Senin, 22 Oktober 2018

Kisah Getar Cinta Pertama

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (Twitter)

    (Twitter)

    Di sebuah tempat nun di utara Italia…

    Demikian  sutradara Luca Guadagnino memulai filmnya yang tampak sederhana, begitu saja, dia mewujudkan kata-kata Andre Aciman. Dengan kuningnya cahaya matahari Crema yang membilas kulit lengan Oliver (Armie Hammer) yang datang ke villa keluarga Pearlmen di suatu siang itu, terbentanglah sebuah puisi visual.

    Dari jendela lantai atas, Elio, 17 tahun, putera tunggal pasangan  Perlman menatap sosok Oliver yang akan menjadi asisten Ayahnya dan menetap di villa mereka selama enam pekan. “Dia tampak percaya diri,” kata Elio (Timothée Chalamet) kepada Marzia, seorang gadis muda Prancis seusianya yang tampak harus menghela napas melihat perhatian Elio yang tersedot ke luar jendela.

    Dari perkenalan pertama Elio dengan Oliver, kamera terus mengikuti gerak-gerik remaja yang tengah tumbuh ini yang terpesona pada Oliver  yang bukan saja tampan tapi fasih menjelaskan etimologi dari kata buah ‘aprikot’ yang menurut dia mengalami sebuah perjalanan yang cukup kompleks.

    Dari satu diskusi ke diskusi intelektual lain, kita bukan hanya berkenalan pada sang tamu yang memang magnetik dan menarik hati seluruh isi desa, tetapi secara subtil kita juga mempelajari betapa Ayah Elio (diperankan dengan dahsyat oleh Michael Stuhlbarg) dan sang Ibu (Amira Casar) adalah orang tua yang tidak biasa, yang sangat memahami segala hasrat dan gerak-gerik anaknya yang tersurat maupun yang tersirat.

    Mereka keluarga intelektual, sang Ayah adalah seorang profesor yang tengah melakukan riset kebudayaan Greco-Roman; sang ibu adalah seorang penerjemah sedangkan Elio adalah remaja jenius yang fasih berbagai bahasa (Inggris, Prancis, dan Italia) yang luar biasa berbakat musik, namun sangat pemalu dan mengaku 'tak akan pernah berani menyampaikan isi hati'.

    Tak heran jika hampir sepanjang film kita melihat keduanya hanya saling memandang dari jauh, menyimpan hasrat, sesekali berdansa, atau bahkan berciuman dengan perempuan lain untuk sekedar menimbulkan kecemburuan dan kegelisahan. Elio sesekali berlagak sibuk mentranskripsi notasi musik klasik atau memainkan Bach dalam berbagai versi aransemen.

    Dengan gaya rayuan Elio yang halus ini, Oliver jelas semakin mengagumi betapa briliannya dan dewasanya Elio, jauh beberapa langkah di depan remaja seusianya.

    “Saya tak tahu apa-apa, Oliver… Kau tak akan membayangkan betapa terbatasnya pengetahuanku tentang hal-hal yang penting.” Ini dikatakan Elio di hadapan patung Battle of Piave ketika mereka berdua memarkir sepeda sembari berjalan mengelilingi patung itu. Dengan rekaman satu syut panjang, keduanya perlahan berjalan dan saling berbincang tentang ‘hal penting apa’ yang dimaksud Elio. Tanpa pernah mengucapkan kata cinta, apalagi membahasakan gemuruh di balik dada, mereka berdua berdansa di sekeliling kalimat berbahaya itu.

     “Apakah kau tengah menyatakan sesuatu yang kubayangkan,” demikian Oliver mencoba meyakinkan dirinya dan meyakinkan Elio bahwa mereka sebetulnya sedang saling bertukar perasaan.

    Adegan yang subtil adalah kekuatan penulis skenario dan sutradara veteran James Ivory yang pada usianya ke 88 tahun masih menunjukkan sinarnya yang tak pernah redup. Sebelum adegan besar ini, James Ivory dan sutradara Luca Guadagnino memperlihatkan adegan Elio yang terlibat percakapan dengan orang tuanya tentang Heptameron. Sebuah pertanyaan penting dari tokoh Prancis: Apakah kita 'perlu berbicara atau mati'.

