Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Akrobat Politik Pilkada Serentak

Oleh

image-gnews
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan usai menghadiri upacara  Gelar Pasukan Operasi Mantap Praja Lodaya 2018 Pengamanan Pilkada Serentak 2018 Jawa Barat di Lapangan Gasibu, Bandung, Jumat pagi, 5 Januari 2018.
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan usai menghadiri upacara Gelar Pasukan Operasi Mantap Praja Lodaya 2018 Pengamanan Pilkada Serentak 2018 Jawa Barat di Lapangan Gasibu, Bandung, Jumat pagi, 5 Januari 2018.
Iklan

Demokrasi kita makin amburadul menjelang pemilihan kepala daerah serentak. Pragmatisme menjadi panglima dalam berpolitik. Energi figur yang ingin berlaga habis buat melobi pemimpin partai politik untuk mendapat tiket pencalonan. Pilkada menjadi ajang politik kepentingan buat menghadapi pemilihan anggota legislatif dan presiden pada 2019.

Manuver dalam proses pencalonan gubernur di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara menggambarkan praktik politik yang kurang sehat itu. Dukungan partai politik menjadi rebutan para tokoh yang berniat ikut berlaga dalam pilkada. Pemimpin partai pun lihai menarik-ulur sokongan sesuai dengan kepentingannya.

Kisah Wali Kota Bandung Ridwan Kamil hanyalah salah satu contoh. Hingga menjelang tenggat pendaftaran calon gubernur, ia masih sibuk melobi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk mendapatkan tambahan sokongan. Tokoh yang populer di Jawa Barat itu bergerak cepat setelah Golkar mencabut dukungannya. Partai ini memilih bergabung dengan Partai Demokrat untuk mengusung Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar. Sebelumnya, Deddy pun sempat ketar-ketir setelah ditinggalkan Gerindra, yang belakangan menjagokan Mayor Jenderal Purnawirawan Sudrajat.

Akrobat politik serupa terjadi di banyak daerah, baik provinsi maupun kabupaten atau kota, yang menggelar pemilihan kepala daerah secara serentak tahun ini. Sokong-menyokong menjadi urusan nomor satu. Kepentingan dan aspirasi masyarakat setempat dinomorduakan. Kriteria pemimpin yang pas untuk suatu daerah juga tidak menjadi bahan perbincangan. Tak pernah dibahas apakah kandidat mampu memakmurkan rakyat di daerah pemilihan atau tidak.

Masyarakat di daerah makin terasa menjadi penonton lantaran lobi-lobi itu juga melibatkan kepentingan untuk menghadapi pemilihan anggota legislatif dan presiden pada 2019. Partai politik menghitung betul soal ini. Calon kepala daerah pun paham. Panglima Komando Cadangan Strategi Angkatan Darat Letnan Jenderal Edy Rahmayadi, misalnya, tak ragu di depan publik mengenakan baju Partai Keadilan Sejahtera--partai yang mendukungnya dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara. Hanya, pada hari berikutnya, Edy terlihat memakai baju Golkar.

Orang tentu tak habis pikir, bagaimana kesamaan visi, kalaupun bukan ideologi, antara calon kepala daerah dan partai penyokong bisa dibangun dalam waktu sekejap. Dukung-mendukung hanya ditentukan dalam hitungan bulan, minggu, bahkan hari. Aroma pertarungan menghadapi pemilihan presiden 2019 pun terasa sekali dalam ajang pilkada.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Koalisi Gerindra, Partai Amanat Nasional, dan Partai Keadilan Sejahtera, yang terlihat masih menjagokan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada pemilihan umum mendatang, bahkan kompak menyokong satu nama calon di beberapa daerah. Sejauh ini, hanya Prabowo yang menjadi pesaing kuat Joko Widodo pada pemilihan presiden 2019. Prabowo leluasa memainkan kartu karena ia juga menjadi Ketua Umum Partai Gerindra. Jokowi lebih sulit memerankan hal serupa karena ia bukan Ketua PDI Perjuangan. Penentu calon kepala daerah dari PDI Perjuangan tetaplah Megawati sebagai ketua umum.

Harus diakui, hasil pertarungan dalam pilkada akan berpengaruh terhadap elektabilitas partai politik dan calon presiden yang akan diusung pada Pemilu 2019. Hanya, cara instan dengan menyokong tokoh-tokoh populer nonkader akan menjadi bumerang bagi partai. Dalam demokrasi kita, masyarakat akan makin berorientasi ke tokoh, bukan partai. Hal ini merupakan gejala dari keadaan yang lebih mencemaskan: krisis sistem kepartaian. Bukan cuma soal kaderisasi yang lemah, partai-partai juga mengalami krisis ideologi.

