita meloncat ke tahun 1994 ketika sinetron Si Doel Anak Sekolahan kemudian menjadi fenomena baru. Rano Karno yang kini sudah dewasa lantas membuat tafsir baru dengan inspirasi dari novel dan film Si Doel Anak Betawi. Si Doel berupaya kuliah agar suatu hari menjadi ‘tukang insinyur’ sesuai cita-cita Babe Sabeni (Benyamin S). Tokoh Babe yang dalam novel dan film karya Sjuman Djaja tewas karena kecelakaan truk, dihidupkan kembali dan Benjamin S. menjadi  bintang bersinar dalam sejarah pertelevisian Indonesia. Rano Karno sebagai produser dan kreator sekaligus aktor utama juga meluaskan keluarga si Doel dengan sang adik Atun (diperankan oleh adiknya sendiri Suti Karno), engkong (Pak Tile) dan Mandra (Mandra), adik Nyak.

    Suasana Betawi dan keinginan mempertahankan kultur Betawi versus gemuruh urbanisme Jakarta sering menjadi latar belakang yang tajam, sehingga setiap episode tak sekedar olok-olok atau guyonan Mandra sebagai comical relief. Rano Karno dan timnya sadar betul, harus ada elemen kritik sosial – yang menjadi semacam kesinambungan film karya Sjuman Djaya—di antara guyon-guyon para tokoh macam Mandra dan Basuki. Ada satu episode tak terlupakan ketika keluarga si Doel mencoba mencari kuburan engkong –yang rupanya sudah berubah menjadi lapangan golf. Karena  sudah berjanji akan berkunjung ke makam leluhur Babe, maka Babe Sabeni, Mak Nyak, si Doel lengkap dengan Atun, Mandra dan seterusnya berdoa di lapangan golf ‘melapor’ pada Engkong bahwa si Doel sudah menjadi “tukang insinyur”. Adegan ini menjadi salah satu adegan yang cerkas, lucu penuh sindiran yang dahsyat.

    Dan adegan-adegan dan belokan plot semacam inilah yang kemudian semakin hilang pada beberapa musim tayang terakhir ketika kisah Si Doel semakin berkutat pada cinta segi tiga Doel-Sarah (Cornelia Agatha) dan Zaenab (Maudy Koesnaedy). Jika di masa kecil si Doel tafsir Sjuman Djaya adalah anak yang cerdas dan pandai berujar bahkan melawan mereka yang berani menghina bapaknya, maka Doel ciptaan Rano Karno di masa dewasa adalah lelaki yang bimbang dan enggan menyakiti hati orang lain. Lelaki yang baik, tetapi saking baiknya Doel dewasa adalah lelaki yang tak bisa tegas menentukan pilihan dan tidak asertif memburu keinginan yang berakibat kisah cinta ini berlama-lama diulur.

    Tarik menarik cinta  segitiga ini tak mungkin dipertahankan sebagai plot abadi dan di masa musim tayang final Si Doel akhirnya menikah denga Sarah. Terlepas lesu darah ada beberapa musim tayang terakhir serial ini, harus diakui sinetron ini dianggap serial paling berhasil. Bahwa masa tayangnya berakhir, dan masih sering ditayang ulang berkali-kali menunjukkan bahwa serial ini tetap disukai penonton.

    Karena itu, ketika film Si Doel, the Movie diproduksi dan ditayangkan di bioskop, tak mengherankan jika hanya dalam waktu tiga hari sudah meraih hampir 500 ribu penonton. Plotnyapun  tak  terlalu jauh dari beberapa episode akhir sinetron : cinta segitiga. Si Doel ditinggal Sarah karena cemburu karena Doel membantu Zaenab saat keguguran. Dan kemurkaan sang isteri yang sedang hamil itu tak tanggung-tanggung: pergi ke Belanda hingga 14 tahun lamanya.

    Dalam 14 tahun itu Si Doel ternyata menikah (siri) dengan Zaenab dan bersama keluarganya masih menempati rumah Betawi yang sudah menjadi aikon itu. Bahkan piring, gelas, dan radio tetap melawan waktu dan setting 2018, meski Mandra sudah jago selfie saat keberangkatan ke Amsterdam. Ceritanya, Hans (Adam Jagwani), sanak Sarah mengundang Doel dan Mandra membawa barang khas Betawi untuk berpartisipasi dalam Tong Tong Fair (sebuah festival kebudayaan Indo-Belanda yang setiap bulan April diadakan di Den Haag).

