Senin, 24 September 2018

Kisah Cinta di Dasar Laut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • The Shape of Water

    The Shape of Water

    THE SHAPE OF WATER

    Sutradara : Guillermo del Toro
    Skenario : Vanessa Taylor dan Guillermo del Toro
    Pemain : Sally Hawkings, Richard Jenkins

    Percintaan bukan hanya tak mengenal warna kulit atau ras, tetapi bahkan melampaui perbedaan spesies. Syahdan di sebuah masa, di masa Perang Dingin membelit dunia dan membelah hidup menjadi “mereka” dan “kita”, adalah sebuah mahluk amfibi tak bernama yang ditangkap, diamati, dipelajari, dan sekaligus disiksa di laboratorium militer AS.

    Sementara para pimpinan militer yang menyebut mahluk itu sebagai ‘the asset’ sibuk merencanakan mengutak-atik tubuh mahluk asing amifibi tersebut (apakah dia keluarga ikan atau manusia, atau manusia ikan?), Elisa Esposito, si pekerja pembersih laboratorium itu justru menjalin hubungan dengannya.

    Elisa (Sally Hawkins), seorang gadis yatim piatu yang bisu, yang berkomunikasi melalui bahasa isyarat. Awal film ini memperkenalkan kita pada keseharian perempuan ini yang menetap di loteng sebuah bioskop.

    Setiap pagi, bangun tidur, dia akan membuat telur rebus untuk sarapan, mandi, dan bermasturbasi di bak mandi. Beres urusan domestik rumah dan tubuh, Elisa menuju laboratorium dan membersihkan kamar mandi, lorong-lorong hingga laboratorium bersama Zelda Fuller (Octavia Spencer), seorang sahabat yang paling memahami semua keinginan dan bahasa Elisa.

    Salah satu adegan di film The Shape of Water yang mendominasi 13 kategori Oscar 2018 (Youtube)

    Setelah pekerjaannya yang membosankan itu, Elisa biasa minum teh dan berbincang dengan Giles (Richard Jenkins), tetangganya, seorang pelukis tua yang berjuang setengah mati menjual karyanya dan jungkir balik ingin memperoleh perhatian seorang penjual pie yang ganteng.

    Semakin hari, hubungan Elisa dengan si mahluk amfibi, yang dikurung berenang-renang dalam akuarium raksasa itu, semakin erat. Dari saling berkomunikasi melalui kaca akuarium; hingga memberikan telur rebus sarapan sampai akhirnya mereka sama-sama saling berbincang dengan bahasa isyarat.

    Perlahan, secara visual terlihat hasrat yang berkembang antara Elisa dan mahluk amfibi itu.

    Ganjil? Eksotik?

    Bagi mereka yang sudah mengenal karya-karya sutradara Guillermo del Toro, ini bukan hal yang aneh. Karya sebelumnya seperti Pan’s Labyrinth (2006) adalah sebuah kisah fantasi yang gelap dengan protagonis seorang gadis kecil di Spanyol tahun 1944 yang bertemu dengan berbagai mahluk fantastis yang ganjil dan mengerikan.

    Dibanding Pan’s Labyrinth yang memiliki plot yang kompleks, film The Shape of Water yang diganjar sebagai Film Terbaik Academy Awards tahun ini lebih linear. Pasangan Elisa dan sang Amifibi (diperankan Doug Jones) jelas di ujung bahaya, karena Richard Stricland (Michael Shannon) yang mewakili militer AS untuk meneliti mahluk asing itu, yang kemudian diterjemahkan sebagai “memotong, memilah-milah untuk kemudian dipelajari agar Soviet tidak mendahului kita”.

    Maka itulah urgensi Elisa —dibantu Zelda dan si ilmuwan Robert Hoffstetler (Michael Stuhlbarg) —untuk menyelamatkan si kekasih amfibi itu. Bahwa kemudian ada beberapa titik plot (dan visualisasi) yang mirip film Splash (Ron Howard, 1984) —tak bisa disangkal.

    Aktris Sally Hawkins menjadi salah satu nominasi aktris terbaik dalam ajang Oscar 2018. Ia mendapatkan nominasi berkat aktingnya dalam film The Shape of Water. The National

    Meski dalam film Splash peran gender dibalik di mana Darryl Hannah adalah sang puteri duyung sedangkan Tom Hanks berperan sebagai pemuda yang jatuh cinta padanya dan menyelamatkannya dari tangan jahanam yang akan memilah-milah tubuh si puteri duyung untuk penelitian.

    Perbedaannya, jika Ron Howard memperlakukan Splash sebagai film komedi romantik, maka Guillermo del Toro adalah sebuah film fantasi gelap. Jika Howard menampilkan adegan-adegan dengan pencahayaan yang terang, suasana ceria dan lucu, maka Shape of Water justru menampilkan gambar-gambar gelap, penyiksaan, darah, dan cinta antara dua spesies yang menyentuh.

    Del Torro mengajak kita ke sebuah negara antah berantah meskipun dia tetap menggunakan kosa kata hidup nyata seperti Perang Dingin, musuh bersama Soviet dan seterusnya.

    Rangkaian adegan Elisa dan kehidupan domestik serta tempat kerja terasa seperti sebuah dongeng yang menuntut penonton untuk mengambil sikap ‘suspense of disbelief’ (coba bagaimana kita bisa percaya bahwa air bisa memenuhi kamar agar si manusia amfibi tetap bertahan? Kita harus menunda ketidakpercayaan kita demi lancarnya plot itu).

    Guillermo del Toro berpose dengan penghargaan yang diraihnya dalam kategori, Sutradara film terbaik untuk film "The Shape of Water", dalam Golden Globe Awards di Beverly Hills, California, AS, 7 Januari 2018. REUTERS

    Bahwa film ini diganjar Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Musik Score terbaik, dan Desain Produksi Terbaik Academy Awards tahun ini menunjukkan sebuah pergeseran menarik. Terakhir Academy Awards memberikan nominasi Film Terbaik kepada film Avatar (James Cameron, 2009). Lazimnya anggota yang memilih pemenang memiliki kecenderungan untuk memilih film-film dengan rasa heroisme Amerika.

    Film The Shape of Water sebuah film yang murni merayakan sinema; Del Torro merangsek batas-batas dan merangkul kita untuk mengalami pengalaman sinematik yang cantik sekaligus ganjil, ngeri, sekaligus asyik.

    LEILA S. CHUDORI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kampanye Imunisasi MR Fase 2 Luar Jawa Masih di Bawah Target

    Pelaksanaan kampanye imunisasi MR fase 2 menargetkan hampir 32 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Hingga 10 Sep