Jangan heran jika tingkat kedekatan masyarakat terhadap partai politik atau identifikasi partai di negara kita pun amat rendah. Lembaga The Comparative Study of Electoral Systems mencatat, pada 2005, level identifikasi partai di Indonesia hanya 12 persen dan mungkin saat ini makin merosot. Bandingkan dengan negara demokrasi lain seperti Amerika Serikat, yang mencapai 57 persen, dan Australia, 84 persen. Ini yang menjelaskan pula mengapa pemilih kita gampang berpindah ke partai lain dalam setiap pemilu.

Akrobat politik menjelang pilkada jelas mempertontonkan keadaan sistem kepartaian yang makin sekarat. Para pemimpin partai semestinya menyadari hal ini. Membesarkan partai politik tidak bisa hanya dilakukan secara instan dengan berebut tokoh populer dalam ajang pilkada, tapi harus dilandasi visi atau ideologi yang menyentuh kepentingan publik. Cara pragmatis mendulang dukungan hanya akan membuat partai makin kehilangan relevansi di masyarakat.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

1 hari lalu

Antisipasi Lonjakan Harga menjelang Idul Adha, Dinas Perdagangan Kota Palembang Adakan Pasar Murah. TEMPO/ Yuni Rohmawati
Disdag Palembang Gelar Pasar Murah, Antisipasi Lonjakan Harga Menjelang Idul Adha

Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar pasar murah menjelang hari Raya Idul Adha 2024


Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

15 hari lalu

Salah satu industri game dunia Sony and XBOX ONE, mengikuti pameran ini. Industri game di Inggris menyumbang GDP terbesar bagi Inggris, dengan total nilai transaksi mencapai  1.72 milyar poundsterling. Birmingham, Inggris, 24 September 2015.  M Bowles / Getty Images
Asosiasi Tagih Janji Pemerintah Soal Penguatan Industri Game Nasional, Isu Pendanaan Paling Krusial

Asosiasi game nasional mendesak realisasi Perpres Nomor 19 tahun 2024 soal pengembangan industri game nasional sebelum rezim berganti.


Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

16 hari lalu

Gajah-gajah saat menyiram wisatawan saat berkunjung ke Tangkahan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Gajah-gajah tersebut digunakan bagi wisatawan untuk trekking keliling kawan ini. Tempo/Soetana Monang Hasibuan
Mengenal Tangkahan, Kawasan Ekowisata dan Konservasi Gajah di Taman Nasional Gunung Leuser Sumut

Tangkahan dijuluki sebagai The Hidden Paradise of North Sumatra, karena letaknya yang tersembunyi dengan keindahan alam yang masih alami,


Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

16 hari lalu

Pekerja tengah menyelesaikan proyek pembangunan rumah subsidi di kawasan Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 6 Februari 2023. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. targetkan 182.250 unit KPR FLPP dan Tapera, seiring dengan rasio jumlah kebutuhan rumah (backlog) masih tinggi mencapai 12,75 unit. Tempo/Tony Hartawan
Mengenal Tapera yang Akan Memotong Gaji Pegawai Sebesar 3 Persen

Tapera adalah penyimpanan dana yang dilakukan oleh peserta secara periodik dalam jangka waktu tertentu


Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

17 hari lalu

Telaga Merdada terlihat dari atas ketinggian 2.500 meter, di Dieng, Banjarnegara, (4/10). Penghujung musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng menyuguhkan pemandangan yang eksotis. Aris Andrianto/Tempo
Dieng Caldera Race Digelar 8-9 Juni 2024, Peserta Diajak Lari Menikmati Keindahan dan Dinginnya Dieng

Pada Juni hingga Agustus, suhu udara di ketinggian Dieng mencapai nol derajat Celcius, bahkan minus.


Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

23 hari lalu

Pimpin Ambon, Wattimena Berhasil Lantik Sejumlah Raja Defenitif

Pemkot tidak melakukan intervensi dalam proses penetapan raja.


IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

42 hari lalu

IMI dan RS Premiere Bintaro Kerja Sama di Bidang Layanan Kesehatan

RS Premiere Bintaro menyediakan berbagai fasilitas khusus untuk pemilik KTA IMI.


Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

51 hari lalu

Sertijab Pj Bupati Musi Banyuasin
Apriyadi Siap Dukung Pj Bupati Muba Sandi Fahlepi

Sandi mengajak semua elemen yang ada di Kabupaten Muba bahu membahu secara berkeadilan, setara dan transparan.


Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

3 April 2024

Menhub Buka Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi secara resmi membuka Pos Koordinasi (Posko) Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta.


1 April 2024