Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Advokat dalam Jeratan Hukum

image-profil

image-gnews
Kuasa hukum Fredrich Yunadi, Sapriyanto Refa, mendatang gedung Komisi Pemberntasan Korupsi (KPK), Jakarta Selatan, 11 Januari 2018. TEMPO/Lani Diana
Kuasa hukum Fredrich Yunadi, Sapriyanto Refa, mendatang gedung Komisi Pemberntasan Korupsi (KPK), Jakarta Selatan, 11 Januari 2018. TEMPO/Lani Diana
Iklan

Emerson Yuntho
Anggota Badan Pekerja ICW

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap dan menahan Fredrich Yunadi, mantan kuasa hukum Setya Novanto. Peristiwa ini tidak hanya menjadi kejutan awal tahun, tapi juga telah mencoreng citra advokat yang dianggap sebagai profesi terhormat (officium nobile). Sebelumnya, KPK menetapkan Fredrich bersama dokter Bimanesh dari Rumah Sakit Medika Permata Hijau sebagai tersangka dalam dugaan tindak pidana mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung (obstruction of justice) penyidikan perkara korupsi kartu tanda penduduk elektronik dengan tersangka Setya Novanto, mantan Ketua DPR.

Dugaan penghalang penegakan keadilan (obstruction of justice) dilakukan Fredrich setelah Setya mengalami kecelakaan mobil di kawasan Permata Hijau dan dirawat di RS Medika pada 15 November 2017. Kecelakaan terjadi saat KPK hendak menangkap Setya di kediamannya. Saat itu KPK menilai pihak rumah sakit tidak bersikap kooperatif terhadap upaya penegakan hukum yang sedang dilakukan.

Penetapan Fredrich sebagai tersangka ini memperpanjang deretan advokat yang tersandung masalah hukum, khususnya korupsi. Dalam catatan Indonesia Corruption Watch, sejak 2005 terdapat sedikitnya 22 advokat yang pernah diproses hukum dan dijerat dengan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Mereka ditangkap atas dugaan penyuapan, menghalang-halangi penyidikan perkara korupsi, dan pemberian keterangan secara tidak benar.

Terdapat 16 advokat yang pernah tertangkap karena berupaya menyuap hakim atau pegawai pengadilan. O.C. Kaligis, misalnya, harus mendekam di penjara karena menyuap hakim Pengadilan Tata Usaha Negara di Medan. Sebelum Fredrich, ada tiga advokat yang pernah menjadi tersangka penghalang penegakan keadilan. Salah satunya Manatap Ambarita, yang berupaya menghalang-halangi pemeriksaan oleh kejaksaan dalam perkara korupsi penyalahgunaan sisa anggaran tahun 2005 pada Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai, dengan tersangka Afner Ambarita.

Tindakan advokat yang terlibat korupsi atau melanggar hukum sesungguhnya sering terjadi, meski tidak banyak yang diproses secara hukum. Hal ini diperkuat oleh penelitian ICW pada 2001 tentang pola-pola korupsi di lingkungan peradilan. Hasil penelitian menemukan banyak penyimpangan yang dilakukan oknum advokat dalam proses beracara dan menempatkan profesi ini sebagai salah satu aktor mafia peradilan. Dari penelitian yang dilakukan di enam kota besar di Indonesia, juga terungkap bahwa praktik suap yang dilakukan advokat terjadi di semua perkara dan dalam setiap tahapan beracara di peradilan. Misalnya, dalam perkara pidana, agar urusan proses hukum menjadi lancar, ada advokat yang tidak segan-segan memberikan suap kepada polisi, jaksa, atau hakim.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Berdasarkan pemantauan ICW tersebut, terpetakan tiga golongan advokat. Pertama, advokat "putih". Advokat ini tidak pernah melakukan suap-menyuap dan melarang pemberi kuasa atau pihak beperkara untuk melakukan penyuapan. Kedua, advokat "abu-abu". Advokat ini tidak mau melakukan suap kepada aparat hukum, tapi tidak melarang pihak beperkara untuk melakukan suap atau lobi untuk kepentingan perkaranya. Golongan ketiga atau yang terakhir adalah advokat "hitam". Advokat jenis ini aktif melakukan suap bahkan mendorong pihak beperkara untuk melakukan suap demi memenangi atau melancarkan perkara.

Meski sudah banyak yang tertangkap penegak hukum, masih banyak advokat yang tetap nekat melakukan cara-cara kotor untuk memenangi perkara atau membela klien mereka. Slogan "maju tak gentar membela yang bayar" akhirnya muncul sebagai cermin dari advokat yang bertindak semata-mata untuk mendapat banyak uang tapi mengabaikan upaya pembelaan hukum yang terhormat. Padahal Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat jelas menyebutkan bahwa advokat dalam melaksanakan tugasnya tidak semata-mata untuk memperoleh imbalan materi, tapi lebih mengutamakan tegaknya hukum, kebenaran, dan keadilan.

Proses hukum yang menjerat Fredrich dan advokat nakal lainnya harus menjadi peringatan bagi advokat lain untuk tidak melakukan tindakan menyimpang atau koruptif pada masa mendatang. Agar menimbulkan efek jera, advokat yang terbukti melakukan perbuatan pidana harus dihukum dengan ancaman hukuman maksimal.

Organisasi advokat, seperti Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi), juga perlu mencegah dan menindak secara internal agar musibah serupa tidak terjadi lagi. Peradi pun wajib mendukung tindakan penegak hukum memproses advokat nakal dan tidak memaknainya sebagai serangan terhadap profesi advokat. Perlu juga diingatkan bahwa kekebalan (imunitas) seorang advokat sebatas pembelaan dalam proses peradilan, tapi tidak dibenarkan melakukan tindakan melawan hukum atau melanggar undang-undang. Terakhir, Peradi tidak perlu ragu untuk menegakkan kode etik profesi advokat dengan memberi sanksi keras atau mencabut lisensi advokat yang terbukti melanggar kode etik atau tindak pidana.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

4 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

18 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

19 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

19 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

20 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

26 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

45 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

54 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024