Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Inspirasi dari Dai Zaman Kini

Oleh

image-gnews
Puluhan pengungsi Rohingya mendengarkan ceramah usai melaksanakan salat Idul Adha di kamp pengungsian Kutupalang, Cox's Bazar, Bangladesh, 2 September 2017. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain
Puluhan pengungsi Rohingya mendengarkan ceramah usai melaksanakan salat Idul Adha di kamp pengungsian Kutupalang, Cox's Bazar, Bangladesh, 2 September 2017. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain
Iklan

Jika Anda ingin cermat membaca tanda-tanda zaman, belajarlah kepada Ustad Abdul Somad Batubara. Ia bersama sederet dai generasi baru, seperti Khalid Basalamah, Hanan Attaki, dan Adi Hidayat, memanfaatkan media sosial untuk syiar agama. Pendekatan mereka efektif merangkul kaum milenial, yang hidup pada zaman serba digital.

Berbeda dengan pedakwah konvensional, Abdul Somad menyapa umat terutama lewat Internet. Mula-mula video ceramah Somad diunggah pengikutnya di YouTube. Ternyata dakwahnya diminati warganet. Isi ceramah sang dai tak melulu membahas surga dan neraka, tapi juga penerapan agama sebagai solusi hidup sehari-hari.

Abdul Somad kemudian mengelola video ceramahnya secara profesional. Popularitas ustad 41 tahun ini terus meroket seiring dengan makin seringnya dia tampil di YouTube, Instagram, dan Facebook. Ia telah mengunggah seribu lebih video di YouTube. Semua video itu ditonton lebih dari 66 juta kali. Di Facebook, pengikut lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir, ini hampir satu juta dan di Instagram mencapai tiga juta.

Pedakwah generasi baru yang lain, seperti Khalid Basalamah, 43 tahun, Hanan Attaki (38), dan Adi Hidayat (35), menempuh jalur serupa. Mereka memetik popularitas setelah berdakwah lewat media sosial. Ceramah mereka disampaikan dengan simpel.

Tentu berlebihan mengharapkan mereka menawarkan pemikiran baru dalam beragama. Yang mereka sampaikan adalah Islam sebagai produk final-sesuatu yang lengkap sejak dari sananya, tinggal diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tak ada pembaruan pemikiran Islam seperti pernah digagas Nurcholish Madjid (almarhum). Tak ada juga pertanyaan-pertanyaan kritis seperti ceramah dan tulisan Mun'im Sirry, sejarawan agama asal Madura yang kini pengajar di Universitas Notre Dame, Amerika Serikat.

Namun kita menghadapi zaman baru: sesuatu yang serba instan, terkadang dangkal-ciri yang kerap dilekatkan pada anak muda. Dua dari empat ustad yang sedang naik daun itu bisa dibilang mewakili generasi milenial-generasi yang lahir pada awal 1980-an hingga akhir 1990-an. Kelompok yang biasa disebut Generasi Y ini sekarang berusia 20-38 tahun. Di Indonesia, jumlahnya diperkirakan mencapai 80 juta jiwa atau 30 persen dari jumlah penduduk. Generasi milenial lebih banyak bersosialisasi serta mengakses hiburan dan informasi di media sosial.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Hasil survei Centre for Strategic and International Studies yang digelar tahun lalu memotret perilaku sebagian generasi itu, yakni kelompok usia 17-29 tahun. Sebanyak 54,3 persen responden mengaku mengakses media sosial setiap hari. Dalam soal kepemimpinan dan agama, pandangan mereka cukup mengejutkan. Generasi milenial (53,7 persen responden) cenderung tidak bisa menerima pemimpin yang berbeda agama.

Di situlah pentingnya peran ustad dan dai generasi baru agar mampu berkomunikasi dengan kaum milenial. Mereka diharapkan bisa memberikan "pencerahan" terhadap generasi muda tentang perlunya menjadi muslim yang beriman dan bertakwa tapi juga sanggup menjaga kerukunan bangsa ini. Pandangan para remaja muslim yang cenderung intoleran, bahkan radikal, akan mengancam demokrasi dan keutuhan Republik.

Sikap yang mencemaskan itu juga terjadi pada generasi yang lahir setelah akhir 1990-an, yang biasa disebut Generasi Z. Pandangan kurang toleran mereka terdeteksi dari survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, tahun lalu. Sebanyak 51,1 persen siswa dan mahasiswa yang menjadi responden dalam survei itu cenderung bersikap intoleran terhadap aliran Islam minoritas seperti Ahmadiyah dan Syiah.

Pemerintah dan ulama konvensional di organisasi agama, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, bisa memetik pelajaran. Upaya membentuk karakter generasi baru tidak bisa dilakukan dengan pendekatan lama. Generasi Y dan Z amat rentan karena mereka sedang mencari identitas diri dan pegangan hidup di tengah banjir informasi pada era digital.

Kecenderungan para remaja muslim bersikap radikal juga menunjukkan kegagalan sistem pendidikan kita. Pendidikan agama di sekolah seharusnya tak semata membentuk akhlak yang mulia sesuai dengan nilai suatu agama, tapi juga bisa membangun sikap yang toleran terhadap penganut agama lain. Pendidikan kewarganegaraan dan humaniora juga perlu diperkuat untuk menumbuhkan nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan. Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan perlu membenahi kurikulum sekolah agar efektif membangun karakter siswa pada era digital.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

16 jam lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

14 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

15 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

15 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

16 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

22 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

41 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

50 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024