Senin, 22 Oktober 2018

Siap-siap Menghadapi Tsunami Data

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Big Data, Ketika Data Berlimpah

    Big Data, Ketika Data Berlimpah

    SUMBER daya paling berharga saat ini sesungguhnya bukan lagi minyak atau sumber daya alam lainnya, melainkan data. Perusahaan di Tanah Air, pemerintah, dan masyarakat semestinya sadar soal itu.

    Di tengah revolusi industri berbasis digital, tiap peluang bisnis saat ini bisa diintip dan diprediksi dengan mengolah informasi tentang tren, perilaku konsumen dan profil mereka, serta serangkaian data lain yang sering disebut big data. Kesempatan dan peluang untuk mengeruk keuntungan bahkan bisa diciptakan lewat analisis big data yang akurat.

    Big data tidak hanya berisi angka-angka statistik. Big data adalah serangkaian data dan perilaku yang dihimpun dari para pengguna Internet, baik yang diakses lewat komputer maupun telepon pintar. Saat orang mengakses peta Google atau Waze, mesin pintar Google akan merekam kebiasaan penggunanya: ke tempat mana saja mereka pergi, kapan mereka pergi, dan serentetan data lain. Tak mengherankan bila peta Google dan Waze bisa memperkirakan jalan mana yang lalu lintasnya macet dan yang tidak. Saat seseorang berselancar di dunia maya, mesin big data Facebook dan Google merekam situs yang sering dikunjungi, berita yang disukai, dan lokasi wisata favorit.

    Kala orang memakai aplikasi Go-Jek, misalnya, mesin big data Go-Jek merekam aneka data sehingga bisa memprediksi di daerah tertentu, misalnya, Jakarta Selatan, jajanan apa saja yang paling banyak dipesan di akhir pekan, martabak atau pisang goreng. Jika Go-Jek mau, mereka bisa memperkirakan kenaikan kebutuhan tepung terigu dan margarin untuk martabak di setiap akhir pekan.

    Mengerikan? Nanti dulu. Lihat pula big data apa yang dipunyai Facebook. Data yang dimiliki Facebook Indonesia- dengan memiliki 115 juta orang pengguna pada 2017- boleh jadi lebih lengkap ketimbang data yang dimiliki Kementerian Dalam Negeri. Facebook tahu di mana sekolah seseorang, bekerja di mana, nomor telepon seluler, bahkan afiliasi politik mereka hanya dengan menganalisis berita yang sering dibagikan di laman Facebook.

    Tak usah heran bila perusahaan titan seperti Alphabet (induk dari Google), Facebook, Microsoft, dan Alibaba seperti tak bisa dihentikan ekspansinya. Mereka bisa membaca tren kebutuhan konsumen, lalu mereka membuat perusahaan atau mengakuisisi perusahaan baru. Itulah yang membuat Jack Ma, pendiri situs Alibaba.com, meyakini bisnis data adalah bisnis utama di masa depan. Mereka berekspansi ke Indonesia melalui banyak perusahaan yang memanfaatkan big data seperti situs belanja papan atas Indonesia, misalnya Lazada dan Tokopedia. Perusahaan-perusahaan Indonesia tak boleh ketinggalan memanfaatkan teknologi ini. Ada 132 juta pengguna Internet aktif di Tanah Air.

    Namun, yang patut diwaspadai, pemerintah jangan gegabah mengatur pemanfaatan big data. Jangan main asal larang, seperti kasus regulasi taksi online. Pemerintah cukup menjadi wasit para perusahaan.

    Perusahaan pun seharusnya memanfaatkan big data dengan menjunjung hak-hak konsumen dalam pengelolaannya. Privasi konsumen jangan diumbar ke publik. Dedikasi ini sudah dicontohkan Apple Inc. Perusahaan di Amerika Serikat ini menolak permintaan Biro Penyelidik Federal Amerika (FBI) yang meminta data pengguna Apple yang dituduh melanggar hukum pada 2016.

    Masyarakat juga harus menyadari tiap aktivitasnya akan direkam ke dalam big data. Ini adalah harga yang ditebus untuk mendapatkan kenyamanan di era revolusi industri digital ini. Informasi dan aktivitas apa pun saat menggunakan perangkat berbasis Internet akan terekam. Selamat datang era big data, selamat datang di tsunami informasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.