Saad, Saudi Baru, dan Hizbullah

Majalah Tempo

Enak dibaca dan perlu.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ibnu Burdah

    Dosen UIN Sunan Kalijaga

    Perdana Menteri Libanon Saad al-Hariri tiba-tiba menyatakan mundur dari jabatannya. Pernyataan itu sungguh di luar kebiasaan karena disampaikan di Riyadh, Arab Saudi, bukan di Beirut atau kota lain di Libanon. Setelah pernyataan itu, ia menghilang seakan ditelan bumi. Pernyataannya tersebut tak bisa dikonfirmasi, bahkan nasibnya tak diketahui. Meskipun kemarin tersiar kabar bahwa Saad menulis di akun Twitter-nya bahwa dia "baik-baik saja dan akan segera kembali ke Libanon".
    Tentu saja hal ini membuat Libanon, yang relatif bisa menjaga stabilitas keamanan dalam beberapa waktu terakhir, sontak gempar. Bagaimanapun, Saad adalah kepala pemerintahan dan simbol Libanon.

    Menurut sumber Al-Jazeera, ada anggota keluarga yang sempat bisa menghubungi Saad melalui telepon, tapi Saad hanya mengulang-ulang kata "baik" dan "insya Allah". Presiden Libanon Michel Aoun, ketua parlemen, dan para tokoh negara mini itu satu suara: tak menerima pengunduran diri Saad sampai ia pulang dan menyatakan itu tanpa tekanan. Para pemimpin Libanon meminta beberapa negara besar terlibat untuk memastikan nasib Saad.

    Spekulasi mengenai nasib Saad menyeruak. Salah satu yang paling kuat adalah dugaan ia menjadi tahanan rumah di Arab Saudi, sebagaimana dugaan yang sama terhadap Presiden Yaman Abdu Rabbi Manshur Hadi. Bila demikian, Arab Saudi tak sepantasnya menutup akses para pemimpin dan rakyat Libanon terhadap perdana menterinya.

    Apa pun alasannya, apa yang dilakukan Arab Saudi terhadap Saad adalah kesalahan fatal. Itu bentuk penghinaan yang luar biasa terhadap kepala pemerintahan dan bangsa Libanon. Bahkan, sejak kedatangannya di Riyadh, Saad sudah dilecehkan. Ia tak menerima sambutan sebagaimana layaknya pemimpin pemerintahan. Sejak awal, sejumlah tokoh dan pengamat Libanon juga mengungkapkan kegusaran mereka atas perlakukan Saudi terhadap Hariri.

    Saad adalah anak dari tokoh Sunni Libanon, Rafiq al-Hariri, yang terbunuh saat menjabat perdana menteri. Ia juga memiliki kewarganegaraan Saudi dan dipandang sebagai "kepanjangan tangan" Saudi dalam konflik di Libanon. Ia adalah pemimpin salah satu blok politik yang disebut dengan Tayyar Al-Mustaqbal (Arus Masa Depan). Konflik antara Sunni, Syiah, dan Maronit berlangsung lama di Libanon. Perpecahan rakyat Libanon akibat isu sektarian masih kuat hingga sekarang.

    Faktanya, Syiah Hizbullah di negara itu sangat dominan. Mereka memegang senjata dan kekuatannya jauh melampaui kemampuan militer Libanon sendiri. Hizbullah berargumen bahwa tentara dan kekuatan militer mereka perlu dipertahankan bahkan dikembangkan untuk "perlawanan" melawan Israel, yang berbatasan dengan Libanon Selatan- basis Hizbullah.

    Kekuatan Hizbullah ternyata tak hanya untuk melawan Israel. Beberapa tahun terakhir, mereka terlibat secara sangat intens setidaknya dalam perang di Suriah dan Yaman. Dalam dua perang besar inilah, Saudi benar-benar sangat geram kepada Hizbullah. Berkat dukungan Hizbullah dan lainnya, Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang hendak ditumbangkan oposisi dukungan Saudi dan negara lain, masih bertahan hingga kini. Saudi harus menerima kenyataan bahwa mereka kalah perang di Suriah dan faktor Hizbullah sangat signifikan, di samping Rusia dan Iran.

    Di Yaman, yang terjadi kurang-lebih juga demikian. Perang ini benar-benar taruhan besar bagi Arab Saudi. Mereka bukan hanya sponsor logistik, tentara mereka juga terlibat langsung secara luas dalam konflik itu. Mereka adalah pengobar perang yang mereka sebut "Ashifah al-Hazm" (Badai Kemenangan). Faktanya, perang itu tak menghasilkan apa-apa kecuali kehancuran luas dan tragedi kelaparan rakyat Yaman. Di negeri itu, Arab Saudi tidak hanya tak berhasil mencapai tujuan, yakni menumbangkan kekuatan Houthi, melainkan juga dituding telah melakukan pelanggaran kemanusiaan dalam skala luas. Reputasi Saudi semakin hancur akibat perang Yaman.

    Kini Yaman menjadi salah satu sumber ancaman nyata dalam pertahanan Saudi. Rudal dari Yaman bahkan telah sampai ke Riyadh, kendati tak ada korban jiwa. Ini membuat Pangeran Salman benar-benar berang. Apalagi ini semua diduga dilakukan oleh kelompok Houthi, yang didukung Hizbullah.
    Hizbullah telah menjadi ancaman besar bagi kepentingan Saudi di seluruh kawasan. Penguasa Saudi mungkin berpendapat bahwa menguatnya Hizbullah adalah akibat kegagalan Saad al-Hariri dalam menghadapi Hizbullah di Libanon. Karena itulah, Saudi ingin memberikan hukuman atas kegagalan Saad yang berdampak besar pada kegagalan Saudi di sejumlah negara di kawasan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.