Dosa besar

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • SEORANG anak bayi cacat bertanya kepada saya, di manakah ia bisa hidup. Saya mau katakan kepadanya hiduplah di dunia ini, 'nak. Tapi cahaya lampu menyentuh mukanya. Saya lihat mata kiri itu tak ada dan bibir itu tinggal separuh. "Saya akan selamanya begini," katanya -- seakan ia tahu apa yang saya pikirkan. Seorang anak bayi cacat bertanya kepada saya, dan saya tak bisa menjawab. Mengapa, ya? Dunia hanya satu-satunya alternatif, ia tak bisa pergi dengan sendirinya ke akhirat, dari boks tempat tidur itu, atau pulang ke rahim, tapi adakah di dunia ruang cukup luas untuknya? Bayi itu bertanya lagi kepada saya, ke manakah ia bisa mengadu. Saya ingin katakan, mengadulah kepada Tuhan, 'nak. Tapi saya lihat ia tak berkaki. Barangkali Tuhan lebih dekat kepadanya ketimbang kepada saya, dan barangkali pula ia telah bicara. Hanya saya tak bisa menebak apa kehendak-Nya. Adakah bayi itu juga mengerti? Mungkin juga tak perlu ia mengerti. Penciptaan punya makna yang kadang aneh, tapi di tempat tidur kecil tempat terbaring seorang anak cacat, saya bayangkan para malaikat selalu membereskan sprei. Saya bisa membayangkan macam-macam, tapi saya tak bisa menjawab banyak. Juga ketika bayi itu bertanya, melalui gerak bulu sebelah matanya, siapakah yang salah, apakah yang salah. Di luar kamar di balik dinding bambu itu angin bercampur malam, lorong hanya separuh kelihatan. Saya ingin katakan bahwa tak ada yang salah, tapi bayi itu telah bicara lebih dahulu. "Ibuku tak bersalah, bukan?" tanyanya. Tidak, 'nak, jawab saya. "Ibu menelan obat anti-haid ketika mengandungku, tapi karena ia begitu menderita, bukan?" Benar, 'nak, jawab saya. Lalu kami terdiam sebentar, kemudian ia meneruskan: "Ibu tak mau melihat lebih banyak anak memperebutkan rezeki kecil di rumah ini. Tapi ia tak tahu caranya, bapak tak tahu caranya." Saya agak gelisah dan mengusap-usapkan telapak tangan ke pantat, seperti seorang murid yang kena tegur. Seekor cecak di tembok menerobos bayang-bayang. "Saya sebenarnya tak dikehendaki lahir," terdengar suara itu kembali. Saya menjawab, banyak di antara kita yang semula tak irncanakan lahir, tapi Tuhan punya rencana lain. "Memang," kata bayi itu, "saya pun tidak hendak mengasihani diri sendiri. Hanya obat itu mengiris pedih, ke dalam rahim itu. Ia menghancurkan pelan-pelan mata ini sebelah, lalu menyerang bibir . . . " Saya cepat-cepat pura-pura menabok nyamuk, tak ingin mendengarkannya lebih lanjut. Dan sejumlah nyamuk kurus yang belum agresif pun mengelak, terbang. *** SEORANG wanita yang keras hati pada suatu hari menulis: "Semalam, setetes hidup telah terlepas dari ketiadaan." Sebuah nyawa memang mendarat di perutnya. Ia hamil. Tapi ia risau. Benih itu adalah benih tak sah dari seorang lelaki yang tak begitu mendapat tempat di hatinya. Haruskah ia kembalikan nyawa itu ke ketiadaan, ataukah ia akan hadirkan ia di bumi? Ia pilih yang terakhir. Tapi kandungan itu begitu lemah, tubuhnya secara medis harus diistirahatkan untuk memungkinkan si bayi selamat. Beberapa hari ia patuh. Tapi ia wanita yang keras dan aktif dan harus bekerja untuk karirnya, sebagai wartawan. "Dua minggu yang tak bergerak di tempat tidur sungguh berlebihan bagiku," tulisnya kemudian. Ia seperti memrotes bahwa wanita harus jadi larva, untuk bayinya, maka ia pun mulai kembali bekerja kembali, bepergian kembali. Dan bayi di perut itu pun mati. Cerita ini mungkin akan jadi beres seandainya wanita keras itu pun bisa diam. Tapi ia kemudian ternyata menulis, sebuku penuh, kepada bayinya yang gagal: surat Kepada Seorang Anak Yang Tak Pernah Lahir. "Ulurkanlah tanganmu kepadaku," kalimatnya bicara. "Lihat, kini kau yang memimpinku, membimbingku. Tapi memang kau bukan sebutir telur, kau bukan ikan yang kecil: kau seorang anak! Kau telah tinggi sampai ke lututku. Bukan, malah ke hatiku . . . " Sentimental. Tapi betapa aneh wanita itu adalah Oriana Fallaci, yang pernah melemparkan mikrofon ke muka Muhammad Ali, dalam suatu wawancara yang meradang. Seorang ibu pada akhirnya memang menanggung beban, ketika ia bisa memilih antara melahirkan atau tidak melahirkan. Ada kemerdekaan, tapi juga kesendirian dan rasa bersalah yang dalam.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.