Catatan untuk Jamaah Tabligh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana setelah Tabligh Akbar bertemakan Hijrahku Bahagiaku di Masjid Al-Azhar, Jakarta, 21 September 2017. Setelah Tabligh Akbar para jamaah yang hadir sholat dzuhur bersama dengan KH. Bachtiar Natsir dan Arie Untung. TEMPO/Ilham Fikri.

    Suasana setelah Tabligh Akbar bertemakan Hijrahku Bahagiaku di Masjid Al-Azhar, Jakarta, 21 September 2017. Setelah Tabligh Akbar para jamaah yang hadir sholat dzuhur bersama dengan KH. Bachtiar Natsir dan Arie Untung. TEMPO/Ilham Fikri.

    Tanpa gembar-gembor, Jamaah Tabligh tengah menggelar pertemuan tahunan bishwa ijtema (pertemuan internasional) di Turaq, tak jauh dari Dhaka, Bangladesh. Acara ini berlangsung pada 11-14 dan 19-21 Januari 2018, yang diikuti jutaan anggota jemaah dari 150-an negara. Isinya adalah kegiatan-kegiatan ibadah, seperti ceramah agama, berzikir, dan semacamnya. Kegiatan ini sepenuhnya steril dari pembicaraan politik dan khilafiyah.

    Di tengah aktivisme kelompok-kelompok Islam yang bergelora di Tanah Air kini, Jamaah Tabligh adalah fenomena tersendiri. Kelompok ini berkembang luas meski bukan kelompok yang terlibat aktif dalam isu-isu sosial dan politik. Mereka bahkan bercirikan sebagai kelompok "apolitis".

    Jamaah Tabligh saat ini dipandang sebagai kelompok dakwah Islam terbesar di dunia. Berawal dari inisiatif Syekh Maulana Ilyas al-Kandahlawi di India pada 1925 dan menyebar di negara-negara Asia Selatan, mereka kini dipandang sebagai kelompok dakwah terdepan dan paling banyak pengikutnya di dunia. Di Indonesia, jemaah ini juga mengalami perkembangan pesat.

    Kehadiran mereka di ruang publik ditandai dengan pakaian yang khas: jubah panjang, celana cingkrang, dan berjenggot. Tampilannya mirip anggota Salafi-Wahabi. Bedanya, mereka biasa mengenakan serban dan membawa tasbih, sedangkan kaum Salafi-Wahabi tidak mengenakannya bahkan menganggap keduanya sebagai bidah. Perempuan di kelompok ini biasanya mengenakan pakaian dan jilbab panjang hitam serta bercadar.

    Keanggotaan kelompok tersebut meliputi hampir semua negara muslim dari Maroko hingga negara-negara di Asia Tenggara, kendati keanggotaan itu sepertinya tak tercatat secara rapi. Sepengetahuan saya, mereka juga tak memiliki kartu anggota. Sifat keanggotaannya cair. Mereka anti-politik, anti-khilafiyah, dan tak mau menyalahkan kelompok Islam lain, tapi merangkul semua golongan. Mereka juga tak menegaskan konsep jihad dan nahi mungkar. Hal-hal inilah yang sering disebut-sebut sebagai kekuatan penting kelompok tersebut sehingga cepat menyebar dan mudah diterima masyarakat muslim, termasuk di Indonesia.

    Khusus di Indonesia, perkembangan kelompok ini didukung oleh ajaran-ajaran mereka yang sangat dekat dengan amaliyah kebanyakan umat Islam Indonesia, katakanlah Nahdliyin (warga Nahdlatul Ulama), dari masalah mazhab, tasawuf, dan seterusnya, hingga gaya yang ramah dan bijak dalam pergaulan. Perbedaan dengan Nahdliyin praktis hanya doktrin khuruj (ke luar daerah untuk berdakwah).

    Namun, di balik kekuatan jemaah ini, sesungguhnya ada hal-hal yang perlu dicatat. Catatan pertama adalah kurangnya sikap tegas mereka terhadap kelompok-kelompok Islam garis keras atau musuh-musuh bangsa yang lain. Ini berawal dari sikap mereka yang ingin merangkul semua lapisan umat Islam. Mereka berupaya sama sekali tak mencaci siapa pun, kendati belakangan mereka juga terpaksa membalas caci maki kelompok Salafi (Wahabi) di Tanah Air dan Timur Tengah yang begitu agresif menyerang mereka. Itu sebabnya mereka juga menabukan pembicaraan masalah khilafiyah.

    Ini sesungguhnya bisa membahayakan mereka sendiri dan juga umat Islam pada umumnya. Sebab, kelompok kekerasan dan teror itu akan menggunakan segala cara untuk menyusup ke kelompok-kelompok anti-kekerasan sebagaimana banyak terjadi di Pakistan dan Afganistan. Akibatnya, kelompok ini rawan untuk disusupi.

    Dalam kontestasi gerakan keislaman, sikap ini bisa berakibat fatal. Mereka mungkin jarang menjadi sasaran kelompok teror karena memang tak memusuhinya. Namun sikap itu membuat mereka dianggap menoleransi gerakan radikal.

    Catatan lain adalah tentang komitmen keindonesiaan. Sepengetahuan saya, kelompok ini jarang sekali menyebut pentingnya komitmen keindonesiaan. Tujuan terpenting kelompok ini adalah membangun pribadi dan komunitas muslim "global" yang saleh. Mereka memiliki komitmen kuat sebagai bagian dari jemaah muslim global, tapi hampir tak menyebut mengenai keharusan muslim membela keindonesiaan. Padahal ini adalah hal yang sangat krusial dalam konteks kehidupan bersama di bingkai negara dan bangsa saat ini.

    Sejarah umat Islam di Nusantara adalah sejarah keislaman dan kebangsaan sekaligus. Keduanya tak terpisahkan. Catatan ini tak hanya berlaku bagi Jamaah Tabligh di Indonesia. Di negara-negara lain, mereka ditagih untuk menegaskan komitmen kebangsaan mereka.

    Di tengah kontestasi hebat antara kelompok politik Islam yang memiliki komitmen kebangsaan dan yang berorientasi trans-nasional, posisi jemaah ini tentu kurang produktif bagi penguatan nasionalisme. Ini yang sedikit membedakan mereka dari kelompok-kelompok keislaman Tanah Air yang memang sejak awal telah menyertai perjuangan kemerdekaan bangsa ini dari penjajahan.

    Ibnu Burdah
    Dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.