    Dalam perjalanan, sementara Mandra seperti biasa menjadi comical relief, Doel kebagian porsi wajah galau sepanjang film. Tiba di Amsterdam, tentu saja secara ‘tak sengaja’ Doel bertemu Sarah di Museum Tropen. Setelah beberapa detik terkejut, adegan berikutnya adalah Sarah menjelaskan panjang lebar mengapa dia meninggalkan Doel dan mengapa pula dia sebetulnya mengatur agar Hans membantu pertemuannya dengan Doel: agar si Doel  bisa bertemu dengan Abdullah, alias Dul, anak mereka.

    Tentu saja sejak awal sudah ada banyak lubang dalam plotnya: misalnya mosok 14 tahun si Doel tak mencoba mencari sang isteri yang sedang hamil itu (“mencari kemana? Aku tak punya uang ke Belanda”, demikian setiap kali dia diomeli Mandra dan Hans atas pasifnya si Doel); lalu mosok karakter seperti Doel kawin siri sih, mengingat dia adalah sosok yang sangat lurus, patuh pada aturan dan tak ingin menyakiti hati siapapun (apalagi isterinya); lantas mosok… banyaklah pertanyaan yang mengendap setelah sekian puluh menit menyaksikan film ini.

    Protes saya yang lain, tentu saja karena kita semua tahu Rano Karno adalah aktor yang sangat peduli dan paham situasi sosial politik negeri ini, masa dia tidak sedikit pun menyelipkan situasi Jakarta terakhir dalam filmnya? Bukankah Jakarta baru saja diguncang pilkada paling heboh dalam sejarah? Tentu film ini  tak perlu berpanjang-panjang bicara pilkada, tetapi si Doel dan keluarganya adalah warga Jakarta yang  berhak berbicara dengan apapun yang mengguncang tanah kelahirannya, selain mempersoalkan “Mandra jangan bikin malu” atau galau dengan kemungkinan pertemuan dengan Sarah.

    Tetapi tentu saja penonton kita adalah penonton yang rindu Si Doel dengan segala kenangan si Mak Nyak (yang dalam film masih tampil berbaring dalam keadaan buta, yang membuat kita sungguh terharu), si Pak Tile, si Mas Karyo yang semuanya tampil hanya melalui kelebatan suara pada awal film, sebagaimana Sex and the City mencoba membuat jembatan antara serial televisi dan filmnya. Dengan kerinduan itu, segala plotholes dan pertanyaan-pertanyaan nyinyir di atas dengan mudah disingkirkan, karena mendengar lagu OST Si Doel Anak Betawi ciptaan Sjumantiasa (kakanda sutradara Sjuman Djaya) yang dulu dinyanyikan Trio the Kids dan kini diaransemen ulang Armada saja sudah membuat kita girang dan bertepuk tangan seperti mendengar jagoan datang.

    Bahwa adegan-adegan dan sinematografi yang tidak istimewa, nyaris seperti pengadeganan sinetron pun tampaknya tak dipedulikan lagi, karena rupanya penonton Indonesia sudah krisis kepercayaan terhadap tontonan di televisi yang tak punya alternatif apapun. Maka ketika Si Doel pindah ‘rumah’ ke bioskop, berbondong-bondonglah penonton mengeluarkan duit berapa pun untuk mencari tahu nasib keluarga kesayangan ini.

    Ada beberapa momen yang cukup mengharukan dengan penampilan bagus  Muhammad Fahreza Anugrah –dikenal dengan nama Rey Bong—yang tampil sebagai Dul yang karakternya sama kompleksnya dengan si Doel, bapaknya: memendam semua perasaan.

    Bahwa kemudian Rano Karno sebagai sutradara yang menafsir sebuah sosok perempuan yang kuat seperti Sarah, yang memiliki ketegasan untuk memutuskan nasibnya sendiri dan nasib puteranya, adalah satu hal yang saya pujikan dalam film ini.

    Semoga lanjutan  film ini  tidak melakukan repetisi tarik-menarik tiga sosok ini. Saya rasa plot Si Doel yang sudah tak berkisah tentang Betawi secara kental ini sudah harus menjelajahi kisah baru karena Betawi kita mengandung cerita yang luar biasa. Saya yakin Rano Karno berani keluar dari zona nyaman cinta segitiga itu dan mengulik Si Doel yang Betawi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.