Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Ketika Inkumben Menoleh ke Kanan

Oleh

image-gnews
Presiden Jokowi duduk bersama Ketua MUI Ma'ruf Amin dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam acara Dzikir dan Doa Bersama untuk Bangsa di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 1 Agustus 2018. TEMPO/Subekti
Presiden Jokowi duduk bersama Ketua MUI Ma'ruf Amin dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam acara Dzikir dan Doa Bersama untuk Bangsa di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 1 Agustus 2018. TEMPO/Subekti
Iklan

BERUPAYA melanjutkan kekuasaannya lima tahun lagi, Joko Widodo kini banyak menoleh ke "kanan". Ia menggunakan kalkulasi Islam politik dalam berbagai keputusan, termasuk dalam menentukan calon wakil presiden. Kecenderungan ini memunculkan potensi bias dalam pengambilan kebijakan publik oleh pemerintah yang dia pimpin.

Sang inkumben mengunjungi banyak pondok pesantren menjelang tahun pemilihan. Ia berdalih ingin tahu lebih banyak tentang pesantren, yang menurut dia penting dalam pembangunan karakter bangsa. Ia juga menganggap ekonomi pesantren perlu dikembangkan.

Jokowi juga terkesan tengah merangkul kelompok yang sama. Pada Mei lalu, ia memerintahkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basoeki Hadimoeljono membangun rumah susun di kompleks Pondok Pesantren Prof Dr Hamka di Padang. Bukan kebetulan, Sumatera Barat adalah satu dari lima provinsi tempat Jokowi kalah oleh Prabowo Subianto pada pemilihan presiden 2014-selain Jawa Barat, Banten, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Barat.

Tak bisa dibantah, sesuai dengan komposisi demografi Indonesia, pemilih beragama Islam merupakan ceruk terbesar dalam setiap pemilihan umum. Tak mengherankan jika mereka yang hendak memenangi pemilihan presiden mencurahkan banyak sumber daya buat menaklukkan pemilih Islam.

Meski begitu, sejarah menunjukkan "suara Islam" sebenarnya tak pernah tunggal dalam konteks politik. Anggota Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, yang merupakan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar, hampir tak pernah memiliki pilihan politik yang sama. Partai-partai pengusung bendera Islam-dengan derajat ideologis berbeda-beda-pun tak kunjung memperoleh suara signifikan dalam setiap pemilihan umum pasca-reformasi 1998.

Sejumlah penelitian menunjukkan Islam ideologis tak sepenuhnya laku di Indonesia. Orang boleh jadi makin taat beribadah, tapi kehadiran mereka tidak serta-merta mendongkrak suara partai-partai "hijau". Karena itu, mencurahkan perhatian pada pemilih muslim tertentu belum tentu efektif mendongkrak suara Jokowi.

Boleh jadi, kekhawatiran Jokowi terhadap "kekuatan Islam" bersumber dari pengalaman pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang keras tahun lalu. Di sini, kekuatan Islam konservatif terasa menguat. Mereka mengerahkan ratusan ribu orang ke jalan untuk menolak gubernur inkumben Basuki Tjahaja Purnama-yang ditengarai disokong Jokowi. Namun kekuatan ini pun sebenarnya segera cair. Ketika kelompok ini berniat membentuk partai, kelompok penggerak demonstrasi pada 2 Desember 2016 yang menamai diri Alumni 212 segera cerai-berai.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Jokowi tentu saja bukan Basuki-gubernur yang terperosok dalam polemik penghinaan agama lewat pidatonya di Kepulauan Seribu. Tak ada pula data yang meyakinkan yang menyebutkan Jokowi tak disokong umat Islam. Sebagian besar dari 52 persen pemilih Jokowi-elektabilitas sang petahana dalam survei terakhir-jelas beragama Islam. Tapi pasca-demonstrasi 212, "hantu" tak disukai pemilih muslim itu telanjur dipercaya Jokowi.

Karena itu, sungguh menyedihkan jika Presiden Jokowi kini berfokus pada usaha menaklukkan kelompok yang selama ini dipercaya tidak mendukungnya tersebut. Berbagai upaya telah diarahkan untuk keperluan ini: sejumlah kebijakan kini diambil dengan berorientasi pada pencitraan demi konstituen Islam. Kini, dalam proses penentuan calon wakil presiden oleh Jokowi dan partai koalisinya, faktor Islam pun dianggap menjadi sangat penting.

Sejumlah informasi menyebutkan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma’ruf Amin masuk daftar pendek calon wakil presiden, bersama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud Md. Jika informasi itu benar, terlihat betapa Jokowi lebih mementingkan usaha menaklukkan "pemilih Islam" daripada mencari sekondan yang cakap untuk menjawab tantangan zaman. Ia lebih mengutamakan pertimbangan elektoral dibandingkan dengan kepentingan masyarakat banyak.

Tahun-tahun ke depan jelas bukan masa yang mudah bagi presiden terpilih. Tekanan ekonomi akibat perkembangan global-termasuk akibat perang dagang dua raksasa, Cina dan Amerika Serikat-perlu direspons dengan cepat dan lihai. Soal kurs rupiah yang mencapai titik terendah sepanjang sejarah perlu dijawab dengan kebijakan tepat.

Dalam situasi normal, peran wakil presiden memang kurang signifikan. Pengisi jabatan ini lebih banyak berfungsi pada seremonial. Namun, dalam situasi krisis, wakil presiden sebenarnya juga bisa menjadi sekondan bagi RI-1 untuk mengatasi persoalan. Karena itu, Jokowi, yang memiliki peluang kembali terpilih relatif besar dengan posisinya sebagai inkumben, perlu menggandeng pendamping yang cakap buat mengatasi berbagai hambatan ekonomi dalam jangka pendek. Jokowi semestinya tidak semata-mata menggunakan pendekatan elektoral, baik dalam membuat kebijakan publik maupun menentukan calon wakil presiden.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

7 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

21 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

22 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

22 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

23 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

29 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

48 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

57 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024