Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Kata

image-profil

image-gnews
Iklan

Agus M. Irkham
Pegiat Literasi

Naga-naganya, pelajaran pertama untuk calon politikus adalah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebab, selama ini yang terucap seringkali justru menegaskan semakin lebarnya jarak mereka dengan realitas sosial yang ada. Muter-muter, berbelit-belit, lebay, abstrak, dan pemaksaan logika makna alias ngeyel.

Paling dekat dalam konteks kejadian seusai pilpres adalah terlontarnya kata "titisan Allah", "perkosa", dan "mendesak Allah". Barangkali yang dimaksudkan bukan titisan, melainkan representasi hadirnya kemanajerialan Tuhan di muka bumi. Mungkin yang dimaksudkan bukan pemerkosaan, melainkan dipaksa untuk menerima ketidakadilan-minimal dari segi si pengucapnya. Sangat boleh jadi yang dimaksudkan memohon dengan penuh harap bukan mendesak. Dalam pandangan sufistik, mendesak Tuhan itu tidak sopan, tidak punya adab, kurang ajar. Kecuali mendesak itu diberi tanda petik, sehingga orang menjadi mafhum bahwa kata itu bermakna konotatif.

Bahasa termasuk realitas sosial. Penggunaan kata titisan, mendesak, dan perkosa, dan entah belakangan apa lagi yang dipaksakan, menunjukkan ketidakpahaman terhadap realitas sosial. Dalam pandangan saya, kesalahan berucap bermula dari kesalahan berpikir. Kesalahan berpikir bermula dari kegagalan memaknai kata. Maka belajarlah bahasa. Karena dengan itu kita disebut manusia. Jadi rasa-rasanya kita tidak perlu bertanya apa yang sudah dilakukan oleh seseorang, jika berkata-kata saja salah melulu.

Aksi adalah tafsir atas makna kata. Kita dikepung oleh keadaan-keadaan yang kunci sebenarnya adalah semakin hilangnya pemahaman terhadap kata. Di Indonesia, dan bahkan di mayoritas negara di dunia, masalah-masalah yang dihadapi lahir dari keengganan orang untuk membaca (iqra). Malas meneroka epistemologi kata-kata kunci dalam kehidupan. Padahal sehebat-hebatnya prestasi orang, yang bermanfaat pada publik adalah inspirasi yang dibangkitkan bukan hanya oleh perbuatan, tapi juga oleh lebih banyak kata. Begitu kata Wimar dalam buku Sweet Nothings-nya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Hanya, ini yang tidak boleh luput, memahami kata saja tidak cukup. Kalau sebatas belajar berbahasa yang baik dan benar, nanti hasilnya sekadar politikus salon yang pintar bermain retorika. Nah, biar para politikus tidak berjarak dengan realitas sosial, mereka harus bekerja konkret dengan cara turun ke bawah bersama rakyat. Blusukan, mendengar dan belajar mengolah permasalahan bersama rakyat untuk menemukan jalan keluar demi kebaikan bersama.

Dalam pandangan salah satu kolega saya sesama pegiat budaya baca, Faiz Ahsoel-dalam sebuah diskusi dengan saya di media sosial--melalui turba seorang (calon) politikus tidak saja mampu bersimpati, tapi juga punya empati pada realitas sosial masyarakatnya. Kemudian otaknya menafsir akan berkata seperti apa, dan tindakan kerja konkretnya bagaimana. Kalau orang tua dulu bilang, antara niat, ucapan, dan tindakan itu harus sama.

Untuk bisa membuka hati dan berempati, salah satu jalannya adalah turba. Blusukan. Melihat langsung kondisi rakyatnya. Merasakan langsung kondisi yang dialami rakyatnya dan mengekspresikan hasil kesepakatan bersama rakyatnya untuk gugur gunung menuntaskan persoalan bersama yang tidak mementingkan kaum elite.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Thaksin Shinawatra Bayar Uang Jaminan untuk Bebas dari Penahanan atas Tuduhan Menghina Kerajaan

5 hari lalu

Mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra.Tempo/Imam Sukamto
Thaksin Shinawatra Bayar Uang Jaminan untuk Bebas dari Penahanan atas Tuduhan Menghina Kerajaan

Thaksin Shinawatra membayar uang jaminan demi bisa menghindari penahanan awal terkait tuduhan menghina Kerajaan Thailand.


Thailand Diprediksi Menghadapi Krisis Politik

6 hari lalu

Perdana Menteri Thailand, Srettha Thavisin. REUTERS
Thailand Diprediksi Menghadapi Krisis Politik

Permasalahan politik di Thailand saat ini melibatkan Srettha Thavisin hingga Thaksin Shinawatra yang bisa memantik krisis politik.


