Rabu, 26 September 2018

Disutopia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi akhir pekan (pixabay.com)

    ilustrasi akhir pekan (pixabay.com)

    Adakah manusia dijebloskan ke dalam harapan? Atau putus asa? Tak ada jawab. Margaret Atwood menulis novel Oryx and Crake dengan kalimat-kalimat yang seakan gentar menggambarkan dunia yang akan datang - karena di sana tak ada surga; masa depan menakutkan.

    Ini cerita Jimmy, yang juga menyebut diri Snowman, pemuda yang melihat dan menafsirkan dunia melalui game dan video porno: ia mungkin insan penghabisan di dunia yang telah diubah rekayasa genetik dan dibinasakan BlyssPluss, tablet mirip Viagra yang menjanjikan perasaan bahagia tapi dengan efek sampingan yang mematikan.

    Teman masa kecilnya, Glenn, yang ia beri nama Crake, adalah jenius yang kemudian menciptakan pil itu. Ia memang punya rencana akan membasmi homo sapiens. Dunia, bagi Crake, tak boleh dihuni manusia yang destruktif sifatnya dan makhluk yang jelek desainnya. "Yang diperlukan", kata Crake, "adalah terhapusnya satu generasi. Satu generasi apa saja. Kumbang, pohon, mikroba, ilmuwan, orang-orang yang omong Prancis, apa saja".

    Ia ingin merekayasa makhluk jenis baru yang lebih damai dan ramah lingkungan.

    Di akhir cerita Jimmy menembak mati Crake, tapi ia kehilangan Oryx, perempuan ganjil yang memikatnya sejak ia melihatnya dalam sebuah situs porno. Nyawa Oryx putus oleh pisau yang menyayat nadi leher.

    Akhir itu jelas tak menyenangkan. Tapi novel ini tak mengucapkan kata final. Snowman melihat dua orang manusia di depannya - mungkin manusia terakhir seperti dirinya - dan sejenak ia tak tahu apakah ia harus menembak mati mereka atau menjadikan mereka kawan. Akhirnya ia hanya mengecek arlojinya yang retak dan berkata, dalam hati, "Saatnya pergi".

    Ke mana? Dengan harapan? Perlukah harapan?

    Novel seperti ini (dan film seperti Blade Runner 2049) cenderung mengatakan "tidak". Harapan adalah khayal. Tapi di luar karya Margaret Atwood dan Denis Villeneuve, di dalam sejarah berabad-abad, manusia selalu berkata kepada diri sendiri, "Saatnya pergi" - bahkan setelah malapetaka. Dan ia pun akan berjalan lagi, terus. Meskipun ia tak selalu tahu akankah di ujung perjalanan ada sebuah ruang, ada sebuah masa, yang lebih baik.

    Dalam meraba-raba masa depan, manusia memerlukan (dan membangun) sebuah gambaran yang secara psikologis mengatasi situasinya yang carut-marut di mana banyak hal tak dapat diwujudkan - atau ketika hidup benar-benar runtuh. Tiap kali, manusia punya hiburan agama: janji surga. Di abad ke-20, seperti dalam pelbagai gerakan politik Islam, agama secara sadar atau tak sadar berubah jadi agenda sekuler yang memproyeksikan hidup duniawi sebagai sesuatu yang bisa sempurna.

    Di sanalah bermain ideologi dan utopia.

    Dalam sebuah telaah klasik yang terbit di tahun 1929, Ideology and Utopia, Karl Mannheim menyebut ideologi sebagai ide-ide yang timbul untuk mengatasi situasi yang problematis, tapi pada gilirannya "tak pernah berhasil secara de facto melaksanakan isi yang mereka proyeksikan." Niat baik mungkin terkandung dalam ide-ide itu - misalnya untuk mewujudkan persaudaraan, atau harmoni masyarakat dengan pemimpin yang adil dan jujur - tapi "dalam prakteknya, makna itu sering menyimpang."

    Dari sini tumbuh "mentalitas ideologis": mencegah pikiran sendiri menyadari adanya penyimpangan antara ide dan kenyataan, atau menyembunyikan apa yang diketahui tentang hal itu, atau - lebih buruk lagi - memproduksi dusta yang menyesatkan bagi orang lain.

    Utopia juga mencoba melampaui situasi sosial yang ada, dengan gambaran masa depan yang indah, tapi disadari tak akan tercapai. "Utopia", menurut akar katanya, memang "tak bertempat". Tapi dengan itulah terjadi dialektik, kata Mannheim, dengan tatanan yang ada: tiap zaman akan ada pintu bagi ide-ide dan nilai-nilai yang mengandung keinginan yang tak terpenuhi dan tak terlaksana - misalnya keadilan dan kemakmuran.

    Dengan kata lain, dalam utopia tersirat kritik sosial. Dalam ideologi terkandung ilusi. Ideologi, kata Mannheim, menunjukan sesuatu yang muncul ("fenomena") yang terletak antara "kebohongan sederhana" di satu kutub, dan sebuah "kekeliruan" akibat perangkat konseptual yang cacat. Novel seperti Oryx and Crake sering disebut "disutopia", tapi agaknya lebih cenderung melawan harapan-harapan melambung ke masa depan yang bergerak anatara "kebohongan" dan "kekeliruan".

    Kini, ilmu dan teknologi berkibar jadi ideologi optimisme yang merah segar: rekayasa genetik akan menyelamatkan manusia dari kelaparan dan sakit, AI atau kecerdasan buatan akan memungkinkan hidup selama-lamanya, dan akan datang Homo Deus. Membaca kembali gambaran Margaret Atwood membuat kita terhenyak.

    "...mungkin tak pernah ada solusi. Masyarakat manusia, bangkai, dan puing. Tak pernah belajar, berkali-kali membuat kesalahan yang pandir, mempertukarkan hasil jangka pendek dengan kesakitan jangka-panjang...

    Tentu pernah ada usaha ideologis untuk mengoreksi keadaan, tapi tak ada ideologi yang siap sebenarnya. Marxisme, meskipun beberapa analisanya tetap kena sampai hari ini, tak bebas dari diagnosa yang salah. Ideologi lain, misalnya Islam seperti yang dikumandangkan Abdullah Maududi, pendiri Jamaat-e-Islami, menutup pintu. Doktrinnya, yang menganggap Islam sebagai "sebuah sistem yang mencakup semua bidang kehidupan", pada akhirnya bersifat mengasingkan. Maududi menggusur yang berbeda: Ahmadiyah, umat Kristen, hak perempuan - bahkan seni tari dan musik yang dianggapnya "mala masyarakat" yang harus ditiadakan.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Joaquin Phoenix dan Para Pemeran Joker Sejak 1966

    Sutradara film terbaru Joker, Todd Phillips mengunggah foto pertama Joaquin Phoenix sebagai Joker, akan tayang Oktober 2019. Inilah 6 pemeran lainnya.