Hangusnya Museum Bahari

Majalah Tempo

Enak dibaca dan perlu.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kondisi Museum Bahari, Jakarta Utara, 18 Januari 2018 pascakebakaran yang terjadi pada Selasa sebelumnya. TEMPO/Fadiya

    Kondisi Museum Bahari, Jakarta Utara, 18 Januari 2018 pascakebakaran yang terjadi pada Selasa sebelumnya. TEMPO/Fadiya

    TERBAKARNYA Museum Bahari di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, membuktikan buruknya pengamanan museum di Indonesia. Sebetulnya api tak muncul tiba-tiba. Sinyal bahaya kebakaran sudah muncul beberapa kali, tapi semua diabaikan. Tak ada perbaikan untuk mengatasi tanda-tanda bakal adanya kebakaran besar itu. Kelalaian yang harus dibayar mahal. Kita kehilangan banyak barang peninggalan sejarah yang amat penting.

    Kebakaran seharusnya dapat dicegah bila saja pengelola museum pintar menangkap tanda-tanda. Sebelum terbakar hebat, museum ini sudah beberapa kali nyaris terbakar akibat munculnya hubungan arus pendek. Pengelola baru mengajukan anggaran penggantian instalasi listrik pada tahun ini. Sayang sekali, justru saat peremajaan instalasi berlangsung, kebakaran keburu terjadi. Gedung A dan C museum-keduanya baru saja selesai direnovasi pada November tahun lalu-ludes terbakar. Lagi-lagi penyebab kebakaran sebetulnya tak asing lagi dihadapi petugas, yaitu korsleting.

    Sebagai pengawas Museum Bahari, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seharusnya menjamin keamanan tempat bersejarah itu dari segala ancaman, termasuk kebakaran dan pencurian. Obyek penting seperti museum semestinya dilengkapi segala infrastruktur keamanan dan perlindungan terhadap kebakaran atau pencurian. Tak seperti rumah atau bangunan biasa, museum mesti memiliki sistem keamanan dan perlindungan sendiri, sehingga bila terjadi kebakaran atau pencurian dapat segera diantisipasi. Untuk menghindari kerugian dari kebakaran dan pencurian, pemerintah tak perlu memajang benda bersejarah asli di museum, cukup replikanya.

    Terbakarnya Museum Bahari juga merupakan bencana bagi dunia permuseuman Indonesia. Peninggalan sejarah bahari dan kemaritiman Indonesia yang disimpan di museum yang dulu merupakan bangunan gudang untuk menyimpan komoditas dagang VOC itu sungguh tak ternilai harganya. Pelbagai jenis perahu tradisional asli-antara lain perahu asli cadik Bali, perahu asli Pangandaran, dan perahu asli Sumatera Utara-musnah jadi abu. Belum lagi koleksi Perang Laut Jawa, pelbagai model dan miniatur kapal tradisional dan modern, peralatan yang digunakan pelaut di masa lalu, serta gedung bersejarah yang berusia lebih dari 300 tahun yang ikut terbakar.

    Keteledoran ini tidak bisa dibiarkan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan polisi harus mengusut tuntas kebakaran itu. Bila perlu, dibentuk tim audit manajemen permuseuman yang melibatkan para ahli di bidang manajemen permuseuman. Audit perlu dilakukan untuk mengetahui apakah museum tersebut dikelola sesuai dengan standar yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tentang Museum atau tidak.

    Kebakaran Museum Bahari harus dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki permasalahan akut yang selama ini terjadi di Indonesia, yaitu kurangnya kesadaran akan pentingnya menjaga, memelihara, dan melestarikan peninggalan budaya. Pemerintah tak boleh lepas tangan terhadap hilangnya catatan peradaban bangsa di bidang kemaritiman tersebut.

    Kebakaran ini tak boleh dianggap sebagai peristiwa biasa dan tidak memiliki konsekuensi apa pun. Sanksi tegas perlu diberikan kepada pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran tersebut agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari. Pemerintah juga perlu mengaudit semua museum untuk memastikan museum-museum di negeri ini telah dikelola dengan semestinya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.