6 Tuntutan Aksi Mahasiswa Mei 1998, Reformasi Sudah Selesai?

12 Mei 2023

Ribuan mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR saat unjuk rasa menuntut Soeharto mundur sebagai Presiden RI, Jakarta, Mei 1998. Selain menuntut diturunkannya Soeharto dari Presiden, Mahasiswa juga menuntut turunkan harga sembako, dan cabut dwifungsi ABRI. TEMPO/Rully Kesuma
6 Tuntutan Aksi Mahasiswa Mei 1998, Reformasi Sudah Selesai?

Para mahasiswa pada aksi unjuk rasa Mei 1998 menyuarakan 6 tuntutan dalam reformasi. Apakah hari ini sudah selesai?


Kesepakatan dengan IMF Alot, Presiden Kais Saied Sebut Tunisia Bukan untuk Dijual

8 April 2023

Kais Saied, Presiden Tunisia. Sumber : Reuters
Kesepakatan dengan IMF Alot, Presiden Kais Saied Sebut Tunisia Bukan untuk Dijual

Presiden Saied menolak pemaksaan lebih jauh dari IMF karena bisa mengarah pada kemiskinan yang lebih lanjut di Tunisia.


Peru Terperosok ke Krisis Politik, Unjuk Rasa Berubah Jadi Kerusuhan

14 Desember 2022

Polisi menghadapi pengunjuk rasa yang memprotes untuk menuntut pembubaran Kongres dan mengadakan pemilihan demokratis daripada mengakui Dina Boluarte sebagai Presiden Peru, setelah penggulingan Presiden Peru Pedro Castillo, di Lima, Peru, 12 Desember 2022. REUTERS/Sebastian Castaneda
Peru Terperosok ke Krisis Politik, Unjuk Rasa Berubah Jadi Kerusuhan

Setidaknya tujuh orang tewas dalam unjuk rasa di Peru akhir pekan lalu saat aksi protes berubah menjadi kerusuhan.


Krisis Politik di Myanmar Jadi Sorotan di Pertemuan AMM

5 Agustus 2021

Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi  saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken di Departemen Luar Negeri di Washington, AS, Selasa, 3 Agustus 2021. Pertemuan tersebut membahas berbagai isu strategis antara Amerika Serikat dan Indonesia. Jose Luis Magana/Pool via REUTERS
Krisis Politik di Myanmar Jadi Sorotan di Pertemuan AMM

Menteri Luar Negeri RI secara terbuka menyebut isu Myanmar menjadi masalah yang paling banyak di bahas di pertemuan AMM


Netanyahu Perkenalkan Kabinet Baru ke Parlemen Israel

18 Mei 2020

Benny Gantz dan Benjamin Netanyahu.[Times of Israel]
Netanyahu Perkenalkan Kabinet Baru ke Parlemen Israel

PM Netanyahu dan rival politik Benny Gantz membentuk koalisi pemerintahan baru bersatu untuk mengakhiri konflik politik berkepanjangan.


Krisis Turki, Bagaimana Dampaknya Terhadap Pasar Modal Indonesia?

13 Agustus 2018

Ilustrasi perang dagang Amerika Serikat dan Turki. Gmfus.org
Krisis Turki, Bagaimana Dampaknya Terhadap Pasar Modal Indonesia?

Risiko sistemik dikhawatirkan akan mengakibatkan krisis Turki mempengaruhi IHSG.


Perludem Sebut Anak Muda Masih Jadi Penonton Politik

25 Maret 2018

Ilustrasi Tempat Pemungutan Suara (TPS) bertema unik. TEMPO/Gunawan Wicaksono
Perludem Sebut Anak Muda Masih Jadi Penonton Politik

Perludem pun menilai sistem politik yang ada di Indonesia tak ramah bagi anak muda sehingga mereka sulit terjun di dunia politik.


Jokowi: 6 Bulan Terakhir Kita Buang-buang Energi Tidak Berguna

23 Mei 2017

Presiden Jokowi menyaksikan Latihan Gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) 2017 di Tanjung Datuk, Natuna, Kepulauan Riau, 19 Mei 2017. Puspen TNI
Jokowi: 6 Bulan Terakhir Kita Buang-buang Energi Tidak Berguna

Presiden Jokowi mengatakan, 6-8 bulan ini, energi dihabiskan untuk banyak hal tidak berguna, saling hujat, berdebat, dan membuat suhu politik memanas.