Sabtu, 18 Agustus 2018

Mahathir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahathir Mohamad, menggelar konferensi pers usai usai dilantik sebagai Perdana Menteri Baru Malaysia di Kuala Lumpur, Malaysia, 10 Mei 2018. REUTERS/Lai Seng Sin

    Mahathir Mohamad, menggelar konferensi pers usai usai dilantik sebagai Perdana Menteri Baru Malaysia di Kuala Lumpur, Malaysia, 10 Mei 2018. REUTERS/Lai Seng Sin

    Putu Setia

    Ada yang saya suka dari pelaksanaan pemilihan umum di Malaysia. Kesederhanaannya. Rabu pemungutan suara, malamnya hasil diketahui. Esok dinihari diumumkan siapa yang menang. Dan Kamis malam, perdana menteri terpilih sudah dilantik.

    Bandingkan dengan yang terjadi di negeri ini. Pemilu yang ribet. Bahkan untuk hajatan tahun 2019 mendatang, mengutip pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pemilu yang merupakan gabungan pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden ini merupakan pemilu teruwet di dunia. Dalam rentang waktu sehari, suara yang masuk baru sampai di tingkat kecamatan. Jauh dari kantor Komisi Pemilihan Umum di Jakarta, lembaga yang berhak mengumumkan siapa pemenang pemilu. Belum lagi jika ada gugatan karena ada dugaan pelanggaran.

    Mahathir Mohamad, politikus usia lanjut Malaysia, kembali menjabat perdana menteri setelah koalisinya memenangi pemilihan umum. Kini Mahathir tercatat sebagai perdana menteri tertua di dunia. Usianya 92 tahun. Ia pernah memegang jabatan itu sangat lama, dari tahun 1981 sampai 2003. Kini ia tak mau berkuasa lama, karena faktor usia. Sebentar lagi, satu atau dua tahun, ia akan menyerahkan jabatan perdana menteri kepada Anwar Ibrahim, koleganya satu koalisi.

    Tak cuma saya yang suka dengan pelaksanaan pemilu di Malaysia. Ada yang lebih gembira, terutama dengan hasilnya. Sebutlah dua saja, Fadli Zon dan Fahri Hamzah-tokoh yang komentar-komentarnya belakangan ini terkenal nyeleneh. Kedua pemimpin wakil rakyat ini menyebut tumbangnya Perdana Menteri Najib Razak akan "memberi inspirasi" untuk tumbangnya Presiden Jokowi.

    Hak "duo F" untuk berkata apa saja. Ini menyiratkan perseteruan dua kubu politik menjelang Pemilu 2019 di negeri ini terus mendaki menuju puncaknya. Bukan saja memecah dunia maya untuk lahan saling ejek, juga merembet ke dunia nyata. Urusan tulisan di baju kaus saja sudah menjadi bahan untuk usir-mengusir. Di Malaysia sepertinya lebih tenang. Tapi entahlah, memandang bukit dari kejauhan memang indah. Di semenanjung jiran itu ada tokoh tua pemersatu bangsa, Mahathir Mohamad. Kita tak punya tokoh seperti itu, yang ada politikus yang semakin tua semakin nyinyir.

    Tiba-tiba saya jadi ingat Jusuf Kalla. Politikus 75 tahun ini sekarang digadang-gadang lagi menjadi wakil presiden untuk Pemilu 2019. Disebut "lagi", karena Kalla saat ini sudah menjadi wakil presiden untuk Joko Widodo. Dulu juga menjadi wakil presiden untuk Susilo Bambang Yudhoyono. Jadi, sudah dua kali ia menjadi wakil presiden untuk dua presiden berbeda. Masa jabatan yang jauh lebih pendek dari Mahathir sebagai perdana menteri.

    Siapa yang menggadang (lagi) Kalla sebagai calon wakil presiden? Untuk calon presiden, siapa ia dijadikan wakil? Seperti biasa, tidak jelas. Di negeri ini antara mimpi dan strategi sulit dibedakan. Sementara orang tahu-dan seperti yakin-calon presiden yang bertarung di Pemilu 2019 hanyalah Jokowi dan Prabowo. Nyatanya adalah sudah masuk uji materi ke Mahkamah Konstitusi agar "nasib Kalla" dipertegas, boleh menjadi wakil presiden lagi atau tidak--karena sudah dua kali menjabat meski tak berurutan.

    Karena urusan Jusuf Kalla ini masih tataran mimpi, maka saya pun ikut mimpi: bagaimana kalau Kalla dijadikan calon presiden saja, tak perlu repot-repot uji materi ke MK. Toh beliau belum pernah menjadi presiden. Kalau memang dia bisa diterima banyak pihak dan bisa menjadi pemersatu dari dua kelompok yang terus tegang, apa salahnya poros ketiga legowo untuk mengusungnya. Demi bangsa, ealah....


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.