Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Jihad Melawan Narkotik

image-profil

image-gnews
Barang bukti narkoba jenis ekstasi dan para tersangka dihadirkan dalam rilis kasus narkotik jaringan internasional di Mabes Polri, Jakarta, 1 Agustus 2017. Tersangka bernama M Zulkarnain tewas karena melawan petugas. ANTARA/Sigid Kurniawan
Barang bukti narkoba jenis ekstasi dan para tersangka dihadirkan dalam rilis kasus narkotik jaringan internasional di Mabes Polri, Jakarta, 1 Agustus 2017. Tersangka bernama M Zulkarnain tewas karena melawan petugas. ANTARA/Sigid Kurniawan
Iklan

A. Helmy Faishal Zaini
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Dalam hemat saya, ada tiga kejahatan yang sangat serius mengancam kita: kriminalitas atau radikalisme cyber, narkotik, dan terorisme. Ketiganya saya urutkan dari yang paling cepat menyebarkan gerakannya sampai yang paling lambat. Pengelompokan ini bermanfaat untuk memetakan pola gerakan, tindakan, dan pencegahannya.

Radikalisme cyber melalui penyebaran media online sungguh sangat cepat. Beberapa kali Presiden Jokowi menegaskan bahwa media sosial memiliki dua sisi mata pisau: baik dan buruk. Watak kecepatannya itulah yang membuat kita kerap kewalahan. Belum ada negara yang tercatat sukses mengontrol media sosial. Celakanya, jaringan radikalisme tumbuh dengan subur melalui jaringan online. Sebabnya mudah, sebuah isu bisa bergulir dan menggelinding begitu saja lewat media sosial. Fenomena mutakhir menunjukkan bagaimana orang berbondong-bondong berdemonstrasi, beraksi, dan bahkan persekusi hanya gara-gara isu yang tak jelas.

Dalam tulisan singkat ini, saya ingin berkonsentrasi untuk menguak ancaman kedua, yakni narkotik. Ini persoalan yang sangat serius dan mendesak untuk segera dirumuskan langkah dan penanganannya agar ia tidak semakin berkembang biak meracuni generasi masa depan bangsa.

Berbagai berita mengabarkan bahwa para bandar narkotik telah melakukan regenerasi pecandu. Ini merupakan alarm merah untuk kita semua. Menurut catatan Badan Narkotika Nasional, jumlah pecandu narkotik memiliki tren naik setiap tahun. Kenaikan itu juga dibarengi dengan perubahan usia pemakai. Generasi muda sudah semakin banyak yang terjangkiti. Bahkan polanya sudah berubah. Anak sekolah dasar pun sudah "dicekoki" narkotik dengan harapan dewasa kelak mereka sudah menjadi pecandu.

Ada tiga kata kunci yang bisa dijadikan arsenal untuk menghalau penyebaran narkotik: pendidikan, keluarga, dan agama. Ketiganya harus berjalan bergandeng dan seirama. Jika salah satu elemennya patah, bisa dipastikan yang lain akan berjalan terseok-seok.

Pemenang Nobel Perdamaian, Malala Yousfazai (2015), pernah mengatakan bahwa "dengan senjata kita dapat membunuh teroris, tapi dengan pendidikan kita bisa membunuh terorisme". Lebih dari itu, pendidikan yang baik juga akan dengan ampuh membunuh dan mengamputasi peredaran dan jaringan narkotik yang sudah menggurita.

Pendidikan itu tentu saja bukan selalu soal sosialisasi bahaya narkotik, penyuluhan, dan kegiatan sejenis. Lebih dalam dari itu semua, yang perlu ditekankan adalah pendidikan yang membentuk karakter dan membangun spirit siswa. Ini pendidikan yang berbasis pada apa yang disebut sebagai penguatan mental.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tapi pendidikan kita masih sangat kering akan nilai-nilai keteladanan. Padahal esensi utama pendidikan adalah perubahan perilaku. Transformasi perilaku adalah indikator keberhasilan pendidikan. Maka, tugas lembaga pendidikan ibarat mesin giling. Ia mengolah gandum, jagung, dan beras yang digiling menjadi bahan-bahan yang "berkarakter" dan siap untuk disajikan kepada masyarakat.

Di kutub yang berbeda, saya sepakat pada apa yang dikatakan oleh filsuf Jerman, Nietszche (1987), bahwa "pendidikan berlangsung di sekolah, rumah, dan antara sekolah dan rumah". Belajar bisa di mana saja. Rumah atau keluarga memiliki peran yang sangat penting untuk merawat persemaian karakter yang sudah dibangun di sekolah. Keluarga yang baik adalah keluarga yang mengarahkan anak-anaknya untuk menemukan dirinya.

Yang perlu disoroti adalah lubang kosong untuk penyemaian karakter itu. Lubang itu adalah ruang dan waktu antara rumah dan sekolah. Pada bentangan inilah kita acap kecolongan. Pendidikan kita kerap tidak hadir dan alpa di titik ini. Akibatnya, anak bisa bergaul dengan siapa pun, kalangan mana pun. Kondisi inilah yang membuat kita kesulitan dan kewalahan untuk mengidentifikasi masalah. Sangat mungkin dari sinilah akar penyebaran narkotik itu bersemi.

Terakhir, soal agama. Agama memiliki lima prinsip utama, yakni menjaga nyawa, agama, harta, martabat, dan keturunan. Prinsip ini dalam Islam dikenal sebagai kulliyatul khoms. Narkotik itu melanggar dua prinsip: menjaga nyawa dan keturunan. Narkotik jelas berbahaya karena mengancam nyawa dan kelangsungan masa depan bangsa. Maka, memeranginya sama saja dengan jihad.

Tiga aspek itu-pendidikan, keluarga, dan agama-harus bahu-membahu bersama pemerintah melakukan pencegahan dan tindakan. Usaha-usaha yang sifatnya preventif lebih baik dibanding upaya penanggulangan. Dalam kaidah fikih hal ini disebutkan ad daf’u aqwa minar raf’u. Menolak atau mencegah lebih baik daripada menghilangkan atau mengobati. Prinsip inilah yang harus tetap kita pegang.

Generasi muda adalah kekuatan dan tiang yang bisa dijadikan jaminan tegaknya suatu bangsa dan negara. Jika generasi muda sebuah bangsa baik, masa depan bangsa tersebut juga baik. Begitu pula sebaliknya. Michel Lahti (2013) pernah menulis dalam bukunya, Athfalul Yaum, Rijalul Ghad, bahwa anak-anak masa kini adalah pemimpin masa depan. Kita harus menyiapkan mereka sebaik-baiknya.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

7 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

21 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

22 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

22 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

23 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

29 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

48 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

57 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024