Sabtu, 18 Agustus 2018

Adonis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sastrawan Chile Pablo Jofre saat tampil pada acara Bintang-Bintang di Bawah Langit Jakarta di Komunitas Salihara, Jakarta, 7 Oktober 2017. Sastrawan Indonesia yang dihadirkan merupakan para bintang dalam dua tahun terakhir. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Sastrawan Chile Pablo Jofre saat tampil pada acara Bintang-Bintang di Bawah Langit Jakarta di Komunitas Salihara, Jakarta, 7 Oktober 2017. Sastrawan Indonesia yang dihadirkan merupakan para bintang dalam dua tahun terakhir. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Malam itu Adonis duduk di Acropole, restoran Yunani di Rue de l’École-de-Médecine, Paris. Sastrawan yang diunggulkan jadi penerima Hadiah Nobel ini, yang menggugah sastra Arab sejak 70 tahun yang lalu, menyambut tamunya dengan sebotol anggur organik. Sikapnya tak berjarak, dan ia bisa kocak. Bersamanya kita akan lupa ia pak tua 88 tahun yang telah menempuh sejarah Timur Tengah yang ganas-bersama puisi yang terpaut tegang dengan zamannya.

    Ini pertemuan kami kedua, setelah hampir sedasawarsa. Ia hadiahkan bukunya, Concerto al-Quds, yang versi Arabnya terbit pada 2012. "Ini buku saya yang paling akhir," katanya.

    Ia kini melukis. Ia tunjukkan reproduksi karyanya: warna dan garis pada "serpihan kertas yang dibuang" yang ditebari tetesan cat yang mirip bentuk-bentuk tes Rorschach. Merah, hitam, hijau menyembul di antara kalimat-kalimat Arab yang ditulis dengan pena, larik-larik monokromatik yang halus. "Saya dapatkan cara lain mengutarakan hubungan dengan benda-benda."

    Ia bilang ia mulai menggambar karena sukar menulis sajak lagi. Tapi puisinya belum kering. Di dataran kertas itu tampak karya visualnya yang minimalis: puluhan kaligrafi yang liris.

    Agaknya tiap kali Adonis lahir kembali. Sebaris sajak dalam Concerto: "Uban ramai di kepalaku, tapi isi badanku fajar anak-anak." Tatapannya seperti melihat dunia buat pertama kali: riang, ingin tahu, pandangan bocah yang cerdas, ceria, jail, di umurnya yang hampir seabad.

    Hidup belum berhenti. Hidup tak berhenti.

    "Berhenti" mungkin lawan kata "Adonis". Saya kira ia pandang dirinya sebagai Mihyar yang diciptakannya dalam Aghani Mihyar al-Dimasyqi, buku bertahun 1961. Mihyar seorang eksil yang mengarungi dataran yang hangus, remuk, tapi muncul, dari puing-puing, membawa "iklim kata-kata baru".

    Ia tawarkan sajaknya mentah, tapi menyihir, ke angin yang
    berkabung
    Ia bahasa yang berpendar di antara tonggak
    Ia ksatria kata-kata yang tak lazim

    Bahasa, dalam diri Mihyar, penyair, adalah peristiwa metamorfosis. Kata, alat komunikasi, berubah jadi sesuatu yang ganjil, lincah, tak bisa dipatok, sering tak dimengerti. Bahasa, yang dalam kearifan Melayu dianggap "menunjukkan bangsa", berubah jadi suara, nada, ritme, dan makna yang tak punya bangsa, tak punya puak. Mihyar, seperti Adonis, selalu seorang imigran. "Menulis tak punya identitas," ia tulis dalam Concerto.

    Ada penyair Irak yang menyesali corak puisi yang dibawa Adonis karena "bersemangat Eropa". Saya kira Adonis tak peduli. Nama pena yang ia pilih sejak 1940-an (nama asalnya Ali Ahmad Said Esber) diambil dari mithologi Yunani-Phoenisia. Dalam dongeng Yunani, Adonis bukan Yunani, melainkan Assiria: dewa kematian dan kebangkitan kembali.

    Nama, hidup, dan puisi penyair ini sepenuhnya perubahan. Ia lahir pada 1930 di timur laut Suriah. Di waktu muda ia ikut kaum nasionalis dan terlibat persaingan politik dengan Partai Baath yang kemudian berkuasa. Ia dipenjarakan selama setahun. Pada 1956 ia lari ke Beirut, ibu kota Libanon, yang praktis jadi tempat awalnya lagi.

    Di kota itu cendekiawan dunia Arab bertemu: yang Islam, Kristen, atheis, dan lain-lain. Di sana Adonis mendirikan majalah Shi’ir yang terkadang memuat terjemahan sajak-sajak T.S. Eliot dan Saint-John Perse, bukan lagi puisi yang berpetuah tentang jati diri.

    Tapi Adonis tak cuma "Barat". Ia menggali karya sastra Arab sejak abad ke-6, yang ia terbitkan dalam tiga jilid bunga rampai. Ia tunjukkan warisan kebudayaan yang beraneka ragam: karya zaman Abbasiyah, tulisan para sufi, pemikir Syiah, filosof Andalusia. "Tradisi Arab" tak hanya satu.

    "Satu", bagi Adonis, meringkus, meringkas, menakutkan. "Malang sekali," katanya suatu ketika, "dalam tradisi kami, tiap perkara didasarkan pada ke-satu-an-Tuhan satu, politik satu, rakyat satu. Dengan mentalitas seperti itu, kami tak bisa mencapai demokrasi, sebab demokrasi dimulai dengan memahami bahwa yang lain berbeda."

    Ia saksikan Beirut hancur ketika menghendaki "satu", ketika "yang lain" dianggap tak sah, ketika Islam, Kristen, Druze saling menyingkirkan. "Pembunuhan telah mengubah bentuk kota-batu ini butir kepala seorang anak," tulisnya dalam sajak "Kitab Pengepungan" (1985).

    Dengan suram pula ia lihat Yerusalem. Kota yang dalam bahasa Arab disebut "Al-Quds" itu kota suci monotheisme, tapi akhirnya ia medan konflik berabad-abad. Di ruangnya yang tua tiga agama-masing-masing bertuhan tunggal-saling ingin menghabisi. "Al-Quds, adakah dosa yang lebih besar, lebih angkuh, lebih membunuh ketimbang dirimu?"-satu baris dalam Concerto.

    Dosa yang "angkuh" dan "membunuh" itu bermula ketika "malaikat-malaikat kepastian" lepas dari "tubuh planet" dan "mereka datang kepadamu, Al-Quds".

    Langit mereka robek dari langit, dan utas tali mereka

    mencekik bumi.

    Ada kolonialisme dogma tunggal, yang mencekik, dan angkasa Yerusalem jadi "kerangkeng".

    "Islamisme itu kolonialisme," kata Adonis di kedai Acropole. Dari dalam puisi ia melawan-muncul dari puing dan membawa "iklim kata-kata baru".

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.