Arab Saudi Menuju Era Baru?

Majalah Tempo

Enak dibaca dan perlu.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ibnu Burdah
    Dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

    Kerajaan Arab Saudi seakan sedang berubah. Pada 26 September lalu, Raja Salman bin Abdul Aziz mengeluarkan keputusan yang memperbolehkan perempuan menyetir mobil-suatu hal yang biasa di negeri lain, tapi luar biasa di Saudi. Keputusan itu akan diberlakukan secara efektif mulai pertengahan tahun depan.

    Hingga saat ini, perempuan di Saudi dilarang untuk mengendarai mobil. Keputusan baru itu sangat kontroversial karena bertentangan dengan yang berlaku puluhan tahun di sana dan didasarkan pada fatwa agama. Pelarangan mengendarai mobil juga didasarkan pada fatwa para pembesar Haiah Kibar al-Ulama, otoritas agama Islam tertinggi di Saudi, seperti Syekh Abdul Aziz bin Baz, Syekh Abdul Aziz bin Ali Syekh, dan Syekh Ali Fauzan. Tapi, setelah Raja Salman mencabut larangan itu, Haiah Kibar al-Ulama juga menyatakan bahwa keputusan baru raja itu tidak bertentangan dengan agama, bahkan sesuai dengan maslahat umum rakyat Saudi.

    Berita kontroversial lain adalah mengenai peringatan hari nasional Saudi yang dirayakan dengan berbagai kegiatan. Hal itu di antaranya adalah nyanyian di tempat-tempat terbuka dengan laki-laki dan perempuan berada bersama di tempat tersebut. Sebagian dari mereka juga berjoget dengan cara masing-masing, kendati baju yang dikenakan perempuan kebanyakan juga masih menggunakan abaya lengkap disertai cadar. Yang laki-laki juga mengenakan pakaian lengkap khas Arab Teluk.
    Hal ini benar-benar tak biasa terjadi di negeri itu. Masyarakat Saudi melakukan pemisahan secara ketat antara laki-laki dan perempuan di ruang publik. Apalagi mereka berjoget dan bernyanyi di tempat-tempat umum. Ini sungguh sangat janggal. Lebih mengejutkan lagi, dari banyak berita yang beredar, banyak perempuan bahkan melepaskan sebagian pakaian abayanya.

    Hal yang kurang-lebih sama kontroversialnya adalah dibukanya tempat-tempat wisata, terutama pantai, yang memperkenankan perempuan dan laki-laki tak berpakaian rapat sebagaimana biasa. Bahkan, banyak yang tidak menutup aurat. Hal lainnya adalah pembukaan bioskop dan tempat konser musik. Selama ini, bioskop dan konser musik dilarang keras di sana.

    Benarkah masyarakat Arab Saudi saat ini memang sedang berubah menuju sebuah era baru, katakanlah era keterbukaan? Semua masyarakat tentu dinamis. Tak ada masyarakat yang benar-benar statis. Apalagi masyarakat Saudi yang memiliki akses besar ke dunia luar, baik berkat kemakmurannya maupun lewat sarana komunikasi dan media sosial baru.

    Namun apa yang terjadi di Saudi sesungguhnya perubahan artifisial saja. Peristiwa-peristiwa kontroversial di atas sama sekali tidak menandai adanya perubahan mendasar, baik secara sosial maupun politik. Dari sisi politik, tak ada perubahan berarti dalam masyarakat tersebut. Penguasanya tetaplah sebuah keluarga dengan sistem monarki absolut. Rakyat tidak memiliki hak untuk menentukan masa depan negerinya.

    Mereka yang mengkampanyekan sistem kekuasaan yang lebih demokratis, seperti sistem monarki konstitusional atau pendirian partai, berakhir di penjara. Bahkan, hanya mencuit harapan di media sosial agar rakyat Saudi dan Qatar diberkahi Allah saja juga berakhir di penjara. Rezim Saudi bukannya semakin membuka aspirasi masyarakat dalam menentukan urusan bersama, melainkan justru semakin otoriter terhadap segala perbedaan politik. Secara sosial, Saudi masih tertutup dan tak siap dengan perbedaan pemikiran dan pendapat.

    Apa yang dilakukan rezim Saudi saat ini dengan memberi kelonggaran perempuan mengendarai mobil, pembukaan bioskop, konser musik, dan seterusnya tak lain adalah jalan pintas rezim untuk mengurangi tekanan. Tekanan sosial, ekonomi, dan politik terhadap rezim saat ini sangatlah kuat. Rezim ini sepertinya sedang dalam ancaman serius, baik dari dalam maupun dari luar.
    "Konsesi" rezim dengan memberikan kebebasan artifisial kepada masyarakat itu diharapkan akan mengurangi kekecewaan masyarakat terhadap rezim. Namun mereka sepertinya lupa bahwa kerajaan itu sesungguhnya dibangun di atas fondasi keislaman yang sangat konservatif. Dengan "liberalisasi" tersebut, rezim ini sesungguhnya telah membongkar fondasinya sendiri. Apalagi, hal ini dilakukan tanpa didahului diskusi yang memadai di ruang publik.

    Sejauh ini memang belum ada perlawanan terbuka dan penggalangan massa dari ulama terkemuka di Saudi terhadap beberapa keputusan rezim. Bahkan, tak lama setelah pengumuman pembolehan perempuan mengendarai mobil, Haiah Kibar al-Ulama segera memberikan legitimasi atas keputusan itu.

    Tapi sikap liberalisasi rezim ini jelas mengecewakan kalangan luas yang menjadi pendukung utama kerajaan, baik kalangan ulama maupun muslim konservatif. Kendati disambut masyarakat, perubahan yang serba mendadak dan atas-bawah seperti itu bisa berakibat fatal bagi rezim itu dalam beberapa waktu ke depan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.