Menuju Perdamaian di Afganistan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peta Afganistan. [Al Jazeera]

    Peta Afganistan. [Al Jazeera]

    Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) punya reputasi sebagai mediator perdamaian yang andal. Tak mengherankan, dalam upaya mewujudkan perdamaian di Afganistan, Presiden Afganistan Ashraf Ghani mengundang JK bersama perwakilan 25 negara, tokoh, dan ulama dalam Konferensi Proses Kabul II di Istana Haram Sharai, Kabul, akhir Februari lalu.

    Perang antara Taliban dan pemerintah Afganistan telah berlangsung selama 16 tahun pasca-invasi Amerika Serikat ke negeri itu pada 2001, yang menggusur pemerintah Taliban. Perundingan perdamaian telah berulang kali dilakukan di Pakistan, Turki, dan Qatar dengan sponsor Amerika, Cina, dan Pakistan. Namun hingga kini tidak membuahkan hasil. Sebab, Taliban menuntut pemberlakuan sistem Islam ultrakonservatif; pasukan Amerika bersama NATO harus ditarik dulu dari negara itu; Taliban tidak fleksibel dalam perundingan; serta Taliban dibantu oleh Pakistan, Rusia, dan Iran.

    Taliban dibentuk oleh badan intelijen Pakistan (IIS) pada 1994 untuk menghadapi kelompok mujahidin dan membuka akses Pakistan ke Asia Tengah yang kaya minyak. Hanya dalam waktu dua tahun, Taliban berhasil menguasai sebagian besar Afganistan. Tapi perlindungan Taliban terhadap Al-Qaidah pimpinan Usamah bin Ladin, yang menyerang Amerika pada 2001, membuat Amerika menghancurkan kelompok itu. Pakistan kembali membantu Taliban setelah Afganistan berada di bawah pemerintah Presiden Hamid Karzai maupun Ghani, yang memihak India, musuh Pakistan.

    Kendati mendukung Afganistan, diam-diam Rusia membantu Taliban. Motifnya adalah menumpas Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS)-lawan Taliban yang kian membesar-yang sebagian anggotanya berasal dari negara-negara Asia Tengah. ISIS hanya menjadikan Afganistan sebagai batu loncatan sebelum kembali ke negara masing-masing untuk melancarkan teror. Ini akan menggoyahkan Asia Tengah, wilayah pengaruh Rusia.

    Selain itu, Rusia ingin ikut menentukan masa depan Afganistan guna mencegah pengalihan pipa-pipa minyak negara-negara Asia Tengah ke pelabuhan Karachi, Pakistan. Saat ini pipa-pipa minyak itu dialirkan ke Laut Hitam di Rusia. Motif yang tak kurang penting adalah upaya Presiden Vladimir Putin memproyeksikan kekuatan militer global Rusia untuk mengimbangi Amerika. Dengan bersekutu bersama Taliban, Rusia memperkuat posisi tawarnya dalam transaksi-transaksi yang lebih luas dengan Washington. Terutama terkait dengan aneksasi Rusia ke Crimea, Ukraina, dan perang proksinya di Suriah.

    Iran dan Taliban sebenarnya tidak punya titik temu. Tapi, menyangkut Amerika, berlaku adagium "musuh dari musuh saya adalah teman saya". Maka, Teheran membantu Taliban guna mengikat Amerika di Afganistan. Iran memang menginginkan Amerika berdarah-darah di sana sebelum meninggalkan negeri itu.

    Dalam situasi kompleks ini, di mana sebagian besar rakyat Afganistan menganggap perdamaian dengan Taliban hanyalah mimpi, JK yakin perdamaian antara pemerintah Afganistan dan Taliban dapat terjadi jika ada dukungan internasional dan negara tetangga. Untuk itu, Indonesia akan menindaklanjuti konferensi Proses Kabul II dengan menggelar forum tripartit antara ulama Indonesia, Pakistan, dan Afganistan di Jakarta pada Maret ini guna merangkul Taliban agar bersedia masuk ke dalam pemerintahan Afganistan.

    Posisi Indonesia sudah diperingan oleh langkah pemerintah Ghani. Dalam pidato di konferensi itu, Presiden Ghani menyatakan akan mengakui Taliban sebagai partai politik dan dapat ikut pemilihan umum. Syaratnya, Taliban bersedia melakukan gencatan senjata untuk memulai proses membangun kepercayaan. Sebagai partai politik, Taliban dapat membuka kantor di Kabul. Selanjutnya, tawanan Taliban akan dibebaskan, pemilihan umum digelar, dan Taliban akan dihapus dari daftar teroris.

    Sebagai imbalannya, Taliban harus mengakui pemerintah dan konstitusi Afganistan. Syarat inilah yang menjadi titik buntu dalam perundingan pada masa lalu. Kendala lain, Taliban memprioritaskan perundingan dengan Amerika tentang penarikan tentara Amerika dari Afganistan. Padahal Amerika tak akan mundur sebelum kepentingan ekonomi dan geopolitiknya di sana terjamin. Bahkan Presiden Donald Trump hendak meningkatkan jumlah pasukan agar daya tawar Amerika terhadap Taliban menguat. Memang tidak mudah menjadi juru damai di Afganistan. Mudah-mudahan saja JK bisa.

    Smith Alhadar
    Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.