Sabtu, 18 Agustus 2018

Cempaka

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi badai. Johannes P. Christo

    Ilustrasi badai. Johannes P. Christo

    Cempaka itu nama bunga. Bunga yang harum dan mahal. Yang paling terkenal di Nusantara ini adalah cempaka putih atau biasa disebut cempaka kantil. Nama latinnya Michelia alba.Bunga ini dipakai sebagai sarana ritual oleh penganut keyakinan tertentu.

    Dahlia juga nama bunga. Memang, dibandingkan dengan anggrek dan bakung, dahlia kurang begitu indah dijadikan pajangan. Namun, kalau kita bicara tentang bunga, tak bisa nama-nama itu diabaikan.

    Bagaimana kalau nama itu tak dikaitkan dengan bunga? Kaitkan dengan badai, misalnya. Terjadi anomali dan sungguh celaka. Badai Cempaka sudah meminta banyak korban jiwa. Ada 19 orang meninggal di berbagai daerah yang mengalami banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung. Siklon tropis alias badai itu disebut sebagai yang paling dahsyat di negeri ini. Jauh lebih dahsyat dari badai Anggrek pada 2010 dan badai Bakung pada 2014. Lebih sial lagi, ketika badai Cempaka akan meninggalkan perairan laut selatan Jawa, badai Dahlia datang dari perairan Lampung.

    Cempaka dan dahlia, juga anggrek dan bakung, tidak seindah dan seharum bunganya jika dikaitkan dengan badai. Mari salahkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang diberi hak untuk memberi nama siklon tropis ini. Kenapa meminjam nama bunga? Kenapa tidak mengikuti Amerika Serikat yang menyiapkan 21 nama badai setiap tahun dengan nama-nama orang?. Bukankah Word Meteorological Organization (WMO), yang mengawasi pemberian nama-nama badai, tidak mengharuskan nama tertentu?.

    Di Amerika, nama badai itu Harvey, Irma, Jose, Katrina, Cindy, Irene, Emily, Franklin, dan banyak lagi. Yang diatur oleh WMO adalah nama badai tak boleh sama dalam kurun waktu tertentu dan karena itu dipilihlah nama-nama sesuai dengan huruf alfabet awal. BMKG memilih nama bunga, maka secara alfabet muncullah nama anggrek, bakung, cempaka, dan dahlia. Nanti, setelah dahlia, entah apa nama badainya, karena nama bunga dengan huruf awal "e" langka. Di Amerika pun nama badai dengan huruf awal "x", "q", dan "z" dilewati.

    Kenapa dipilih nama bunga? Ternyata bukan sekadar iseng, apalagi ngawur. Sudah dikaji mendalam sesuai dengan filosofi budaya bangsa yang luhur. Tujuannya mulia, agar siklon tropis yang muncul di negeri ini tidak dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Nama bunga diberikan agar tidak menimbulkan ketakutan dan sesuatu yang menyeramkan. Sebelum nama-nama badai ditertibkan oleh WMO, pernah ada badai yang diberi nama Durga, siklon tropis di perairan barat daya Bengkulu pada April 2008. Penamaan itu konon menakutkan karena sejumlah orang terbawa mitos Dewi Durga sebagai Sang Penghancur.

    Padahal filosofi leluhur adalah bencana alam bukan penghancuran. Bencana alam bukanlah malapetaka, melainkan sebuah proses dari semesta untuk mengharmoniskan jagat raya. Bumi bergerak menyeimbangkan diri, dan jika alam ada yang rusak, manusia harus berintrospeksi, jangan-jangan ada yang salah dalam merawat bumi. Mungkin hutannya terlalu banyak ditebang, mungkin ada pemanasan global, dan seterusnya. Kita harus bersahabat dengan alam.

    Presiden Jokowi cukup bijak dalam menanggapi datangnya apa yang disebut sebagai bencana belakangan ini. Jokowi berharap masyarakat tenang dan tidak panik. Gunung meletus di Bali bisa dijadikan daya tarik tambahan bagi wisatawan, katanya. Siklon tropis hadapi apa adanya, jangan takut. Jadi, tak salah badai dahsyat ini diberi nama Cempaka. Tak ada yang memaki karena cempaka adalah bunga yang harum. Coba kalau memakai nama orang seperti di Amerika, namanya bisa saja badai Cemplon, dan orang mudah memaki-makinya. PUTU SETIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.