Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Kejutan Pilkada 2018

Oleh

image-gnews
Gaya Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto bersama beberapa kader saat menyampaikan keterangan pers setelah memantau hasil hitung cepat (<i>quick count</i>) pilkada serentak di 171 daerah di gedung DPD Partai Golkar DKI Jakarta, Rabu, 27 Juni 2018. TEMPO/Imam Sukamto
Gaya Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto bersama beberapa kader saat menyampaikan keterangan pers setelah memantau hasil hitung cepat (quick count) pilkada serentak di 171 daerah di gedung DPD Partai Golkar DKI Jakarta, Rabu, 27 Juni 2018. TEMPO/Imam Sukamto
Iklan

PERILAKU pemilih bukan sesuatu yang mudah ditebak. Pemilihan kepala daerah serentak 2018 telah memberi contoh. Sejumlah calon yang dalam survei diprediksi sebagai underdog belakangan menurut hitung cepat mendapat suara signifikan-meski tidak selalu menjadi pemenang pertandingan.

Sebutlah misalnya pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah di Jawa Tengah. Sebelum pemilihan, sebagian lembaga survei menyebutkan tingkat elektabilitas pasangan ini paling tinggi cuma 20 persen. Faktanya, dalam hasil hitung cepat, suara mereka mencapai 40 persen-kalah sekitar 17 persen dari pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin.

Contoh lain adalah pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu di Jawa Barat. Dengan elektabilitas tak sampai 11 persen versi sebagian besar lembaga survei sebelum pemilihan, pasangan yang diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera ini mengantongi suara tiga kali lipat dari prediksi.

Sejumlah analisis bisa diajukan untuk menjelaskan fenomena ini. Yang pertama adalah kemungkinan lembaga survei gagal menangkap aspirasi pemilih. Para responden "mengecoh" pollster dengan jawaban yang tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Alasan ini bisa dipahami mengingat, di beberapa daerah, jumlah pemilih yang belum menentukan sikap (undecided) relatif kecil. Sejumlah besar pemilih bahkan menyatakan tak lagi ragu dengan pilihan mereka. Dengan kata lain, semestinya angka elektabilitas kandidat tak berbeda jauh dengan hasil hitung cepat.

Faktor lain adalah para kandidat underdog bekerja keras pada detik-detik terakhir-dengan atau tanpa mesin partai. Dalam kasus Jawa Barat dan Sumatera Utara, misalnya, turunnya sejumlah ulama mengkampanyekan pasangan Sudrajat-Syaikhu dan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah disebut-sebut menjadi penyebab utama. Hasil exit poll-interviu terhadap pemilih sesaat setelah mereka meninggalkan bilik suara-yang dilakukan lembaga survei Indikator Politik Indonesia di Jawa Barat, contohnya, menyebutkan pemilih mencoblos pasangan Sudrajat-Syaikhu karena menganggap keduanya paling memperjuangkan agama mereka. Dalam angka hitung cepat, tampak bahwa pasangan ini telah mengambil hati pemilih yang belum menentukan sikap selain mengambil suara pasangan lain. Unsur agama tampaknya punya peran yang tak kecil.

Di Jawa Tengah, kerja tim pemenangan Sudirman Said-Ida Fauziyah pada detik-detik terakhir membantu mendongkrak suara. Bertempur di kandang banteng, pasangan ini berhasil mencuri suara di Kabupaten Brebes, Kebumen, dan Tegal. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, yang menyokong pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin, mengaku kebobolan. Partai ini baru menyadari belakangan bahwa mereka telah digergaji. Selain di Jawa Barat dan Jawa Tengah, fenomena meningkatnya suara underdog terjadi di Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Lampung, dan Sumatera Selatan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Di Jawa Barat dan Jawa Tengah, kita tampaknya harus memberikan catatan khusus pada Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera. Kedua partai inilah yang menyokong Sudirman dan Sudrajat. Menggunakan isu agama, di Jawa Barat, PKS berhasil mendongkrak suara Sudrajat. Di Jawa Tengah, Sudirman diperkuat Partai Kebangkitan Bangsa, partai asal calon wakil gubernur Ida Fauziyah. Baik PKS maupun Gerindra adalah penyokong Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden 2014. Dengan kata lain, fenomena kedua provinsi telah menjadi alarm bagi inkumben Joko Widodo dan PDI Perjuangan dalam menghadapi Pemilihan Umum 2019.

Dari hasil pilkada serentak di 171 daerah ini-terdiri atas 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota-kita bisa menarik pelajaran bahwa elektabilitas bukan segala-galanya, sesuatu yang juga bisa meleset setiap saat. Siapa pun kepala pemerintahan, dari presiden hingga bupati atau wali kota, hendaknya tidak terbuai oleh survei. Kepala pemerintahan hendaknya berfokus pada rencana menyejahterakan rakyat.

Memperhatikan kehendak publik lewat pelbagai survei tentu baik-baik saja. Tapi hendaknya disadari bahwa sikap populis tidak selalu baik bagi orang banyak. Elektabilitas bisa naik-turun. Pemimpin hendaknya tidak terombang-ambing oleh hasil survei.

Jajak pendapat harus ditanggapi dengan bijak. Seorang pemimpin tidak boleh mengambil kebijakan untuk sekadar mengambil hati orang banyak. Presiden Jokowi, sekadar sebagai contoh, yang dipersepsikan tidak didukung pemilih muslim, tak boleh mengambil kebijakan hanya agar mendapat simpati kelompok Islam. Kualitas pemimpin pada akhirnya dinilai dari hasil kerja jangka panjang-sesuatu yang tidak selalu tergambar dalam survei elektabilitas.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

4 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

17 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

18 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

19 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

20 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

25 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

44 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

53 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024