    Buku-buku yang mereka baca di dalam film ini bukan sekedar tempelan atau pajangan untuk menunjukkan mereka adalah lingkaran intelektual kelas atas, tetapi buku-buku itu sekaligus kalimat di dalamnya adalah simbol dari setiap langkah para tokohnya.

    Setiap adegan, setiap lagu atau scoring, dan setiap kalimat tak ada yang tak memiliki arti. Bahkan adegan Oliver yang berdansa dengan antusias diiringi lagu Love My Way oleh Psychedelic Fur yang disaksikan Elio yang sedih dan sendirian itu lantas menjadi sebuah simbol apa yang tampaknya akan terjadi di kemudian hari.

    Mereka pada akhirnya bersatu pada saat-saat terakhir sebelum Oliver harus pergi meninggalkan Crema. Dan telepon Oliver dari AS yang mengumumkan sebuah berita ‘gembira’ itu adalah akhirnya merontokkan segalanya, meruntuhkan hati Elio yang tengah mengalami cinta pertama, sekaligus melahirkannya sebagai seorang lelaki dewasa yang (kelak) mampu mengatasi badai sekeras apapun.

    Kekuatan karakter Elio bukan hanya karena ditopang dengan kehadiran Oliver, tetapi karena orang tua yang luar biasa. Dengarkan  monolog sang ayah saat mengetahui putera semata wayangnya yang tengah berduka setelah Oliver pergi. Sebuah monolog yang kemudian dipuja-puji para kritikus yang kemudian melahirkan sebutan 'Ayah Abad Ini' karena pengertiannya yang luar biasa:

    “Alam memiliki caranya yang muslihat untuk menemukan titik terlemah kita, dan ingatlah, kami selalu berada di sini (mendengarkanmu)." Sang ayah melanjutkan bahwa dia tahu betul anaknya dan Oliver mempunyai hubungan yang spesial dan itu jarang terjadi. Orang tua lain mungkin akan lebih suka kalau puteranya bisa segera mengatasi kepedihannya dengan melupakannya. Tapi aku bukan orang tua semacam itu…”

    Kalimat emas sang Ayah yang paling layak diingat adalah “Jangan membunuh perasaan sakit dan lukamu itu…” Sang ayah percaya pada proses penyembuhan yang alamiah. Dan dia ingin anaknya bisa menyembuhkan rasa duka—sekaligus tetap mengingat rasa bahagia yang menyertainya—karena perjalanan itulah yang akan membuatnya dewasa.

    Jika film ini dinominasikan pada semua penghargaan terkemuka termasuk Academy Awards, tentu tak mengherankan, meski kita tahu tampaknya tak mungkin menang. Selain film ini dianggap terlalu berpusat pada ‘persoalan remeh temeh kalangan kulit putih, kaya raya, intelektual—dibanding katakanlah film Moonlight yang tahun lalu memenangkan  Film Terbaik pada Academy Awards, film Call Me by Your Name terlalu ‘kelas atas’ dengan bahasa yang subtil, penuh simbol yang tersembunyi yang kurang dianggap memiliki kesadaran sosial dan politik —sebagaimana yang biasa diunggulkan oleh anggota Academy Awards.

    Tetapi film ini, bagaimana pun sederhananya, adalah film yang berhasil menemukan seorang aktor berbakat luar biasa bernama Timothée Chalamet, 22 tahun, yang menjadi nomine Aktor Terbaik Oscar termuda dalam sejarah.

    Sepanjang film dia memperlihatkan akting bukan hanya sekedar berdialog, tetapi seluruh tubuhnya adalah bagian dari seni peran itu. Lihatlah bagaimana adegan akhir, diiringi lagu Sufjan Stevens dan bunyi detak kayu yang digigit api; lihatlah sepasang mata Elio yang menunjukkan seorang yang baru saja mengalami cinta pertama yang gugur. Timothée Chalamet adalah aktor masa depan.

     

    CALL ME BY YOUR NAME

    Sutradara: Luca Guadagnino

    Skenario: James Ivory (berdasarkan novel karya Andre Aciman)

    Pemain: Armie Hammer,  Timothée Chalamet, Michael Stuhlbarg, Amira Casar

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.