Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Resesi

image-profil

Oleh

image-gnews
Suasana pergerakan saham di layar Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 9 Maret 2018. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke zona merah pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat ini. RTI mencatat, indeks acuan saham domestik turun 30,17 poin atau setara 0,47% ke level 6.412,86.TEMPO/Tony Hartawan
Suasana pergerakan saham di layar Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 9 Maret 2018. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke zona merah pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat ini. RTI mencatat, indeks acuan saham domestik turun 30,17 poin atau setara 0,47% ke level 6.412,86.TEMPO/Tony Hartawan
Iklan

Demokrasi adalah surat cinta yang hambar. Di huruf awal, ketika ungkapan itu ditulis, gelora masih deras. Ada proyeksi ke sebuah hubungan yang akrab, dengan percakapan yang hangat. Tapi kemudian, berangsur-angsur, waktu membuat aus-juga pada surat, kata, dan sikap.

Itu juga cerita demokrasi. Ketika di tahun 1998 Reformasi menggantikan kekuasaan otoriter Soeharto, yang bergemuruh adalah semangat perubahan: kehidupan ekonomi tak boleh lagi dimonopoli keluarga presiden, kritik tak diberangus, militer tak mengendalikan kehidupan sipil, orang tak boleh ditahan sebagai tersangka selama-lamanya, partai tak dihambat berdiri, kekuasaan tak ditumpuk di pusat, pemimpin, sejak presiden sampai dengan bupati, dipilih dengan masa jabatan yang terbatas. Di tahun 2018 ini hal-hal itu masih berlaku. Tapi Reformasi jadi majal.

Ketika rezim "Orde Baru" runtuh, orang menyangka kekuasaan akan digantikan lembaga politik yang menghormati pilihan privat dalam agama dan bukan agama. Tapi ternyata lembaga-lembaga yang memungkinkan itu, yang menjaga itu, berkarat cepat. Kita kini tak bisa berharap akan peradilan yang mandiri dari pengaruh politik, uang, dan "ideologi" para hakim. Suap mencegat sejak tahap permulaan di tangan polisi. Kita juga tak percaya adanya perwakilan rakyat yang efektif.

Indonesia memang jauh lebih selamat ketimbang negeri-negeri Timur Tengah yang meledak dalam konflik berdarah sejak runtuhnya para otokrat dalam "Musim Semi Arab". Indonesia juga tak mengembalikan kekuasaan otoriter seperti di Rusia dan RRT. Tapi demokrasi di sini ditandai partai politik yang tak dipercaya, proses pemilihan yang dicemarkan korupsi, DPR yang sibuk menjaga kepentingan para anggotanya sendiri-sebuah parlemen yang meningkatkan kekuasaannya begitu rupa hingga kebal dari sanksi.

Surat cinta 1998 sudah tak dibaca lagi.

Mungkinkah yang hambar akan segar kembali? Itulah pertanyaan yang penting, ketika demokrasi sedang guyah di mana-mana.

Sejak sekitar satu dasawarsa yang lalu-berarti semenjak Francis Fukuyama memaklumkan kemenangan "demokrasi liberal" di dunia-orang mulai ragu. Di tahun 2017, Fukuyama sendiri mengakui: dulu ia "tak menyangka atau tak punya theori bagaimana demokrasi bisa berjalan mundur", tapi kemudian ia sadar bahwa hal itu ternyata bisa. Tahun ini, riset majalah terkemuka The Economist menunjukkan bahwa kurang dari 5 persen penduduk dunia hidup dalam "demokrasi penuh". Dengan menggunakan 60 indikator, ditemukan bahwa ada 89 dari 167 negeri yang mendapatkan nilai lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya. Ada "resesi" demokrasi.

Keraguan yang lama yang dinyatakan Sokrates di abad ke-4 sebelum Masehi bergaung lagi. Mampukah para demos, orang kebanyakan, membentuk sebuah republik yang baik? Sokrates mengambil analogi dari perjalanan laut. Jika kamu hendak berlayar, siapakah (tanya Sokrates) yang "sebaiknya kauinginkan memimpin kapalmu: sembarang orang atau mereka yang terlatih dalam aturan dan memecahkan soal-soal pelayaran?"

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Orang Yunani kuno itu punya jawaban yang jelas. Ia menampik demos. Tapi ia alpa. Ia tak menyinggung sebuah pertanyaan: siapakah demos?

Sejarah menunjukkan, demos bukan satu identitas yang tetap. Demos sebuah proses. Ia serba mungkin. Ia terkait pada ruang dan waktu tertentu: di Prancis abad ke-18, identitasnya dirumuskan kaum borjuis yang ditindas aristokrasi dan Gereja, dan sebab itu meledakkan revolusi; di abad ke-20, di Tiongkok: kaum tani yang alat produksinya hanya cangkul. Pendek kata: mereka yang menegaskan kehadirannya karena menuntut keadilan dan kesetaraan-atau kesetaraan yang juga kemerdekaan.

Demos adalah hasil identifikasi dalam politik. Ada masanya proses itu tak lagi sebuah revolusi, melainkan negosiasi dan pemungutan suara. Sejak abad ke-18, demos berarti mereka yang diharapkan, atau berharap, akan memberikan suara. Di abad ke-21, ada proses lain-ada hubungannya dengan mekanisme kapitalis-yang mengubahnya: ia semacam konsumen.

Tiap kali sebenarnya identifikasi demos tak bisa pas. Itu sebabnya politik, sebagai proses demokratik, tak berhenti: ia selalu bersama kekecewaan. Hari-hari ini, ketika demos diperlakukan sebagai konsumen, kita tahu "konsumen bukan raja". Ia dibentuk sang produsen dengan kampanye, seperti para pembeli parfum dibentuk oleh advertensi. Bahkan data pribadi sang demos dihimpun dan dijadikan bahan untuk mengubah perilakunya.

Pada saat itu sebenarnya yang disambut adalah narsis yang hanya mengenal kesenangan privatnya. Politik demokratik berhenti.

Ia akan bisa hidup kembali jika yang disebut "demokrasi" bukan lagi kesibukan dunia privat konsumen, melainkan, seperti dikatakan Ranciere, justru "proses pergulatan melawan privatisasi". Artinya ia bisa hidup bila ia jadi surat cinta yang ditulis untuk mereka yang ada di wilayah luas-juga wilayah mereka yang di luar, tak didengar.

Goenawan Mohamad

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

7 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

21 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

22 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

22 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

23 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

29 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

48 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

57 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024