Senin, 28 Mei 2018

Setelah Sukses di Toko Sebelah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Film Susah Sinyal. YouTube

    Film Susah Sinyal. YouTube

    SUSAH SINYAL
    Sutradara : Ernest Prakasa
    Skenario : Meira Anastasia dan Ernest Prakasa
    Pemain : Adinia Wirasti, Aurora Ribero, Ernest Prakasa, Ninik L.Karim, Dayu Wijanto
    Produksi : Starvision Plus

    Beban terberat bagi kreator yang karya sebelumnya dianggap berhasil adalah: perbandingan. Tak bisa tidak, karya Ernest Prakasa berjudul Cek Toko Sebelah yang meraih banyak penghargaan di berbagai festival –termasuk Festival Film Indonesia yang mengganjarnya sebagai penulis Skenario Asli Terbaik tahun ini—akan selalu menjadi standar dari karya-karya Ernest berikutnya.

    Film itu, dengan segala catatan, berhasil membuat sebuah drama keluarga yang memasukkan keIndonesiaan lengkap dengan unsur sosial sembari tetap setia pada akar komedi.

    Pada film Cek Toko Sebelah, Ernest memahami pada dasarnya film komedi atau genre apapun harus tetap berakar pada induknya: drama. Ernest paham bahwa sebuah film komedi membutuhkan plot yang logis dan konflik, dan bukan sekedar serangkaian sketsa lucu-lucuan. Itulah yang menyebabkan berbagai film komedi romantik Hollywood yang meledak bisa berhasil menjadi klasik, dari karya-karya Rob Reiner hingga karya Woody Allen.

    Tetapi sudahlah kita tak perlu menyebut-nyebut nama-nama besar itu dulu. Di Indonesia, genre komedi adalah genre paling sulit karena urat lucu penonton memang berbeda-beda. Karena itu ketika Cek Toko Sebelah muncul, saya mengira mungkin saja Nyak Abbas Akub akhirnya akan menyerahkan tongkat estafet berikutnya pada Ernest. Nampaknya harapan itu harus saya simpan dulu karena film Susah Sinyal mengandung beberapa problem.

    Semula judul, pemain, dan lokasi Sumba terdengar menjanjikan, meski saya sudah mulai bertanya-tanya mengapa semua sineas jadi beramai-ramai mengambil Sumba sebagai lokasi setting diantara ribuan pulai eksotik lainnya di Indonesia. Tapi itu juga bukan persoalan penting. Yang penting adalah plot film ini.

    Seorang orang tua tunggal; seorang anak remaja perempuan yang merasa tidak dipedulikan sang Ibu; seorang nenek yang penuh kasih yang kemudian meninggal hingga ibu-anak yang bertengkar melulu itu akhirnya memutuskan berlibur ke Sumba untuk menjauhkan diri dari polusi tubuh dan jiwa. Ternyata mereka juga jadi jauh dari sinyal sehingga agak menyulitkan bagi manusia urban yang terkenal lebih suka melekat pada ponsel mereka daripada dengan manusia.

    Sebuah cerita urban yang menjanjikan: ada drama, ada humor dan sekaligus ada sebuah lokasi yang membuat penonton ingin segera memesan tiket dan segera melancong menikmati keindahan Sumba. Tetapi antara janji dan eksekusi adalah persoalan lain. Ada skenario sebagai bangunan utama film; lantas ada eksekusi drama tiga babak.

    Tak ada yang salah untuk mengajukan plot sederhana tentang seorang orangtua tunggal yang berprofesi sebagai pengacara dengan anak remaja yang cemberutan melulu. Juga tak ada yang salah untuk memberikan beberapa subplot di mana sang Ibu yang baru saja mengundurkan diri dari perusahaannya yang lama untuk membangun kantor biro hukum baru lantas sangat fokus kepada pekerjaannya.

    Tugas Ernest tentu meyakinkan kita semua tentang tokoh-tokoh utama dan tokoh pendukungnya memang diperlukan untuk seluruh plot itu.
    Problem pertama dalam film-film Indonesia yang menyajikan setting urban adalah meyakinkan penonton tentang profesi protagonis, misalnya dia seorang pengacara, atau copywriter iklan atau apapun, sering tak meyakinkan.

    Dalam hal ini, saya tak kunjung yakin tokoh Ellen adalah seorang pengacara. Meski ini sebuah film drama komedi, tak berarti kita mengabaikan bangunan profesi Ellen yang membentuk dirinya dan karakternya. Saya terus menerus tak bisa yakin biro hukum baru yang berisi 2 pengacara senior dan satu pengacara magang yang tak paham bahasa Indonesia itu adalah sesuatu yang nyata dalam jagat Ernest.

    Problem Ibu-anak yang disajikan cukup realistis. Anak seusia Kiara (Aurora Ribero) memang kompleks. Tetapi pertengkaran antara ibu-anak menurut saya bisa digarap lebih dalam dengan dialog yang lebih meyakinkan seperti halnya –lagi-lagi saya membandingkan dengan karya Ernest sebelumnya –Cek Toko Sebelah yang menyajikan konflik ayah dan anak yang dalam.

    Antara Ellen dan Kiara segalanya serba mudah beres sehingga kita tak sempat untuk menyukai , apalagi mencintai, tokoh-tokohnya. Padahal judul “Susah Sinyal” semula saya harapkan adalah sebuah simbol tentang hubungan antara sang ibu dan anak.

    Belum lagi dengan para tamu hotel dan pemilik hotel yang fungsinya dalam cerita tak terlalu penting, meski harus diakui kehadiran mereka memang menyegarkan. Dari seluruh deretan pemain, justru penampilan Refal Hady dan Dayu Wijayanto yang sangat menonjol dan saya duga akan mencuri perhatian banyak orang di musim penghargaan nanti.

    Selebihnya, saya tetap berharap pada karya berikutnya Ernest bisa menampilkan karya yang seperti yang pernah diucapkannya, bahwa film genre apa pun, termasuk komedi pasti akan berinduk pada drama. Saya sendiri masih berharap dialah salah satu penerus tongkat estafet Nya Abbas Akub, karena sineas komedi di Indonesia sangat langka.

    LEILA S. CHUDORI


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Jenis Serangan di Seluruh Dunia, Teror Bom Masih Jadi Pilihan

    Inilah jenis-jenis teror dan korban yang jatuh di berbagai penjuru dunia sejak menara kembar WTC diserang, teror bom masih jadi pilihan pelaku teror.