Senin, 28 Mei 2018

Drone untuk Agroindustri Pedesaan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga Korea Utara berjalan di desanya dekat perbatasan Cina di sungai Yalu, 30 Agsutus 2017. AP

    Sejumlah warga Korea Utara berjalan di desanya dekat perbatasan Cina di sungai Yalu, 30 Agsutus 2017. AP

    Penerapan teknologi digital di desa akan meningkatkan efisiensi maupun efektivitas pembangunan pertanian dan agroindustri secara nyata. Teknologi digital apa yang harus diterapkan di desa dan bagaimana caranya?

    Ada dua yang perlu dikembangkan, yaitu drone dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Keduanya telah banyak dikembangkan di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jerman, Prancis , Jepang, dan Cina. Contohnya, NASA mengembangkan teknologi unmanned aerial vehicle (termasuk drone) sejak beberapa tahun lalu dan Google meluncurkan Google.AI untuk menciptakan teknologi disruptif dengan menggunakan kecerdasan buatan.

    Drone dapat digunakan untuk memotret wilayah pedesaan dari udara, baik dengan pengendali jarak jauh maupun secara mandiri. Citra yang diperoleh dari drone ini selanjutnya dapat diinterpretasikan secara cerdas dengan menggunakan jaringan saraf buatan untuk mendapat informasi berharga tentang potensi desa. Informasi ini dapat menjadi dasar yang obyektif untuk memilih komoditas unggulan dari suatu desa sesuai dengan konsep one village, one product (OVOP).

    Selain itu, drone cerdas seperti ini dapat digunakan untuk membantu proses pemeriksaan tingkat kematangan komoditas pertanian sebelum pemanenan. Pengolahan data tingkat kematangan hasil pertanian yang diperoleh dari hasil pemotretan drone dapat dilakukan dengan salah satu teknik kecerdasan buatan yang dinamakan fuzzy inference system. Dengan demikian, informasi yang dihasilkan akan mempunyai ketepatan dan keakuratan yang sangat tinggi.

    Pada sektor agroindustri, kegiatan operasionalnya perlu ditunjang dengan sistem produksi, pemasaran, dan agrologistik yang cerdas. Dalam kegiatan produksi modern, alur komoditas menjadi produk haruslah dapat ditelusuri. Perencanaan agroindustri pedesaan yang selama ini hanya menggunakan teknologi komputer sederhana (atau bahkan masih manual) dapat diganti dengan Intelligent Agroindustrial Resource Planning (IARP), yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan seperti cellular automata dan algoritma genetika. Sistem IARP yang inovatif ini akan sangat membantu meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional agroindustri serta memudahkan proses penelusuran produk.

    Produk-produk yang dihasilkan oleh agroindustri tentunya harus dapat diserap oleh pasar (konsumen) dengan baik. Untuk memudahkan pemasaran diperlukan sistem perdagangan online yang biasa disebut dengan e-commerce. Namun e-commerce yang konvensional tidaklah cukup untuk memenangi persaingan di pasar lokal dan global. Kemampuan e-commerce juga harus ditingkatkan menggunakan teknik pembelajaran mendalam (deep learning) sehingga dapat mengidentifikasi perilaku konsumen dan meramalkan tingkah laku pasar. Selain itu, e-commerce cerdas ini dapat digunakan untuk membantu agroindustri dalam memprediksi kesuksesan pemasaran dari produk baru yang akan diluncurkan sehingga mengurangi risiko kegagalan bisnis.

    Selain itu, aspek yang harus diperhatikan dalam bisnis dan industri modern adalah sistem rantai pasok dan logistik. Beberapa negara maju sudah mulai menggunakan sistem distribusi produk dengan drone, terutama untuk mengirim produk ke daerah yang sulit dijangkau dengan transportasi darat. Kini drone masih terbatas untuk mengangkut barang-barang kecil dan ringan. Namun, pada masa depan, keterbatasan ini mungkin akan bisa diatasi.

    Pada prinsipnya, sistem distribusi menggunakan drone ini juga dapat diterapkan untuk agroindustri pedesaan, terutama guna menjangkau desa-desa terpencil atau di perbatasan. Agar lebih dapat diandalkan, drone itu harus dilengkapi dengan sistem penglihatan dan navigasi cerdas sehingga dapat terbang secara mandiri menuju berbagai tujuan melalui jalur terpendek. Sistem distribusi yang inovatif seperti ini adalah salah satu komponen dari Sistem Agrologistik Generasi Keempat, yang sudah saatnya dipelajari dan diterapkan di Indonesia.

    Penerapan drone dan kecerdasan buatan ini tentu akan menghadapi kendala. Kendala utama yang muncul dan sering menjadi pertanyaan adalah kesiapan sumber daya manusia di desa, mengingat masyarakat desa masih awam akan teknologi digital. Kendala kedua adalah resistensi dan pikiran negatif (kecurigaan) terhadap teknologi digital. Selain dianggap terlalu mahal, penggunaan drone dan kecerdasan buatan dianggap dapat menyingkirkan manusia dari pekerjaannya. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan kebijakan pemerintah dalam penerapannya.

    Kuncinya adalah teknologi digital sangat diperlukan untuk pembangunan agroindustri di pedesaan. Tanpa teknologi digital, desa akan menjadi semakin primitif dan tidak berdaya saing. Namun teknologi ini harus diterapkan secara selektif dan bertahap. Kesiapan mental dan kemampuan masyarakat desa untuk menerima dan menggunakannya harus terus ditingkatkan. Program pendidikan, penyuluhan, dan pendampingan untuk menerapkan teknologi tersebut juga harus terus dilakukan agar cita-cita untuk mewujudkan desa digital atau desa cerdas dapat tercapai.

    Yandra Arkeman
    Profesor Teknologi Industri Pertanian IPBO


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Jenis Serangan di Seluruh Dunia, Teror Bom Masih Jadi Pilihan

    Inilah jenis-jenis teror dan korban yang jatuh di berbagai penjuru dunia sejak menara kembar WTC diserang, teror bom masih jadi pilihan pelaku teror.