Bentuk lain

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PRONOCITRO jatuh cinta dan mati bersama Roro Mendhut mereka toh tidak bertanya, "buat apa". Layonsari mengikuti Jayaprana dan akhir mereka fatal, tapi tidak pernah ragu, "apa gunanya". Kita sering tepekur oleh kisah-kisah tentang passion yang begitu nekad, tapi begitu indah dan tidak palsu: mereka ternyata bisa memberi harga pada sesuatu yang sia-sia. Kata orang, karena dengan itu kita memperoleh semacam peneguhan kembali bahwa hidup manusia tidak seluruhnya berupa perhitungan laba-rugi. Manusia tak sepanjang waktu berjualan toko kelontong. Hubungan tidak sepenuhnya mengikuti petunjuk Dale Carnegie tentang How to win Friends and Influence People, tentang siasat mengambil hati orang lain dan memperoleh hasil besar karena senyum di bibir. Kita tidak bisa mengkomputasikan cinta, hati nurani, desakan ingin kebenaran, belas kasih, uneg-uneg, dalam analisa "menguntungkan" atau "tidak". Tak mengherankan bila pada suatu hari seorang ayah yang melihat anaknya menan pelan sendiri di antara pohon-pohon, jadi tersentak: kita harus menyiasati kembali apa sebenarnya yang kita maksudkan dengan "pragmatisme". Anak yang menari itu tak ingin mencapai suatu target. Dewasa ini nampaknya "pragmatisme" telah agak mencong sehingga satu-satunya ukuran tentang hal ihwal ialah hasil perbuatan, terpenuhinya target, lalu diam. Pronocitro jatuh cinta pada Roro Mendhut dan menikmati cinta itu tanpa melihat apa nanti hasilnya. Ada kekonyolan di sana tapi ada kejujuran. Si perjaka tidak bilang: "Kita harus pragmatis, neng." Ucapan "kita harus pragmatis" ini seakan-akan hanya berarti "kita harus menghasilkan sesuatu." Jika hasil adalah segala-galanya, mungkin karena orang tidak tahu lagi dengan apa tindak-tanduknya harus diukur. Siapa pula yang mau mengukur, siapa yang bendak mengadili: orang tua yang sudah pikun? Hati nurani yang tak jelas? Rakyat atau orang lain yang membisu? Mahkamah? Sejarah? Tuhan? "Kita harus pragmatis" akhirnya terdengar seperti "kita harus bersedia main curang. *** MACBETH, dalam sandiwara Shakespeare, menjelang ahhir, berbicara sendiri kepada gelap: Hidup hanya wayang yang berjalan lakon yang meregang untuk satu malam cerita yang dikisahkan oleh si bodoh penuh riuh serta resah yang tak berarti apa-apa Itu terjadi ketika ia mendengar isterinya mati gila oleh rasa dosa. Itu terjadi setelah semua yang ia tindas ternyata pada bangkit dan semua yang ia bunuh ternyata mengacungkan dendam. Filsafatnya, akhirnya, adalah filsafat yang seram. Macbeth menjadi seorang nihilis. Ia merasa tak ada yang bisa dinilai dari hidupnya, tak ada yang bisa dikutuk atau dipuji dari perbuatannya, karena dasar untuk menilai ilu tak diakui. Hidup "tak berarti apa-apa." Kekejaman boleh. Toh kelak itu akan dilupakan. Dalam arti tertentu Macbeth pun seorang "pragmatis". Ia sebenarnya berkata bahwa pada mulanya adalah tindakan dan selebihnya perkara belakang. Ia barangkali hanya seorang bingung yang tak hendak dibawa kebingungan, seperti orang aman ini ketika orang meragukan dogma tentang kebenaran mutlak, ketika banyak ideologi dan ajaran moral ternyata cuma nisbi. Maklumlah, inilah aman ketika William James menawarkan pragmatisme dengan cukup meyakinkan sebagai "udara terbuka" yang menghadapi "dogma, pretensi tentang adanya kata akhir dalam hal kebenaran." Untunglah dalam kenyataan,pilihan tidak hanya terletak antara dogmatisme dengan nihilisme, antara kebekuan kaidah dengan tiadanya nilai-nilai sama sekali. Pragmatisme pun punya wajah lain jika kita tidak tahu apa sebenarnya yang disebut "baik sempurna", kita pun masih bisa menghargai proses ke arah penyempurnaan. Proses terus-menerus itulah mungkin tujuan hidup. Paling tidak, itulah kutipan dari Dewey.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar Lengkap Hari Libur Nasional dan Catatan Tentang Cuti Bersama 2022

    Sebanyak 16 hari libur nasional telah ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan untuk cuti bersama dan pergesera libur akan disesuaikan dengan kondisi.